Benarkah Ali bin Abi Thalib pernah Membakar Kaum Murtad? (Bagian III)

0
178

BincangSyariah.Com – Ali bin Abi Thalib merupakan sepupu sekaligus sahabat Nabi yang alim dan pemberani. Dengan kealiman dan pengetahuan yang mendalamnya ini, Ali alayhis salam selalu dijadikan rujukan bagi pertimbangan-pertimbangan dan kebijakan-kebijakan keagamaan oleh Abu Bakar as-Siddiq dan Umar bin al-Khattab. Dua sahabat besar ini dalam berbagai kebijakan keagamaannya selalu merujuk kepada Ali bin Abi Thalib.

Konon kebijakan Umar yang terkenal, saat tidak membagi seperlima dari harta rampasan perang kepada tentara-tentara Islam saat penaklukan Persia dan Irak, berasal dari ijtihad fiqih Ali bin Abi Thalib. Kebijakan ini di masa Umar menuai kontroversi di kalangan sahabat, terutama sahabat nabi yang corak pemikirannya sangat tekstualis seperti Bilal bin Rabah. Sampai-sampai Umar bin al-Khattab berdoa agar Tuhan melindungi dirinya dari Bilal karena menuduhnya melanggar aturan Alquran.

Namun demikian, karena yang menjabat sebagai khalifah saat itu ialah Umar, kebijakan yang sering dijadikan rujukan bagi teori-teori maqasid syariah ini, sering dinisbahkannya kepada Umar sendiri bukan Ali bin Abi Thalib. Ilustrasi lainnya dari ijtihad Ali yang menjadi rujukan bagi kebijakan Umar ialah soal mengadopsi sistem administrasi kenegaraan Persia. Munculnya diwan al-Atha, diwan al-kharaj, diwan murasalah dan lain-lain lahir dari ijtihad fiqihnya Ali bin Abi Thalib.

Begitu juga dengan pembagian besarnya jumlah harta ghanimah, kebijakan untuk mendaftar suku-suku Arab berdasarkan nasabnya, kebijakan pembagian ghanimah berdasarkan kedekatan kesukuan dan keterdahuluan masuk Islam, kebijakan tentang tidak dipotongnya tangan pencuri saat terjadi musim paceklik, semua itu inovasi Ali bin Abi Thalib. Tapi kebijakan ini ternyata lebih populer dinisbahkan kepada Umar.

Tentu keterangan ini bukan berarti mengecilkan peranan Umar bagi Islam. Yang ingin ditekankan di sini ialah bahwa corak berpikir secara semangat qurani ini dan kebijakan yang dilandaskan kepada kemaslahatan yang menjadi tuntutan di masa itu, embrionya lahir dari ijtihad Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. Jadi di tengah-tengah sahabat yang corak pikirnya tekstualis seperti Bilal bin Rabah, Abd Allah bin Umar, Abd Allah bin Abbas, Mu’adz bin Jabal dan lain-lain, ada juga yang berpikir melampaui zamannya dan berpikir secara maqasid. Itulah Umar dan Ali.

Setelah memahami corak pemikiran Ali bin Thalib yang bersifat maqasidi ini seharusnya kita menempatkan kebijakan-kebijakan di masa kekhilafahannya dalam bingkai maqasid juga. Adalah yang menjadi kontroversi di masanya, tentang riwayat pembakaran penyembah berhala dari az-Zuth. Riwayat ini berasal dari Anas bin Malik seperti yang dapat kita lihat pada riwayat yang dikutip dari Sunan an-Nasa’i dengan hadis no 3528 sebagai berikut:

أخبرنا محمد بن المثنى قال: حدثنا عبد الصمد قال: حدثنا هشام عن قتادة، عن أنس أن عليا أتي بناس من الزط يعبدون وثنا فأحرقهم قال ابن عباس إنما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من بدل دينه فاقتلوه.

Telah menginformasikan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa, ia berkata telah menginformasikan kepada kami ‘Abdush-Shamad, ia berkata telah menginformasikan kepada kami Hisyaam, dari Qataadah, dari Anas bahwa dihadapkan kepada ‘Ali orang-orang dari Az-Zuth yang menyembah berhala. Kemudian Ali membakar mereka. Ibnu ‘Abbaas berkata “Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda ‘Barangsiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah ia.”

Kritik Hadis

Kita akan mencoba memahami hadis ini dimulai dari kualitasnya secara sanad. Dalam literatur ilmu hadis, terutama bidang al-Jarh wa at-Ta’dil, yang sering menjadi persoalan ialah riwayat an’anah, riwayat yang cara kerja penyampaian hadith murid dari gurunya ialah dengan memulai menceritakan kandungan hadis dari sumbernya melalui lafal ‘an ‘dari’ (bukan sami’na, haddathana, akhbarana, anba’ana dll).

Di masa itu, jika riwayat dimulai dengan ‘an, umumnya sering dianggap sebagai periwayatan yang tidak langsung, atau sang periwayat tidak menemui gurunya secara langsung. Biasanya disembunyikan karena berbagai alasan. Salah satunya mungkin karena guru sang periwayat itu dinilai da’if sehingga implikasinya akan aib juga jika ia meriwayatkan hadis dari guru yang daif.

Jika kita memperhatikan hadis di atas secara seksama, akan kita temukan bahwa cara periwayatan oleh Qatadah dari gurunya Anas bin Malik itu ialah dengan menggunakan lafal ‘an.  Cara periwayatan seperti ini patut dicurigai. Pasalnya, dalam tradisi ilmu hadis, riwayat an’anah sering mengandung kemungkinan adanya tadlis. Untuk itu, persoalannya ialah apakah riwayat Qatadah dari Anas bin Malik ini dapat dianggap sebagai riwayat tadlis.

Dalam Tabaqat al-Mudallisin karya Ibnu Hajar al-Asqalani, ditemukan bahwa Qatadah merupakan periwayat hadis yang mudallis dengan tingkat tabaqat ketiga. Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan bahwa para periwayat hadis yang dinilai mudallis di tingkat ketiga ini tidak boleh diterima periwayatannya jika yang bersangkutan tidak dengan jelas meriwayatkan hadis dengan menggunakan lafal sami’na ‘kami telah mendengar informasi…’ dan sejenisnya.

Hal demikian dilakukan untuk mempertegas apakah sang periwayat hadis benar-benar menerima hadis dari gurunya secara langsung atau dia menyembunyikan guru aslinya dan menisbahkannya kepada gurunya yang lain yang dipandang lebih thiqat. Qatadah -seperti yang dinilai kebanyakan ulama hadis dari generasi mutaqaddimin sampai ke generasi muta’khirin sekaliber Syu’bah, Abu Dawud, Abu Hatim, Ibnu Hibban, al-Hakim, al-Khatib, adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar al-Asqalani- merupakan periwayat hadis yang mudallis yang sangat diragukan jika riwayatnya menggunakan redaksi an’anah.

Dengan demikian, kalau kita gunakan perspektif Ibnu Hajar al-Asqalani dalam menilai kualitas sanad hadis ini, tentu riwayat Qatadah dari Anas bin Malik sangat bermasalah. Letak persoalannya ialah karena tidak adanya penggunaan lafal haddathana ‘kami telah menerima informasi’, sami’na ‘kami telah mendengar informasi’ dan lain-lain yang menunjukan bahwa Qatadah mendengar dari Anas bin Malik secara langsung.

Sebaliknya, dalam hadis di atas kita menemukan bahwa Qatadah menggunakan lafal ‘an ‘dari’ dalam meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik. Jadi secara sanad, hadis ini bermasalah. Persoalan menjadi lebih rumit kalau kita pertanyakan ulang standar Ibnu Hajar al-Asqalani dalam menilai Qatadah sebagai mudallis yang jika riwayatnya menggunakan lafal ‘an maka dengan sendirinya akan tertolak.

Jika demikian persoalannya, cukupkah kita menghukumi hadis Qatadah sebagai bermasalah, hanya karena ia menggunakan lafal an’anah pada riwayat di atas? Qatadah merupakan ulama hadis kenamaan. Hadis riwayat dari Qatadah sangat banyak dan riwayatnya yang menggunakan lafal an’anah juga tidak sedikit. Kalau kita menghukumi hadisnya dengan cara seperti ini, akan banyak hadis-hadisnya yang di-doif-kan, termasuk hadis-hadis Qatadah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dua ulama yang dikenal amat selektif dalam menyeleksi hadis-hadis sahih. Ini jelas berbahaya. Karena itu, kita tangguhkan sementara penilaian validitas hadis ini secara sanad dan langsung beranjak ke analisis kandungan matan.

Cara Memahami Matan Hadis Riwayat Anas Bin Malik

Paling tidak ada dua elemen dasar yang membentuk wacana hadis riwayat Qatadah dari Anas bin Malik ini. Pertama, keterangan mengenai pembakaran para penyembah berhala dari az-Zuth oleh Ali bin Abi Thalib dan kedua, keterangan mengenai sampainya informasi tersebut kepada Ibnu Abbas dan penyitiran hadis Nabi SAW tentang hukuman mati bagi orang murtad.

Untuk keterangan yang pertama, jelas bahwa informasinya berbeda dari yang disampaikan Ikrimah Maula Ibnu Abbas. Cerita pembakaran oleh Ali bin Abi Thalib dinarasikan secara berbeda oleh Anas bin Malik dan Ikrimah Maula Ibnu Abbas. Dalam versi yang pertama Ali membakar para penyembah berhala dari az-Zuth, sedangkan dalam versi yang kedua Ali membakar orang-orang yang murtad dari Islam.

Namun keduanya bertemu dalam meriwayatkan komentar yang disampaikan Ibnu Abbas tentang hadis Nabi yang memerintahkan untuk membunuh orang murtad dan melarang menghukum dengan cara membakar hidup-hidup. Jadi secara matan, hadith Ikrimah didukung oleh Anas bin Malik dalam hal riwayat dari Ibnu Abbas namun keduanya berbeda dalam meriwayatkan identitas orang yang dibakar, apakah orang murtad ataukah penyembah berhala.

Ada banyak kemungkinan dalam memahami riwayat ini. Berbagai kemungkinan itu terjadi mengingat bahwa hadis selalu hadir ke hadapan kita dalam bentuk percikan-percikan peristiwa yang tidak utuh dan terpecah-pecah. Selain itu kebanyakan kita hanya memahami satu atau beberapa percikan peristiwa tersebut dan tidak secara keseluruhan dalam keutuhannya. Persoalan menjadi makin kompleks dengan adanya rentang masa yang jauh antara konteks munculnya hadis dengan konteks masa kini.

Karena itu, segala apapun hasil usaha kita untuk memahami hadis ini tetap akan menghasilkan ijtihad yang levelnya tidak sampai ke taraf yang meyakinkan. Kenapa demikian? Kalau kita merujuk kembali kepada uraian di atas tentang corak pemikiran Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab, maka jelaslah bahwa hadis pembakaran ini tidak sesuai dengan semangat maqasidi-maslahi tersebut. Pasalnya, riwayat pembakaran ini bertentangan dengan semangat quranik dan sirah kenabawian.

Karena itu pertanyaan selanjutnya ialah benarkah Ali bin Abi Thalib melakukan demikian? Jika benar, siapa saja sejatinya kaum yang dibakar itu berdasarkan riwayat yang benar-benar valid yang tidak ada versi-versinya? Jika benar, apa hubungan ijtihad maqasidi-maslahi-nya dengan peristiwa pembakaran ini? Berapakah jumlah orang yang dibakar? Atas alasan apa? Apakah karena faktor yang murni keagamaan atau ada faktor lain yang menyertainya?

Jika peristiwa pembakaran ini merupakan peristiwa yang masyhur saat itu, apa diriwayatkan banyak orang? Jika ada, kira-kira siapa saja yang menyaksikan peristiwa tersebut secara langsung sekaligus diriwayatkan dalam hadis-hadis yang jumlah periwayat per-tabaqat-nya mencapai taraf yang mutawatir? Selanjutnya, apakah hadis yang selama ini kita terima tentang peristiwa ini benar-benar mencerminkan peristiwa yang sebenarnya terjadi atau masih ada hal-hal yang tak terkatakan?

Sampai di sini dan lewat pertanyaan-pertanyaan ini, saya kira banyak hal yang tak terkatakan dalam hadis-hadis tentang pembakaran orang-orang murtad dan penyembah berhala, sevalid apapun hadis tersebut. Karenanya pertanyaan selanjutnya ialah, legitimatifkah tindakan para teroris membunuh; membakar; memerangi orang-orang tak bersalah, dengan berasas pada ketidakjelasan ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here