Benarkah Bingkisan Berkat Tahlilan Haram Dimakan?

0
4923

BincangSyariah.Com – Tradisi mendoakan orang yang sudah meninggal di Indonesia sudah umum dilakukan sebagian besar umat Muslim di sini. Tradisi tersebut ada yang menamakan tahlilan atau yasinan.

Inti acara itu adalah berkumpul silaturrahim, membaca Alquran, selawat, berdoa, mengaji dengan menyimak tausiyah dari seorang kiai atau ustad. Kan begitu ya yang kita kenal sejak dulu? Ya iya, sudah banyak tulisan-tulisan yang menjelaskannya.

Satu lagi yang biasa kita lihat saat momen tahlilan di suatu tempat, rumah, pesantren, adalah ketika ahli bait memberikan bingkisan makanan untuk tamu. Tentunya dimaksud di sini adalah Ahli Bait yang menginginkannya, bukan Ahli Bait yang kesusahan dan terpaksa memberikannya hingga berutang pun.

Tapi kita tidak tahu apakah mereka ingin mencoba mengamalkan ayat tentang menginfakkan harta di kala sempit (infaq fid-dharraa’). Yang jelas, lapang maupun sempit, mereka pasti mengharap pahala dari Allah, walhasil tiadalah sia-sia itu semua.

Dan sebagai tetangga atau tamu pun harus tahu diri, sehingga jangan sampai terjadi kasus-kasus personal yang tidak diinginkan hingga mengucilkan tetangga yang tidak mampu melakukannya, karena sudah tidak beretika terhadap tetangga yang seharusnya dibantu.

Ngomong-ngomong soal bingkisan itu, apa lagi namanya kalau bukan sedekah. Spirit ini berangkat dari riwayat sahih dalam Hilyatul Awliya’ oleh Imam Abu Nu’aim;

عن سفيان قال، قال طاووس؛ إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك اﻷيام.

Dari Sufyan, kata Thawus bin Kaisan (w.109H):

“Sesungguhnya mayat-mayat diuji di dalam kubur mereka selama tujuh hari, lalu mereka (salaf) menyukai memberikan makan (untuk orang lain) atas nama para almarhum di hari-hari itu”.

Riwayat ini mungkin familiar bagi kita. Bukan soal harinya ataupun sebabnya, namun esensi yang dapat dipetik dari riwayat itu adalah sedekah makanan atas nama para almarhum (اﻹطعام عنهم) dengan meniatkan pahalanya untuk mereka.

Baca Juga :  Bagaimanakah Kualitas Hadis Panji Hitam yang Dinubuwatkan Rasulullah?

Mengenai hari, bisa saja dilakukan di hari-hari selain 7, 40, 100, 1000, dan lain sebagainya. Karena itu hanya hari opsional agar mudah diingat. Atau dapat juga disebut dengan hari yang dijadikan adat, bukan yang dijadikan syariat.

Itu kan bukan sabda Nabi, tapi hanya perkataan tabiin yang bernama Thawus bin Kaisan?

Di dalam ilmu hadis dikenal istilah hadis mawquf bi hukmi marfu’, atau bahkan hadis maqthu’ bi hukmi marfu’. Secara kasat sanad, bukan dari Nabi, namun sebenarnya berasal dari Nabi. Salah satu indikasinya adalah bahwa kandungan hadisnya terkait perkara gaib yang sama sekali tidak ada celah untuk berijtihad. Dan tentunya diucapkan oleh Tabi’in yang tsiqah (terpercaya), Thawus bin Kaisan adalah orangnya.

Bagaimana jika di atas Thawus ada Tabi’in yang dhaif, sehingga riwayatnya tertolak? Bisa-bisa saja

Namun nyatanya, guru-guru Thawus adalah para sahabat yang oleh Sunni, semuanya tergolong tsiqah, kredibel. Ada beberapa orang Tabi’in besar, namun nyatanya mereka juga tsiqah dan berguru kepada para sahabat. (Mohon jika ada yang berkenan menelitinya, mungkin ada yang luput)

Jadi, ditulis ataupun tidak, perawi antara Thawus dan Nabi adalah perawi tsiqah. Tidak jauh berbeda dengan Tabi’in yang bernama Sa’id ibn al-Musayya/ib. Kalaupun dianggap mursal, mursalnya pun adalah mursal yang dapat diterima.

Muncul lagi satu pertanyaan, apakah Sufyan al-Tsauri bertemu dgn Thawus? Secara umur sangat memungkinkan meskipun saat Thawus wafat umur Sufyan masih relatif kecil yaitu 9 tahun. Imam Suyuthi pun menegaskannya. Dan memang biasanya Sufyan menyebutkan perawi antara dia dengan Thawus, seperti Abdullah bin Thawus (Abdullah anak Thawus), seorang yang tsiqah, fadhil, ‘abid.

Anggaplah ia meriwayatkan bukan dari anak Thawus. Sufyan Tsauri dianggap mentadlist, kira-kira begitu. Ternyata tadlisnya Sufyan pun bukan tadlis qabiih, tapi tadlis yang tetap diterima oleh para ulama jarh wa ta’dil. Riwayat ini juga tidak bertentangan dengan riwayat Jabir bin Abdillah tentang Niyahah ituuh. Asalkan dipahami secara menyeluruh, kumpulkan ahaadiitsul bab-nya. Wallahu a’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here