Benarkah Filsafat Islam Sudah Tidak Relevan?

1
99

BincangSyariah.Com – Relevansi filsafat Islam kerap dipertanyakan. Banyak orang beranggapan bahwa filsafat Islam sudah tidak relevan lagi sebab tak bisa dicocokkan dengan isu-isu terkini seperti isu teknologi dan situasi politik dunia. Sebelum mengklaim hal tersebut, ada baiknya kita mendudukkan definisi filsafat Islam terlebih dahulu.

Filsafat Islam bisa diartikan sebagai perkembangan pemikiran umat Islam dalam masalah ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam semesta yang disinari ajaran Islam. Beberapa definisi filsafat Islam sendiri telah ditulis secara khusus seperti apa yang dikemukakan para penulis Islam sebagai berikut:

Pertama, Ibrahim Madkur. Ia mengemukakan bahwa filsafat Islam adalah pemikiran yang lahir dalam dunia Islam untuk menjawab tantangan zaman yang meliputi Allah Swt. dan alam semesta, wahyu dan akal, agama dan filsafat.

Kedua, ada Ahmad Fu’ad Al-Ahwany yang menyatakan bahwa filsafat Islam adalah pembahasan tentang alam dan manusia yang disinari ajaran Islam. Ajaran Islam menjadi ajaran penting di sini yakni sebagai landasan atau pijakan dalam berfilsafat.

Ketiga, menurut Muhammad ‘Athif Al-‘Iraqy, filsafat Islam secara umum mencakup ilmu kalam, ushul fiqh, ilmu tasawuf, dan ilmu pengetahuan lainnya yang diciptakan oleh intelektual Islam. Pengertian secara khusus ialah pokok-pokok atau dasar-dasar pemikiran filosofis yang dikemukakan para filosof Muslim.

Tiga pengertian yang telah disebutkan menjelaskan bahwa filsafat Islam adalah filsafat yang bermuatan religius atau keagamaan tapi tidak mengabaikan persoalan-persoalan kefilsafatan. Jadi, pengakuan tentang adanya filsafat Islam harus dilihat dari ajaran pokok agamanya. Sebab, apabila tidak ada Al-Qur’an sebagai sumber dorongan, maka filsafat dalam dunia Islam dalam arti yang sebenarnya tidak akan pernah ada.

Selain itu, ada juga pernyataan dari Sayyed Hossein Nasr yang mengatakan bahwa ulama Islam di masa lampau mempelajari alam sekitarnya tidak semata-semata karena dorongan jiwa ilmiah yang terdapat dalam diri mereka. Ada dorongan yang lebih besar yakni ajaran agama untuk mengetahui hikmat Pencipta alam ciptaan-Nya dan untuk memperhatikan ayat-ayat Allah Swt. dalam alam semesta.

Baca Juga :  Mi'yar al-'Ilm Karya Imam al-Ghazali

Kita mesti bersyukur, umat Islam telah berhasil menyusun filsafat yang sejalan dengan prinsip agama dan kondisi sosial-politik. Filsafat Islam menduduki posisi kunci dalam sejarah pemikiran filsafat di dunia dan telah berhasil menjembati filsafat Yunani ke dunia barat yang ketika itu masih diselimuti kegelapan.

Di Indonesia sendiri, Haidar Bagir berpendapat dalam bukunya Islam Tuhan Islam Manusia: Agama dan Spiritual di Zaman Kacau bahwa Filsafat Islam atau Filsafat Timur bisa memainkan kembali perannya dengan berporoskan kosmologi tradisional dalam mempersatukan dan merumuskan pandangan dunia yang lebih komprehensif dan holistik. Filsafat Islam juga mesti mengembalikan kepada manusia tentang kehidupan yang lebih bermakna dan bertujuan pula.

Haidar percaya, apabila umat Islam menguatkan filsafat Islamnya, bukan tidak mungkin umat Islam akan kembali mencapai kejayannya dengan banyak ilmuwan yang lahir dalam kerajaan-kerajaan Islam di masa lalu. Tapi, mimpi itu tentu tak bakal terwujud jika umat Islam tidak bersungguh-sungguh.

Mengacu pada beberapa hal di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa filsafat Islam masih sangat relevan. Kunci relevansinya adalah dengan mengelaborasi filsafat Islam dengan masalah-masalah kekinian yang melanda dunia, bukan malah menjadikan teori-teori besar dari Barat sebagai tumpuan. Filsafat Islam semestinya mendedah teori-teori tersebut dalam naungan ajaran agama Islam.

Kini, yang menjadi pertanyaan bukan lagi relevansi filsafat Islam akan tetapi kesanggupan umat Islam untuk mengembangkan filsafat Islam lebih jauh lagi. Seberapa banyak orang yang mau menjadikan filsafat Islam sebagai fokus keilmuan dan mendedikasikan diri berkecimpung di dalamnya?[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here