Benarkah Dosa pada Bulan Ramadan Dilipatgandakan?

0
1661

BincangSyariah.Com – Bulan Ramadan adalah bulan yang mulia, bulan yang penuh keberkahan, bulan pengampulan, bulan dikabulkan doa, bulan terbukanya pintu surga, bulan tertutupnya pintu neraka, bulan setan-setan dibelenggu, bulan turunnya al-Quran, bulan yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, dan pahala amal dilipatgandakan.

Seyogianya setiap umat Islam menggunakan momen Ramadan dengan sebaik-baiknya, untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah.

Namun pada kenyataannya ada saja yang justru mengotori kemuliaan bulan Ramadan dengan melakukan berbagai kemaksiatan.

Kenyataan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan, jika amal kebaikan dilipatgandakan pada bulan Ramadan, lalu bagaimana dengan kemaksiatan, apa dosa pada bulan Ramadan dilipatgandakan? (Baca: Setan Diikat di Bulan Ramadhan, Kenapa Maksiat masih Terjadi?)

Referensi Pertama, Dosa Dilipatgandakan

Menjawab pertanyaan tersebut, ada dua referensi yang berbeda. Referensi pertama menginformasikan, siapa saja yang bermaksiat pada bulan Ramadan, dosanya akan dilipatgandakan.

Taqiyyuddin Abdul Ghani al-Maqdisi dalam Fadhail Ramadhan meriwayatkan sabda Rasulullah:

عَنْ أُمِّ هَانِئٍ قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ أُمَّتِي لَنْ تُخْزَى مَا أَقَامُوْا صِيَامَ شَهْرِ رَمَضَانَ»، فَقَالَ رَجُلٌ: مَا خِزْيُهُمْ فِي إِضَاعَةِ شَهْرِ رَمَضَانَ؟ قَالَ : «اِنْتِهَاكُ الْمَحَارِمِ فِيْهِ، مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً، زَنَى أَوْ شَرِبَ، لَمْ يَتَقَبَّل اللهُ مِنْهُ شَهْرَ رَمَضَانَ، وَلَعَنَهُ اللهُ وَالْمَلَائِكَةُ وَالسَّمَوَاتُ إِلَى مِثْلِهِ مِنَ الْحَوْلِ، فَإِنْ مَاتَ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَ شَهْرَ رَمَضَانَ، فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ حَسَنَةٌ يَتَّقِي بِهَا النَّارَ، فَاتَّقُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ، فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ تُضَاعَفُ فِيْهِ مَا لَا تُضَاعَفُ فِي سِوَاهُ، وَكَذَلِكَ السَّيِّئَاتُ»

Dari Ummi Hani’ berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya umatku tidak akan dihinakan selama mereka menegakkan puasa Ramadan”. Kemudian seorang laki-laki bertanya, “Apakah kehinaan mereka karena menyia-nyiakan bulan Ramadan?” Rasulullah bersabda, “Melanggar perkara yang diharamkan pada bulan Ramadan. Siapa saja yang melakukan keburukan; zina atau minum khamr, maka Allah tidak menerima ibadah Ramadannya. Allah akan melaknatnya, juga malaikat dan langit, sampai tahun berikutnya. Apabia dia mati sebelum bertemu Ramadan berikutnya, maka dia tidak lagi memiliki kebaikan di sisi Allah yang bisa menjauhkannya dari api neraka. Berhati-hatilah dengan bulan Ramadan, sesungguhnya kebaika dilipatgandakan dalam bulan Ramadan, dengan kelipatan yang berbeda dari bulan-bulan lain. Demikian pula amal keburukan akan dilipatgandakan.

Baca Juga :  Gerhana Matahari Cincin Terjadi pada 21 Juni 2020

Muhammad bin Muflih al-Maqdisi al-Hanbali dalam al-Adab asy-Syar’iyyah mengutip perkataan Syaikh Taqiyuddin, “Maksiat yang dilakukan pada hari-hari mulia dan tempat-tempat mulia, maka dosa beserta siksaannya akan diberatkan oleh Allah, sesuai dengan kadar kemuliaan waktu dan tempat tersebut.”

Musthafa bin Sa’ad bin Abduh as-Suyuthi al-Hanbali dalam Mathalib Ulinnuha mengatakan, “Kebaikan dan keburukan itu dilipatgandakan di tempat yang mulia seperti: Makkah, Madinah, Baitul Muqaddas dan masjid. Demikain pula pada waktu yang mulia, seperti: hari jum’at, bulan-bulan mulia, dan bulan Ramadan.”

Maksud dari Melipatgandakan Dosa

Pelipatgandaan dosa sebagaimana disebutkan di atas memungkinkan dua pengertian, yaitu dari segi kuantitas dan dari segi kualitas.

Pengertian pertama bermakna, satu dosa yang dilakukan bisa dicatat menjadi berlipat ganda sampai tujuh ratus kali lipat. Pengertian ini didasarkan pada firman Allah kepada istri-istri Nabi:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ

Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat…” (Q.S. al-Ahzab [33] : 30.

Sedangkan pengertian kedua bermakna, satu dosa yang dilakukan tetap tercatat satu, namun menjadi satu dosa yang berat.

Pengertian ini diperkuat dengan pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud:

إنَّمَا أَرَادُوا مُضَاعَفَتَهَا فِي الْكَيْفِيَّةِ دُونَ الْكَمِّيَّةِ

Yang mereka kehendaki adalah bertambahnya dosa dari segi kualitas, bukan kuantitas”.

Pengertian tersebut semakna dengan yang dijelaskan oleh al-Khazin dalam tafsirnya ketika menjelaskan alasan bulan Rajab, Dzul Qa’dah, Dzul Hiijjah dan Muharram disebut dengan asyhur hurum (bulan-bulan mulia), dia mengatakan:

…وَلِأَنَّ الْحَسَنَاتِ وَالطَّاعَاتِ فِيْهَا تَتَضَاعَفُ وَكَذَلِكَ السَّيِّئَاتُ أَيْضاً أَشَدُّ مِنْ غَيْرِهَا فَلَا يَجُوْزُ اِنْتِهَاكُ حُرْمَةِ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ

Baca Juga :  Fikih Ekonomi (4): Kepemilikan Harta Suami Istri

“…dan karena kebaikan dan ketaatan dalam bulan tersebut akan dilipatgandakan, begitu juga amal buruk lebih berat dibandingkan dari yang dilakukan di bulan lain. Sehingga tidak diperbolehkan mengotori kemuliaan bulan mulia tersebut.”

Referensi Kedua, Dosa tidak Ditulis pada Bulan Ramadan

Berbeda dengan pendapat di atas, dalam Durratun Nasihin justru dijelaskan, kesalahan yang dilakukan dalam bulan Ramadan tidak akan dicatat oleh Malaikat, karena bulan Ramadan adalah bulan pengampunan. Utsman bin Hasan al-Khaubari mengutip sabda Rasulullah:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ: إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى مَنْ ذَا الَّذِي يُحِبُّنَا فَنُحِبُّهُ, وَمَنْ ذَا الَّذِي يَطْلُبُنَا فَنَطْلُبُهُ، وَمَنْ ذَا الَّذِيْ يَسْتَغْفِرُنَا فَنَغْفِرُ لَهُ بِحُرْمَةِ رَمَضَانَ، فَيَأْمُرُ اللهُ تَعَالَى الكِرَامَ الْكَاتِبِيْنَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِأَنْ يَكْتُبُوْا لَهُمُ الْحَسَنَاتِ وَلَا يَكْتُبُوْا عَلَيْهِم السَّيِّئَاتِ وَيَمْحُو اللهِ تَعَالَى عَنْهُمْ ذُنُوْبَهُمْ اَلْمَاضِيَةَ.

Rasulullah Saw bersabda, “Pada malam pertama bulan Ramadan, Allah Ta’ala berfirman, “Siapa saja yang menyintaiKu, maka Aku akan menyintainya. Siapa saja yang mencariKu, maka Aku akan mencarinya. Siapa saja yang memohon ampun kepadaKu, maka Aku akan mengampuninya berkat kemuliaan Ramadan. Kemudian pada bulan Ramadan, Allah memerintahkan Malaikat Pencatat Amal, agar mencatat kebaikan umat Muhamamad, dan tidak mencatat kejelekan mereka, dan Allah akan menghapus dosa-dosa mereka yang telah lalu”.

Menyelaraskan Pemahaman

Dua informasi di atas bersifat kontradiktif, namun mungkin bisa dicari benang merahnya.

Pertama, hadis yang yang menceritakan bahwa dosa pada bulan Ramadan dilipatgandakan, merupakan hadis daif. Selain itu, di dalamnya hanya menyebutkan dosa-dosa besar, yaitu: zina dan minum khamr.

Dengan demikain, mengarahkan pada sebuah pengertian bahwa dosa yang dilipatgandakan adalah dosa-dosa besar.

Baca Juga :  Hukum Merayakan Malam Tahun Baru Masehi

Kedua, hadis yang menceritakan, kesalahan pada bulan Ramadan tidak akan dicatat malaikat, tidak ditemukan sumbernya dalam kitab-kitab hadis. Namun jika benar itu adalah sabda Rasulullah, mungkin yang dikehendaki adalah dosa-dosa kecil.

Walapun ada keterangan tersebut, kita tidak boleh menyepelekan dosa sekecil apa pun, terlebih di bulan Ramadan yang mulia ini, karena menyepelekan dosa kecil adalah dosa besar.

Sebaiknya, setiap mukmin melihat setiap dosanya, seperti gunung yang berada di atas dirinya, dan dikhawatirkan jatuh menimpa. Tidak seperti orang munafik, yang melihat dosanya seperti seperti lalat yang hinggap di hidung, kemudian dia mengusirnya.

Sebaiknya, seorang mukmin tidak melihat kecilnya dosa, tapi melihat kemuliaan bulan Ramadan dan melihat keagungan Allah. Dengan ini, mereka tidak akan berani mendurhakai Dzat yang Maha Agung di bulan Ramadan yang mulia, sekecil apa pun dosa tersebut. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here