Benarkah Buah Pala Haram?

0
222

BincangSyariah.Com – Benarkah buah pala haram? Tulisan ini merupakan respon terhadap video seorang ustadz bernama Ust. Abdurrahman Al-Amiry yang menyatakan bahwa salah satu contoh zat padat yang haram adalah buah pala. Ia kemudian menambahkan, bahwa buah pala haram menurut empat mazhab? Tapi, benarkah demikian?

Buah Pala (Myristica fragrans) pertama kali ditemukan di Pulau Banda, Maluku. Buah ini, adalah diantara sekian rempah-rempah yang sempat orang-orang Eropa perebutkan hingga terjadilah penjajahan di bumi Nusantara dan wilayah lain seperti India dan Afrika. Bagi masyarakat Eropa, rempah-rempah bahkan bisa menjadi sebuah prestige secara sosial karena untuk mendapatkannya sangat tidak mudah sehingga harganya tinggi sekali. Salah satu penggunaannya adalah untuk mengawetkan daging ketika mereka memasuki musim dingin.

Di Indonesia sendiri, buah pala juga banyak digunakan sebagai penyedap masakan. Bahkan bisa juga digunakan sebagai obat, karena minyak yang dihasilkan dari biji pala bisa menghasilkan rasa hangat untuk tubuh. Karenanya, ia sering digunakan sebagai minyak untuk mengurut sendi atau urat yang terkilir (keseleo).

Kembali ke pertanyaan awal, benarkah buah pala haram? Setelah penulis telusuri, perbincangan tentang keharaman buah pala, atau dalam bahasa Arab disebut (jauzatu at-thib) ini, merujuk kepada diantaranya pendapat Ibn Hajar al-Haitami, salah seorang ulama dalam mazhab Syafi’i. Pendapat ini diantara yang juga menjadi alasan ustadz di dalam video tersebut untuk mengatakan kalau buah pala haram menurut empat mazhab.

“عندما حدث نزاع فيها بين أهل الحرمين ومصر واختلفت الآراء في حلها وحرمتها طرح هذا السؤال : هل قال أحد من الأئمة أو مقلِّديهم بتحريم أكل جوزة الطيب ؟

ومحصل الجواب ،- كما صرح به شيخ الإسلام ابن دقيق العيد – أنها مسكرة ، وبالغ ابن العماد فجعل الحشيشة مقيسة عليها ، وقد وافق المالكية والشافعية والحنابلة على أنها مسكرة فتدخل تحت النص العام : (كل مسكر خمر ، وكل خمر حرام) ، والحنفية على أنها إما مسكرة وإما مخدرة ، وكل ذلك إفساد للعقل ، فهي حرام على كل حال” انتهى .

Baca Juga :  Setelah Ditraktir Makan, Ini Doa Yang Dibaca Nabi

Ketika terjadi perdebatan di persoalan ini antara ulama Haramain (Mekkah-Madinah) dan ulama Mesir, dan ada perbedaan pendapat apakah halal atau haram soal buah pala itu. Lalu ada satu pertanyaan muncul: “apakah ada diantara imam Mazhab atau pengikutnya (Muqallid) yang mengatakan haramnya mengatakan buah pala?

Jawabannya: Seperti ditegaskan oleh Ibn Daqiqil al-‘Id: “buah pala itu memabukkan. Ibn al-‘Imad bahkan sampai-sampai menyamakannya dengan hasyiyah (jenis ganja). Mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali setuju kalau buah pala ini memabukkan sehingga ia masuk ke dalam kategori keumuman dalil: “semua yang memabukkan itu khamr, dan semua (yang masuk kategori khamr) itu haram hukumnya.” Adapun Mazhab Hanafi berpandangan bahwa buah pala itu bisa memabukkan, bisa juga memberikan efek tenang. Dan itu semua (intinya) merusak pikiran. Maka hukumnya haram di segala kondisi. (Ibn Hajar al-Haitami, az-Zawajir).

Sampai sini, memang kesan yang ditangkap kalau rujukannya hanya ibarat diatas, buah pala hukumnya haram mutlak. Selain itu, penggunaan redaksi mazhab Syafi’i, Maliki, Hanbali, membuat kita yang tidak menelusuri lebih jauh menganggap bahwa hanya ada satu pendapat di setiap mazhab tersebut dalam persoalan ini, yaitu haram.

Memang, perbicangan haram tidaknya buah pala ini dibicarakan ketika membicarakan barang-barang lain selain khamr yang memiliki efek memabukkan, apakah haram atau tidak? Rupanya, di dalam setiap mazhab tersebut pendapatnya juga tidak tunggal soal jauzatu at-thib atau buah pala ini. Selain itu, ulama banyak berbeda pendapat juga ketika pala itu hanya digunakan dalam kadar yang sedikit, termasuk untuk tujuan bumbu masakan seperti digunakan di banyak negara, termasuk dunia Islam.

Misalnya, Imam Ar-Ramli, salah satu rujukan dalam Mazhab Syafi’i, dalam fatwanya (Fataawi ar-Ramli) ditanya tentang hukum memakan buah pala? Jawabannya adalah boleh jika sedikit dan haram jika dikonsumsi banyak/berlebihan (yajuuz in kaana qaliilan wa haraamun in kaana katsiiran) (h. 571).

Baca Juga :  Program Baru, Podcast 2SKS: Ilmu Waris Islam dari Sudut Pandang Ilmu Fikih

Begitu juga dalam Mazhab Maliki, mengutip kitab Mawahib al-Jalil, ada kutipan dari Imam al-Farhun, bahwa buah pala itu diantara yang boleh dimakan kalau jumlahnya sedikit. Kemudian menurut Imam al-Barzali, sebagian ulama membolehkan untuk memakan sedikit dari buah pala, atau dicampurkan dengan zat lain jika tujuannya untuk pengobatan saja. Meskipun pendapat yang tepat adalah boleh untuk mengkonsumsinya untuk tujuan apapun selama tidak memabukkan (j. 1 h. 127).

Ulama juga menjelaskan soal kebolehan menggunakan biji pala ini jika tujuannya tidak sampai pada kadar yang memabukkan. Berikut pandangan mendiang Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu tentang persoalan ini,

ولا حرج في استعمال جوزة الطيب ونحوها في إصلاح نكهة الطعام بمقادير قليلة لا تؤدي إلى التفتير أو التخدير

Tidak apa-apa mengonsumsi pala dan sejenisnya untuk tujuan penyedap masakan dengan kadar yang sedikit, tidak sampai memberikan efek penenang atau memabukkan.

Walhasil, dari beberapa kutipan diatas, sebenarnya persoalan buah pala ini bukan persoalan yang disepakati oleh seluruh ulama. Segala sesuatu yang berlebihan tentunya diharamkan, apalagi jika ketika sesuatu dikonsumsi berlebihan menimbulkan efek yang diharamkan oleh agama seperti memabukkan, tentunya itu diharamkan. Namun jika dikonsumsi dalam kadar yang wajar misalnya untuk penyedap, maka ulama menyatakan hukumnya diperbolehkan. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here