Benarkah Hubungan Intim pada Sepuluh Malam Terakhir Ramadan Dilarang?

1
1685

BincangSyariah.Com – Sepuluh malam terakhir bulan Ramadan merupakan momen spesial bagi umat Muslim, karena pada malam ini pahala dilipatgandakan oleh Allah Swt. bagi hamba-Nya yang beribadah dengan ikhlas. Karena itu, Rasulullah Saw. pun beriktikaf di masjid untuk fokus beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan sebagaimana riwayat Aisyah yang menyatakan demikian:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرَ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Nabi itu ketika sudah masuk sepuluh malam terakhir Ramadan maka ia menjaga jarak dari istri-istirnya, menghidupkan malam harinya (untuk ibadah), dan membangunkan keluarganya. (HR Bukhari).  

Secara literal, شَدَّ مِئْزَرَهُ dalam hadis di atas sebenarnya bermakna ‘mengencangkan sarungnya’. Menurut al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qari, potongan kalimat tersebut metafora dalam bahasa Arab yang berarti ‘tidak melakukan hubungan intim’ dan ‘fokus beribadah’. Menurut al-Qurtubi, seperti dikutip al-‘Aini, kalimat tersebut metafora untuk makna beriktikaf.

Dari hadis ini dipahami bahwa Nabi Saw. pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan itu benar-benar fokus melakukan ibadah, mendekatkan diri pada Allah Swt. Lantas, apakah melakukan hubungan intim suami-istri pada sepeuluh terakhir malam Ramadan itu terlarang, karena Nabi tidak melakukannya?

Tentu tidak demikian. Hal di atas sifatnya hanya penekanan anjuran saja bahwa sebaiknya di sepuluh malam terakhir itu umat Muslim dianjurkan untuk fokus iktikaf di masjid. Kebolehan melakukan hubungan intim pada sepuluh malam terakhir Ramadan itu dijelaskan dalam surah al-Baqarah, Allah Swt. berfirman:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلىَ نِسَائِكُمْ الآية

Dihalalkan bagi kalian pada malam puasa (Ramadan) melakukan hubungan suami istri dengan pasangan kalian …. (QS. Al-Baqarah: 187).

Turunnya ayat ini dilatarbelakangi atas keberatan dan ketidaktahuan sebagian sahabat bahwa puasa itu hanya sejak terbitnya fajar sadiq hingga tenggelamnya matahari. Sebagian sahabat berbuka puasa pada waktu Magrib kemudian setelah Isya dilanjutkan kembali puasanya sampai menjelang waktu sahur. Jadi, di antara waktu Isya hingga sahur, mereka tidak makan, minum, dan melakukan hubungan suami istri. Demikian penjelasan ’Ibnu ‘Asyur menjelasakn dalam at-Tahrir wat Tanwir.

Oleh karena itu, melakukan hubungan suami istri pada sepuluh malam terakhir itu tidak dilarang. Hanya saja, pada malam-malam tersebut sebaiknya umat Muslim itu fokus beribadah. Wallahu a’lam.

Baca Juga :  Tiga Golongan yang Dijamin Masuk Surga oleh Rasulullah

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here