Benarkah Bulan Syawal Menjadi Bulan Kesunnahan Menikah?

0
1364

BincangSyariah.Com – Bagi kaum jomblo yang layak menikah, kehadiran bulan Syawal menjadi bulan yang menakutkan. Mereka dituntut siap mental, karena harus melihat kawan-kawan seusianya melangsungkan pernikahan.

Maraknya pernikahan di bulan Syawal, khususnya di Indonesia tak lepas dari anggapan bahwa bulan Syawal menjadi bulan kesunnahan menikah. Hal ini tak dapat dipungkiri, mengingat para ulama juga menyatakan demikian.

Misalnya saja Imam al-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim-nya, ia memberi judul salah satu pembahasan dengan Bab Istihbab al-Tazawwuj wa al-Tazwij fi Syawwal (Bab tentang anjuran menikah di bulan Syawwal) [Bagi ulama Syafi’iyah, istilah Istihbab/Mustahab diartikan dengan perkara yang dilakukan Nabi sesekali. Bisa pula diartikan perkara yang tidak memiliki nash khusus, namun dianggap baik dan disukai].

Hadis yang dijadikan dasar pembentukan bab tersebut adalah riwayat Aisyah r.a. berikut.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَت: تَزَوّجَنِي رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم فِي شَوّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوّالٍ، فَأَيّ نِسَاءِ رَسُولِ اللّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنّي؟ قَالَ: وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوّالٍ. (رواه مسلم)

Aisyah berkata: “Rasulullah saw. menikahiku pada bulan Syawal, dan menjalin rumah tangga bersamaku pada bulan Syawal, maka tidak ada di antara istri-istri Rasulullah saw. yang lebih beruntung daripadaku.” Perawi berkata: “Oleh karena itu, Aisyah menganjurkan menikahkan perempuan di bulan Syawal.” (HR. Muslim)

Dari riwayat inilah, para ulama menyatakan kesunnahan nikah di bulan Syawwal, sehingga kita menyebut bulan Syawal sebagai bulan nikah dan kekeuh (harus) melaksanakan pernikahan di bulan Syawal.

Pandangan demikian tidak sepenuhnya harus kita “Iya”-kan. Imam al-Syaukani dalam kitabnya Nail al-Authar, memberikan tanggapan berbeda soal ini:

Baca Juga :  Pekerja dalam Pandangan Islam

فَإِنَّهُ لَا يَدُلُّ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ لِأَنَّهُ حُكْمٌ شَرْعِيٌّ يَحْتَاجُ إلَى دَلِيلٍ وَقَدْ تَزَوَّجَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنِسَائِهِ فِي أَوْقَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ عَلَى حَسَبِ الِاتِّفَاقِ وَلَمْ يَتَحَرَّ وَقْتًا مَخْصُوصًا ، وَلَوْ كَانَ مُجَرَّدُ الْوُقُوعِ يُفِيدُ الِاسْتِحْبَابَ لَكَانَ كُلُّ وَقْتٍ مِنْ الْأَوْقَاتِ الَّتِي تَزَوَّجَ فِيهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسْتَحَبُّ الْبِنَاءُ فِيهِ وَهُوَ غَيْرُ مُسَلَّمٍ .

(Hadis riwayat Aisyah di atas) tidak bisa dijadikan dalil anjuran menikah di bulan Syawal, sebab berdasarkan kesepakatan ulama bahwa Nabi saw. menikahi istri-istrinya yang lain di waktu yang berbeda-beda (bukan hanya Syawal), tidak tertuju pada satu waktu saja. Andaikata riwayat Aisyah itu mengindikasikan bulan anjuran menikah, maka bulan-bulan pernikahan Nabi dengan istri-istrinya yang lain juga layak dijadikan anjuran.

Argumen Imam al-Syaukani cukup menarik. Sebab, jika kita melihat literatur sejarah, kita dapati bahwa Nabi saw. menikah bukan hanya di bulan Syawal, tetapi di bulan lainnya juga, seperti Khadijah yang dinikahi di bulan Rabi’ul Awal, Hafshah dan Juwairiyah di bulan Sya’ban, Zainab dan Maimunah di bulan Dzul Qa’dah, dan Shafiyyah di bulan Muharram. Inilah alasan mengapa Imam al-Syaukani menolak bulan Syawal sebagai bulan dianjurkannya menikah.

Bahkan jika kita telusuri lebih jauh, latar belakang pernikahan Nabi dengan Aisyah di bulan Syawal patut dipertimbangkan. Ibn Manzhur dalam kitab Lisan al-‘Arab, mengatakan:

وكانت العرب تَطَيَّر من عَقْد المناكح فيه وتقول إِن المنكوحة تمتنع من ناكحها كما تمتنع طَروقة الجَمَل إِذا لقِحَت وشالَت بذَنَبها فأَبْطَل النبيُّ صلى الله عليه وسلم طِيَرَتَهم وقالت عائشة رضي الله عنها تَزَوَّجَني رسولُ الله صلى الله عليه وسلم في شَوَّالٍ…

Dahulu orang-orang ‘Arab Jahiliyyah menganggap sial pernikahan di bulan Syawal, karena dianggap pihak perempuan akan menolak pihak lelaki sebagaimana menolaknya unta-unta untuk dikawini dengan mengisyaratkan mengangkat ekornya. Lalu, Nabi saw. menolak anggapan sial tersebut dan menikahi Aisyah di bulan Syawal. (Baca: Arti Bulan Syawal dalam Bahasa Arab)

Baca Juga :  Hikmah Menikah Dapat Menjadikan Kaya

Mengetahui alasan pernikahan Nabi dengan ‘Aisyah di bulan Syawal ini, Syeikh ‘Abdul Hamid Toumiyat al-Jazairi mengatakan, sebagaimana yang dilansir dalam Nebrasselhaq.com:

فإذا كان المسلم يعيش في بيعة يتطيرون فيها من شهر شوال، فهناك يستحب الزواج فيه، أما في غير تلك البيئة فهو مباح كسائر الشهور، بدليل أن الزواج النبي صلى الله عليه وسلم من نسائه الأخريات لم يكن بشوال، وكذا الصحابة رضي الله عنهم.

Apabila seorang muslim yang tinggal di tengah lingkungan masyarakat yang meyakini kesialan nikah di bulan Syawal, maka nikah di bulan Syawal menjadi ‘dianjurkan’. Sedangkan orang yang lingkungannya tidak meyakini hal itu, maka dihukumi Mubah (boleh) seperti bulan-bulan lainnya, dengan dalil bahwasanya Nabi saw. menikahi istri-istrinya yang lain tidak di bulan Syawal, begitu juga para sahabat Nabi.

Pandangan Syeikh Abdul Hamid ini cukup fleksibel, mengingat ada suatu kaidah Ushul:

الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما

Hukum itu tergantung illatnya, baik dari sisi wujudnya, maupun ketiadaan illatnya.

Alasan Nabi saw. menikahi Aisyah di bulan Syawal karena adanya mitos Jahiliyah yang menganggap sial pernikahan di bulan Syawal. Oleh karena itu, nikah di bulan Syawal dianjurkan untuk masyarakat Islam saat itu. Namun, jika alasan itu tidak ada, maka hukumnya berubah menjadi Mubah (boleh).

Dari sini, menurut penulis, pandangan yang dikemukakan oleh Imam al-Syaukani dan Syeikh Abdul Hamid Taumiyat lebih kuat dibanding pandangan sebagian ulama mengenai dianjurkannya nikah di bulan Syawal. Sebab bagi ulama yang menganjurkan, mereka hanya mengandalkan satu riwayat saja (pernikahan Aisyah), sedangkan pandangan Imam al-Syaukani dan Syeikh Abdul Hamid melihat dari keseluruhan riwayat dan fakta sejarah mengenai pernikahan Nabi dengan istri-istrinya yang lain, serta didukung oleh diketahuinya alasan pernikahan Aisyah di bulan Syawal.

Baca Juga :  Apakah Boleh Anak Sendiri Menikah dengan Anak Tiri?

Dari sini, kita ketahui bahwa spirit Nabi saw. menikah di bulan Syawal sebenarnya bukanlah untuk menganjurkan umatnya menikah di bulan Syawal, melainkan spiritnya adalah menepis mitos-mitos masyarakat yang tidak berdasar.

Oleh karena itu, kita tidak perlu khawatir menikah di selain bulan Syawal, karena takut dianggap tidak melaksanakan Sunnah. Akan tetapi, yang perlu kita perjuangkan adalah mematahkan mitos-mitos leluhur yang tak berdasar, khususnya di Indonesia, sebagaimana anggapan para leluhur yang mengatakan bahwa pernikahan anak pertama dengan anak ketiga dilarang karena akan menimbulkan kesialan seperti tidak akur, bercerai hingga ditinggal mati. Selain itu, ada juga perhitungan Weton tiap mempelai, jika dihitung dan dinilai tidak cocok, maka pernikahannya akan sial atau dibatalkan. Dan  beberapa contoh lainnya seperti kesialan jika menikah dengan orang berbeda suku.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here