Benarkah Ilmu Dunia Termasuk Ilmu yang Tidak Bermanfaat?

0
1249

BincangSyariah.Com – Seringkali kita jumpai, baik orangtua kita saat di rumah, atau pun tetangga-tetangga kita ketika bertemu di jalan, mereka mendoakan “Mudah-mudahan ilmunya bermanfaat yaa”. Doa dari mereka ini boleh jadi sebagai bentuk kekaguman, apresiasi, dan semangat untuk kita di saat-saat masa belajar.

Harapan mereka selepas kita menyelesaikan studi, semoga bisa mengambil peranan di rumah, masyarakat, bahkan dunia. Besar harapan mereka agar ilmu yang kita pelajari berguna dan bisa mereka rasakan. Mereka tidak ingin kecewa melihat anaknya lama menempuh waktu studi, namun ketika pulang, tidak memberi dampak, atau bahasa mereka “tidak bermanfaat ilmunya”.

Bahkan bukan hanya mereka yang demikian, Nabi saw. pun sangat menghindari, baik untuk dirinya maupun sahabat-sahabatnya dari ilmu yang tidak bermanfaat. Dalam salah satu riwayat, Nabi saw. selalu mengajarkan para sahabatnya dengan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَعِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَدَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak merasa puas, ilmu yang tidak bermanfaat, dan doa yang tidak diijabah.” (H.R. Muslim, Abu Dawud, Nasa’i)

Lalu, yang jadi pertanyaannya adalah, sebenarnya ilmu yang tidak bermanfaat itu seperti apa?

Para ulama beragam dalam mengemukakan makna ilmu yang tidak bermanfaat itu. Al-Suyuthi dalam Hasyiyah ‘ala Sunan Ibn Majah misalnya, ia mengatakan bahwa ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak bisa mengindahkan akhlak. Demikian juga al-Munawi dalam al-Taisir bi Syarh Jami’ al-Shaghir mengatakan, di samping tidak bisa mengindahkan akhlak, ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak diamalkan dan tidak dibolehkan dalam syari’at.

Baca Juga :  Mengenal Lebih Dalam Makna Sunah (2-Habis)

Bahkan sebagian ulama, seperti al-Thibi sebagaimana dikutip oleh al-Qari’ dalam Mirqat al-Mafatih mengatakan bahwa ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak dibutuhkan dalam urusan agama.

Ulasan para ulama di atas dianggap problematis, karena dinilai lebih mengarah kepada ilmu-ilmu yang bernuansa agama, bahkan ada yang mensuperioritaskan ilmu agama dan mengenyampingkan ilmu non-agama.

Lantas, benarkah ilmu-ilmu di luar ilmu agama, seperti Matematika, Geografi, Kedokteran dan lainnya dianggap sebagai ilmu yang tidak bermanfaat?

Ibn ‘Utsaimin dalam Syarh Riyadh al-Shalihin cenderung menganggap ilmu-ilmu di luar ilmu agama sebagai ilmu yang juga bermanfaat. Hanya saja, ilmu-ilmu agama lebih tinggi posisinya dari ilmu non agama, karena orang-orang yang ahli di bidang ilmu non agama, seperti Dokter, Psikolog, dan lainnya, ilmunya hanya sebatas pada kehidupan dunia, sedangkan ilmu agama, bermanfaat untuk dunia dan akhirat.

Berbeda dengan Ibn ‘Utsaimin, Ibn Baz dalam sesi tanya-jawab yang dilansir dalam website resminya binbaz.org menganggap bahwa ilmu dunia sejajar posisinya dengan ilmu agama, artinya keduanya sama-sama bermanfaat. Orang yang ahli di bidang Matematika, ilmunya bermanfaat. Orang yang ahli di bidang mebel, ilmunya bermanfaat. Orang yang ahli di bidang besi juga ilmunya bermanfaat.

Menurutnya, ilmu agama tidak harus diposisikan tinggi di atas ilmu dunia, karena berapa banyak kita jumpai hari ini, para sarjana Barat atau yang kita kenal dengan Orientalis, mereka tekun sekali mempelajari ilmu-ilmu agama, terutama ilmu agama Islam, meskipun mereka bukan muslim, bahkan mereka menghabiskan umurnya untuk mempelajari ilmu-ilmu Islam. Akan tetapi, mereka gunakan ilmu itu untuk menjatuhkan agama Islam atau ilmunya sekedar sebagai pengetahuan saja. Itulah alasan mengapa Ibn Baz cenderung mensejajarkan ilmu dunia dengan ilmu agama atau akhirat.

Baca Juga :  Al-Biruni: Ilmuwan Muslim Polymath asal Uzbekistan

Pandangan Ibn Baz ini cukup menarik, karena jika kita perhatikan, semua ilmu itu bermanfaat, terlepas apakah itu ilmu agama atau bukan. Seorang Dokter jika ilmunya diniatkan untuk menolong orang lain atau seorang Astronot di samping ilmunya digunakan untuk pengetahuan, juga digunakan untuk memantapkan hati atas kebesaran Tuhan, maka boleh jadi ilmunya bermanfaat, bukan hanya di dunia, namun juga di akhirat.

Oleh karena itu, benar apa yang dikatakan oleh al-Ghazali bahwa ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang disalahgunakan, ilmu yang membahayakan diri sendiri dan orang lain, serta ilmu yang dijadikan perantara untuk melakukan keburukan.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here