Benarkah Bersiul dan Tepuk Tangan Diharamkan Dalam Islam?

0
1047

BincangSyariah.Com – Benarkah bersiul dan tepuk tangan diharamkan dalam islam?, pertanyaan ini sedikit menggelitik hati kita, toh hanya bersiul dan bertepuk tangan, apa persoalannya dengan islam, padahal tidak menyakiti orang lain, kok sampai harus diharamkan segala. Sebelum menjawab, saya akan memaparkan tentang bersiul dan tepuk tangan yang ada di berbagai macam sumber yang saya ketahui, supaya letak persoalannya lebih jelas dan gamblang.

Bila kita merujuk pada Alquran, maka terdapat istilah mukaan (bersiul) dan tasdiyatan (tepuk tangan), kedua kata ini terletak pada surah Al-Anfal [8]: 35. Dalam keterangan ayat ini bersiul dan tepuk tangan menjadi suatu ritual masyarakat jahiliyyah ketika beribadah di baitullah (ka’bah). Sebagaimana berikut :

وَمَاكَانَ صَلاَتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً

“Shalat mereka di baitullah tiada lain kecuali bersiul dan tepuk tangan.”

Bila kita merujuk pada kitab fiqih, semisal kitab Fathal Mu’in, maka terdapat istilah tasfiq (tepuk tangan), biasanya hal ini dilakukan oleh perempuan ketika sedang berada dalam shalat. Tindakan ini dilakukan untuk mengingatkan imam ketika lupa salah satu rukun dalam shalat. Mengingat bersiul dan tepuk tangan adalah persoalan adab, maka kajian mengenai bersiul dan tepuk tangan ini sangat jarang dibahas oleh para ahli fikih. Sekalipun dibahas, itu hanya terkhusus di dalam permasalahan shalat, dan hanya membahas tepuk tangan yang dilakukan oleh wanita ketika mengingatkan imam. Dasar yang dijadikan sebagai hujjah (pegangan) ulama fiqih mengenai tepuk tangan yang dilakukan oleh perempuan ketika shalat adalah hadits Nabi Muhammad SAW,

التَّسْبِيْحُ لِلرِّجَالِ وَالتَّصْفِيْقُ لِلنِّسَاءِ

“Tasbih (mengucapkan subhanallah) untuk laki-laki, sedangkan tepuk tangan untuk wanita.” [HR. Abu Dawud No. 804]

Di dalam Kitab al-Adab As-Syar’iyyah (j. 4 h. 57), ada salah satu pembahasan yang membahas secara khusus mengenai bersiul dan tepuk tangan. Hal ini disampaikan oleh Syekh Ibnu Muflih yang mengutip pendapatnya Syekh Abdul Qadir. Beliau menjelaskan demikian :

Baca Juga :  Hukum Merayakan Malam Tahun Baru Masehi

وَقَالَ الشيخ عَبْدُالْقَادِيْرِ رَحِمَهُ اللهُ يُكْرَهُ الصَّفِيْرُ وَالتَّصْفِيْقُ

“Syekh Abdul Qodir, telah berkata bahwa bersiul dan tepuk tangan hukumnya makruh.”

Pemaparan tersebut kiranya telah jelas, sehingga dapat disimpulkan bahwa bersiul dan tepuk tangan hukum asalnya adalah makruh bukan haram, selama tidak ada anggapan buruk dan tidak ada tujuan untuk menyerupai perbuatan masyarakat jahiliyyah, semisal bersiul atau tepuk tangan yang dijadikan sebagai hiburan. Dengan demikian bila memandang kebutuhan lain (amrun kharij), yaitu berupa kebutuhan yang positif maka hukumnya disesuaikan dengan tujuan tersebut. Dalam kaidah fiqih disebutkan bahwa “hukum ada pada maksud bukan pada perantara”.

Oleh karena itu, bila tujuan daripada bersiul atau tepuk tangan adalah baik, semisal bersiul untuk menenangkan bayi yang menangis, bertepuk tangan untuk memanggil orang yang berada di tempat yang jauh, bertepuk tangan untuk menyemangati kerja keras seseorang maka hukumnya mubah (boleh).

Dan sebaliknya, jika tujuannya adalah tidak baik, semisal bersiul atau tepuk tangan untuk menggoda wanita ajnabiy maka hukumnya haram (tidak boleh). Hal ini sama persis dengan permasalahan berbohong, dimana pada dasarnya berbohong adalah haram. Namun pada kondisi tertentu malah diperbolehkan ketika tujuan daripada berbohong tersebut adalah baik, semisal berbohong untuk menyelamatkan seseorang dari perbuatan orang dzhalim. Wallahu ‘Alam Bisshawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here