Benarkah Berkumpul untuk Acara Keagamaan saat Terjadi Wabah Itu Bid’ah? Ini Penjelasan Ibnu Hajar

1
1946

BincangSyariah.Com – Penyebaran virus corona atau covid-19 semakin mengkhawatirkan. Karenanya pemerintah berkali-kali menghimbau masyarakat mematuhi saran dokter dan paramedis agar tidak keluar rumah sebisa mungkin jika tidak ada kepentingan yang mendesak, juga hendaknya tidak berkerumun atau melaksanakan acara yang memicu berkumpulnya massa.

Para pemuka agama tidak terkecuali Majelis Ulama Indonesia selaku lembaga yang memiliki wewenang soal fatwa, menindak lanjuti himbauan tersebut dengan merancang fatwa mengenai tata cara ibadah umat Islam terutama ibadah yang mengharuskan berkumpulnya jamaah di tengah wabah ini. Meskipun demikian fatwa tersebut masih saja oleh sebagian masyarakat kita dipertanyakan bahkan tidak sedikit yang menentangnya.

Alih-alih mematuhi, masyarakat muslim kita malah mencap fatwa tersebut phobia mesjid. Malah sebagian lagi masih saja ngotot ingin mengadakan acara tabligh akbar, istighatsah, dan sebagainya yang mengundang massa hingga ribuan orang dengan alasan hendak melawan corona. Mirisnya, acara-acara tersebut diinisiasi oleh orang yang dinilai paham masalah agama.

Jika kita jeli dan ingin menelisik lebih dalam, ulama terdahulu telah menulis banyak karya yang menyoal penyebaran wabah. Sebut saja salah satunya Ibnu Hajar Al-Asqalani, ulama kawakan nan masyhur di bidang hadis. Beliau memiliki karya cerdas, lugas, sekaligus ber-nash mengenai wabah. Judul karyanya “Badz al-Ma’un fi fadl al-Tha’un”.

Dalam karyanya tersebut tepatnya di halaman 328-330 beliau berkisah soal wabah (tha’un) dahsyat yang menyerang kota Damaskus pada tahun 749 H. Di sana orang-orang berkumpul sebagaimana orang yang hendak melaksanakan istisqa (shalat meminta hujan) dan berdoa supaya wabah mereda. Perilaku seperti ini, menurut Ibnu Hajar adalah perbuatan bid’ah. Karena setelah mereka keluar rumah dan berkumpul di padang pasir untuk berdoa dan beristighatsah penyebaran wabah malah semakin buruk dan bertambah parah.

Baca Juga :  Muncul Gerakan Jumat Berhijab Pasca Serangan Teror di Selandia Baru

Kemudian Ibnu Hajar juga menceritakan pengalamannya saat wabah menyerang kota tempat dia tinggal yakni di Kairo pada tahun 833 H. Bahkan wabah ini merenggut nyawa putri sulungnya yang bernama Zayn Khatun padahal putrinya ini tengah mengandung. Beberapa tahun sebelumnya tepatnya tahun 819 H, wabah juga menjadi penyebab meninggalnya dua putri kesayangan Ibnu Hajar, Fatimah dan ‘Aliyah namanya.

Maka, suatu kekeliruan jika ada yang berkata “tha’un hanya menimpa ahli maksiat” atau “tha’un adalah adzab” padahal jika penyakit wabah menimpa mereka yang beriman, dia merupakan rahmat dari Allah swt seperti hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Pada tahun 833 H tersebut dalam catatannya Ibnu Hajar menuturkan sebuah kisah yang membuat kita tercengang. Beliau bercerita :

ووقع هذا في زماننا، حين وقع أول الطاعون بالقاهرة في ٢٧ من شهر ربيع الآخر سنة ٨٣٣ ه، فكان عدد من يموت بها دون الأربعين، فخرجوا إلى الصحراء في ٤ جمادى الأولى بعد أن نودي فيهم بصيام ثلاثة أيامٍ -كما في الاستسقاء-، واجتمعوا ودعوا وأقاموا ساعةً ثم رجعوا. فما انسلخ الشهر حتى صار عدد من يموت في كل يومٍ بالقاهرة فوق الألف.

Peristiwa ini ( perkumpulan orang yang berdoa ketika wabah di Damaskus pada tahun 749 H yang menyebabkan wabah menyebar dan bertambah parah) juga terjadi pada masa saya. Yaitu saat wabah pertamakali menyerbu kota Kairo pada tanggal 27 Rabi’ul Akhir tahun 833 H. Awalnya korban yang meninggal tidak lebih dari 40 orang. Kemudian masyarakat keluar rumah dan berkumpul di padang pasir pada tanggal 4 Jumadil Ula setelah mereka diseru untuk berpuasa tiga hari layaknya saat hendak melaksanakan istisqa. Lalu mereka berkerumun, berdoa, dan tetap di sana selama satu jam (beberapa saat), kemudian mereka pulang. Pada akhir bulan Jumadil Ula, korban meninggal malah bertambah banyak bahkan setiap harinya lebih dari seribu korban berjatuhan.

Menurut Ibnu Hajar sekelompok ulama sudah pernah berfatwa bahwa menghindari perkumpulan, kerumunan meskipun untuk berdoa di tengah wabah, itu lebih utama. Setelahnya Ibnu Hajar mengaku berpegang pada fatwa tersebut dan juga memiliki pendapat sendiri bahwa berkerumun untuk berdoa di tengah wabah tidak pernah dianjurkan baik oleh ulama ahli fiqh sebelum masa beliau. Bahkan aku beliau, sama sekali tidak ada berita dari seorang ahli hadis yang menyampaikan anjuran berdoa dengan berkerumun di tengah wabah.

Baca Juga :  Bolehkah Mo Salah Tidak Puasa saat Final Liga Champions?

Berkaca dari pendapat dan pengalaman Ibnu Hajar dalam karyanya, tentunya beliau tidak ingin wabah yang masyarakatnya alami, terulang kembali di masa kemudian. Sebab itu, seyogyanya kita percaya pada otoritas kedokteran juga fatwa MUI karena faktanya anjuran dan fatwa mereka sama persis dengan apa yang dikemukakan Ibnu Hajar Al-Asqalani, ulama yang memiliki otoritas dan diakui umat Islam sejagat.

Sebagai catatan akhir, berkumpul untuk berdoa di tengah wabah agar cepat mereda saja tidak dianjurkan bahkan bid’ah, apalagi sekedar wara-wiri, kumpul tidak jelas, keluar rumah tanpa alasan yang mendesak dan kegiatan lainnya yang tidak penting sama sekali. Tentu untuk kegiatan tidak penting ini boleh jadi hukumnya haram.

Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

  1. […] Ibnu Hajar banyak berguru dengan ulama-ulama besar. Bahkan ketika ayahnya meninggal ada seorang ulama yang menjadikannya anak angkat. Namanya adalah Muhammad bin Ali Al-Qattan. Beliau mengetahui kecerdasan Ibnu Hajar hingga suatu saat memperkenalkan pada seorang putri ulama besar yaitu Uns binti Abdul Karim bin Ahmad bin Abdul Aziz Al-Nastarawi. (Baca: Benarkah Berkumpul untuk Acara Keagamaan saat Terjadi Wabah Itu Bid’ah? Ini Penjelasan Ibnu Hajar) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here