Kees Versteegh dalam The Arabic Language menjelaskan bahwa bangsa Eropa di abad ke-18 pernah menekuni bahasa-bahasa rumpun Semit yang di antaranya terdapat bahasa Arab dan Ibrani. Saat itu, bangsa Eropa yang diwakili Prancis sempat mengklaim bahwa bahasa penghuni surga itu adalah bahasa Ibrani yang saat ini menjadi salah satu bahasa umat Yahudi.

BincangSyariah.Com- Bahasa surga seringkali menimbulkan salah paham di kalangan masyarakat Muslim awam. Masih ingat saat Agnes Monica tampil di konser perayaan ulang tahun Indosiar ke-21, Senin (11/01/16) yang menuai kontroversi di media sosial?

Pasalnya, Agnes mengenakan pakaian yang menerawang dengan tulisan berbahasa Arab al-muttahidah yang artinya persatuan. Sebagian masyarakat menganggap bahwa bahasa Arab yang dikenakan Agnes dengan pakaian mininya itu sebuah pelecehan terhadap bahasa Arab sebagai bahasa Islam, bahasa ahli surga. Benarkah demikian?

Selain itu, ada juga masyarakat Muslim yang berlebihan untuk mengganti nama orang lain yang berbahasa Jawa atau bahasa Nusantara lainnya dengan bahasa Arab. Padahal nama Jawa tersebut mengandung arti yang baik. Padahal tidak ada anjuran dalam Alquran maupun as-Sunnah untuk memberikan nama Arab kepada bayi yang baru lahir.

Pemahaman demikian tidak terlepas dari riwayat hadis yang menyatakan bahwa bahasa Arab itu adalah bahasa surga. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

«أَحِبُّوا الْعَرَبَ لِثَلَاثٍ: لِأَنِّي عَرَبِيٌّ، وَالْقُرْآنُ عَرَبِيٌّ، وَلِسَانُ أَهْلِ الْجَنَّةِ عَرَبِيٌّ»

Cintailah bangsa Arab karena tiga hal: saya itu orang Arab, Alquran itu berbahasa Arab, dan bahasa penduduk surga itu bahasa Arab.

Riwayat hadis ini terdapat dalam banyak kitab hadis, seperti al-Mujam al-Ausath karya at-Thabrani, al-Mujam al-Kabir  karya at-Thabrani, al-Mustadrak karya al-Hakim, Syuab al-Iman karya al-Baihaqi, Ilal al-Hadits karya Ibnu Abi Hatim, al-Maudhuat karya Ibnu al-Jauzi, dan lain sebagainya. Namun demikian, tidak setiap hadis yang disebutkan dalam banyak kitab hadis itu otomatis sahih. Dalam ilmu hadis, perlu dikaji sanad (jalur periwayatan) hadis terlebih dahulu.

Baca Juga :  Mengkritisi Perumusan Teori Kekhilafahan Imam Al-Mawardi

Kees Versteegh dalam The Arabic Language menjelaskan bahwa bangsa Eropa di abad ke-18 pernah menekuni bahasa-bahasa rumpun Semit yang di antaranya terdapat bahasa Arab dan Ibrani. Saat itu, bangsa Eropa yang diwakili Prancis sempat mengklaim bahwa bahasa penghuni surga itu adalah bahasa Ibrani yang saat ini menjadi salah satu bahasa umat Yahudi.

Tampaknya, bahasa tertentu sebagai bahasa surga itu merupakan klaim kesukuan yang masih kental di masyarakat Arab. Bahasa Persia sebagai bahasa ahli neraka juga tidak terlepas dari sejarah buruk hubungan Arab vs Persia hingga har ini.

Selain masih didominasi bahasa Inggris, pengkhususan bahasa Arab sebagai bahasa agama atau bahasa surga justru membuat bahasa Arab itu tidak begitu berkembang dengan baik di Indonesia sebagai bahasa internasional, diplomatik, teknologi, dan sosial-politik.

Imam al-Dzahabi menganggap hadis di atas sebagai hadis mauhdhu (palsu). Hal ini pun diamini Syekh Ibnu Qayim al-Jauzi dalam kitab al-Maudhuat. Dalam Majmu al-Fatawa, Syekh Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa bahasa Arab sebagai bahasa surga itu tidak terdapat keterangan dalam Alquran, hadis sahih, maupun dari sahabat.

Selain itu, menurut Syekh Ibnu Taimiyah, bahasa persia adalah bahasa ahli neraka juga tidak benar dan tidak ada dalil yang sahih. Wallahu alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here