Benarkah Al-Qurthubi Mewajibkan Sistem Khilafah?

10
4098

BincangSyariah.Com – Penegakkan khilafah Islamiyah sebagai sistem pemerintahan terus diwacanakan oleh berbagai kelompok. Mereka seolah meyakini bahwa penegakkan khilafah tak lain merupakan bagian dari tugas suci ketuhanan. Mereka juga merasa bahwa keyakinannya tersebut mendapat legitimasi langsung dari al-Quran. Sebagian dari mereka mendasarkan keyakinannya tersebut dengan merujuk pada penafsiran al-Qurthubi atas surat al-Baqarah/2: 30:

             وإذ قال ربك للملائكة إني جاعل في الارض خليفة

Artinya; Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi ini”.

Di bawah ini, saya akan mengutip penggalan penafsiran al-Qurthubi yang sering dikutip oleh mereka dan disinyalir kuat sebagai legitimasi keharusan menegakkan khilafah.

            هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة

             “Ayat ini merupakan dasar/landasan untuk mengangkat imam atau khalifah.”

Dengan mengacu pada penggalan penafsiran di atas, mereka mengklaim bahwa al-Qurthubi mewajibkan pendirian khilafah. Namun, pertanyaannya ialah, benarkah al-Qurthubi mewajibkan pendirian khilafah sebagai sistem pemerintahan? Apa makna khalifah yang dimaksud al-Qurthubi pada ayat di atas?

Apakah ia memaknai term khalifah pada ayat di atas sebagai pemimpin dalam sistem pemerintahan khilafah Islamiyah, ataukah hanya memaknainya secara etimologis yang berarti “pemimpin” atau “penguasa” secara umum? Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut, di bawah ini saya akan mengutip terlebih dahulu penafsiran al-Qurthubi terhadap surat al-Baqarah/2: 30 secara utuh.

هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع، لتجتمع به الكلمة، وتنفذ به أحكام الخليفة. ولا خلاف في وجوب ذلك بين الامة ولا بين الائمة إلا ما روي عن الاصم حيث كان عن الشريعة أصم، وكذلك كل من قال بقوله واتبعه على رأيه ومذهبه، قال: إنها غير واجبة في الدين بل يسوغ ذلك، وأن الامة متى أقاموا حجهم وجهادهم، وتناصفوا فيما بينهم، وبذلوا الحق من أنفسهم، وقسموا الغنائم والفئ والصدقات على أهلها، وأقاموا الحدود على من وجبت عليه، أجزأهم ذلك، ولا يجب عليهم أن ينصبوا إماما يتولى ذلك. ودليلنا قول الله تعالى: ” إني جاعل في الارض خليفة ” [ البقرة: 30 ]، وقوله تعالى: ” يا داود إنا جعلناك خليفة في الارض ” [ ص: 26 ]، وقال: ” وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الارض ” [ النور: 55 ].

Baca Juga :  Hukum Melakukan Jual-Beli di dalam Masjid

“Ayat ini merupakan dasar/landasan untuk mengangkat imam atau khalifah yang didengar dan ditaati untuk menyatukan pendapat dan melaksanakan hukum-hukum khalifah. Tidak ada perbedaan pendapat tentang kewajibannya di antara umat dan imam-imam kecuali apa yang diriwayatkan al-Asham, padahal dia tuli terhadap syariat. Begitu pula orang yang sependapat dengannya dan pengikutnya. Ia (al-Asham) berkata, “Sesungguhnya mengangkat imam tidaklah wajib, melainkan hanya sekedar menyempurnakan agama. Dan bahwasannya selama umat bisa menunaikan ibadah haji, berjihad, saling bahu membahu di antara mereka, saling mencurahkan kebenaran, membagikan harta rampasan perang, fai dan shadaqah kepada yang berhak, menegakkan hudud terhadap pelaku kejahatan, maka yang demikian itu sudah cukup. Dan tidak wajib untuk mengangkat seorang imam untuk melaksanakan hal-hal itu. Dalil kami (al-Qurthubi) terkait kewajiban mengangkat pemimpin (khalifah) ialah firman Allah swt ” إني جاعل في الارض خليفة “ (QS. Al-Baqarah: 30), dan ayat” يا داود إنا جعلناك خليفة في الارض”   (QS. Shad: 26), begitu pula ayat ” وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الارض “ (QS. Al-Nur: 55).”

Jika membaca pernyataan al-Qurthubi di atas secara utuh, rupanya tidak ditemukan adanya indikasi kuat bahwa ia memaknai term khalifah pada ayat di atas sebagai pemimpin dalam sistem pemerintahan khilafah Islamiyah. Pada pernyataannya di atas, jelas bahwa makna term khalifah yang dimaksud al-Qurthubi ialah dalam pengertiannya yang umum, yakni “pemimpin” atau “penguasa”.

Hal itu dapat dipahami karena ia hendak menegaskan tentang kewajiban mengangkat pemimpin sebagai instrumen dalam pelaksanaan hukum. Ini merupakan hal yang lazim dalam Islam, terlepas apakah sistem pemerintahan yang diterapkan ialah khilafah, ataukah sistem-sistem lainnya. Pendek kata, yang ditekankan al-Qurthubi di sini ialah keberadaan pemimpin sebagai instrumen atau komando dalam pelaksanaan hukum, bukan sistem pemerintahan tertentu.

Baca Juga :  Berbuat Baik kepada Tetangga yang Non-Muslim, Bolehkah?

Ia juga menegaskan bahwa kewajiban mengangkat pemimpin telah disepakati oleh umat dan imam-imam kecuali al-Asham, seorang tokoh yang dianggap tuli terhadap hukum-hukum syari’at (kanat an al-syari’ah asham). Selain itu, kewajiban mengangkat pemimpin, menurut al-Qurthubi, juga mengacu pada ayat lain termasuk QS. Shad: 26 dan QS. Al-Nur: 55. Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa ada “pemelintiran” term khalifah sebagai dasar untuk melegitimasi penegakkan khilafah.

Selanjutnya, masih terkait pemelintiran term khilafah, bahwa secara substansial, ayat di atas merupakan ayat populer yang menceritakan tentang kisah pengangkatan Adam sebagai khalifah di muka bumi (khalifatullah fi al-ardh). Makna khalifah di sini tentu dalam pengertiannya yang umum, yakni pemimpin atau penguasa di muka bumi, karena Adam merupakan manusia pertama yang diberi mandat untuk memakmurkan bumi.

Oleh karenanya, mengutip ayat di atas untuk  melegitimasi keharusan menerapkan sistem pemerintahan berupa khilafah Islamiyah tentu merupakan bentuk “politisasi ayat” yang tak dapat dibenarkan. Ada “pemaksaan tafsir” yang dilakukan kelompok pengusung ide khilafah terhadap ayat di atas sehingga tiba pada sebuah kesimpulan bahwa penegakkan khilafah memiliki dasar teologis yang kuat dalam al-Quran.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

10 KOMENTAR

  1. Jaman khilafah tegak.. sdh ada sistem lain.. kekaisaran romawi persia.. kerajaan.. demokrasi dr jaman yunani.. kuno..jlas.. dr jaman khulafaur rasyidin.. sampai turki utsmani 3 maret 1924..yg diruntuhkan kemal attaturk the jews and inteligen by british…adalah khilafah sbg mn tuntunan syariah…

  2. Kok kalimatnya pemelintiran term khalifa? Pemikir hebat itu futuristik melihat kedepan melampaui zaman. Bukan sok ilmiah ngorek kotoran masa lalu utk dalil syahwat gelar intelek.
    Kalu msh percaya rukun iman, msh percaya kiamat akan datang, prosedur tahapan hari kiamat ada dajjal ada nabi isa turun utk membunuh dajjal. Kelak setelah dajjal terbunuh nabi isa berkuasa loe pikir nabi isa akan plintir bentuk kekuasaannya jd komunis? Demokrasi? Kalu nulis ilmiah ttg islam tp tdk menambah iman n amal ihsan yg lebih baik itu onani bro!!!! Mending nulis novel ato cerita silat sejenis kho ping ho krn apa? Jurus3 silat kho ping ho tdk mewajibkan utk pembacanya mencontoh mengamalkannya, sebaliknya…sudahlah moga loe sukses kejar point doktoral loe cepat punya bini ke dua ketiga n keempat

    • sudahlah ..gak usah koar2 khilafah kalau saudi yg berhukum dgn al-Qur’an dan as-Sunnah masih kau kafirkan, Allahu Yahdik.

  3. MENEGAKKAN KHILAFAH ISLAMIYYAH
    KEWAJIBAN YANG TELAH SEPAKATI ASWAJA
    Benarkah Tidak Ada Kewajiban Menegakkan Khilafah?

    Menganggkat Khalifah dan Menegakkan Khilafah: Sama-sama Wajibnya
    Mengangkat seorang Khalifah dan menegakkan Khilafah merupakan kewajiban yang telah disepakati oleh ulama ahlus sunnah wal jama’ah. Ulama Ahlus Sunnah memfatwakan sesat bahkan hingga derajat kafir, bagi siapa saja yang menolak kewajiban mengangkat seorang Khalifah dan menegakkan Khilafah.Pasalnya, kewajiban dua perkara ini ditetapkan berdasarkan dalil qath’iy.

    Dalam konteks kewajiban mendirikan Khilafah, Imamah, atau Imaratul Mukminiin, mayoritas ulama ahlus sunnah wal jama’ah menetapkan Khilafah atau Imamah sebagai bagian dari pilar agama Islam (arkaan al-diin), meskipun Khilafah atau Imamah tidak termasuk dalam persoalan ‘aqidah. Di dalam Kitab al-Farq Bain al-Firaq Imam al-Asyfirayaini rahimahullah ta’ala mengatakan:

    الفصلالثالثمنفصولهذاالبابفيبيانالاصولالتىاجتمعتعليهااهلالسنة. قداتفقجمهوراهلالسنةوالجماعةعلىاصولمناركانالدينكلركنمنهايجبعلىكلعاقلبالغمعرفةحقيقتهولكلركنمنهاشعبوفيشعبهامسائلاتفقاهلالسنةفيهاعلىقولواحدوضللوامنخالفهمفيهاواولالاركانالتىرأوهامناصولالديناثباتالحقائقوالعلومعلىالخصوصوالعموم…والركنالثانىعشرفيمعرفةالخلافةوالامامةوشروطالزعامة…

    Pasal Ketiga: Di Antara Bagian-bagian Bab Ini; Penjelasan Masalah-masalah Ushul Yang Ahlus Sunnah Telah Sepakat Di Atasnya. Mayoritas ulama Ahlus Sunnah sepakat atas perkara-perkara ushul yang menjadi bagian dari rukun-rukun dien (pilar-pilar agama Islam).Setiap rukun dari rukun-rukun tersebut wajib atas setiap orang yang berakal dan baligh mengetahui hakekatnya. Setiap rukun dari perkara-perkara ushuluddin tersebut memiliki cabang-cabang, dan di dalam cabang-cabang itu terdapat masalah-masalah yang ahlus sunnah wal jamamah telah menyepakatinya secara bulat, dan mereka menyesatkan siapa saja yang menyelisihi mereka dalam perkara-perkara tersebut, yakni: (1) Rukun Pertama, yang mereka (ahlus sunnah) pandang sebagai bagian dari ushuluddin: Penetapan hakekat-hakekat dan pengetahuan-pengetahuan atas yang khusus dan umum. (Itsbaat al-haqaaiq wa al-uluum ‘ala al-khushush wa al-‘umuum)….. (12) Rukun Kedua belas: Khilafah dan Imamah, dan syarat-syarat pemimpin. (13) [Imam Asyfirayaini, al-Farq bain al-Firaq, hal. 279]

    Di dalam Kitab Raudlat al-Thaalibiin wa ’Umdat al-Muftiin, disebutkan:

    الفصل الثاني في وجوب الإمامة وبيان طرقها, لا بد للأمة من إمام يقيم الدين وينصر السنة وينتصف للمظلومين ويستوفي الحقوق ويضعها مواضعها.قلت تولي الإمامة فرض كفاية فإن لم يكن من يصلح إلا وأحد تعين عليه ولزمه طلبها إن لم يبتدئوه والله أعلم.

    “Pasal kedua tentang kewajiban Imamah dan penjelasan mengenai jalan-jalan (menegakkan) Imamah. Sudah menjadi sebuah keharusan bagi umat adanya seorang Imam yang menegakkan agama, menolong sunnah, menolong orang-orang yang didzalimi, memenuhi hak-hak dan menempatkan hak-hak pada tempatnya. Saya berpendapat bahwa menegakkan Imamah adalah fardlu kifayah. Jika tidak ada lagi orang yang layak (menjadi seorang Imam) kecuali hanya satu orang, maka ia dipilih menjadi Imam dan wajib atas orang tersebut menuntut jabatan Imamah jika orang-orang tidak meminta dirinya terlebih dahulu. Wallahu A’lam”. [Imam An Nawawiy, Raudlat al-Thaalibiin wa ‘Umdat al-Muftiin, juz 3/433]

    Syaikh al-Islaam, Imam Zakariya bin Mohammad bin Ahmad bin Zakariya al-Anshoriy di dalam Fath al-Wahab, menyatakan:

    (فصل) في شروط الامام الاعظم، وفي بيان طرق انعقاد الامامة، وهي فرض كفاية كالقضاء

    “(Pasal) tentang syarat-syarat Imam al-A’dzam dan penjelasan mengenai metode untuk pengangkatan Imamah. Imamah hukumnya adalah fardlu kifayah seperti al-qadla’ (peradilan)”. [Imam Zakariya bin Mohammad bin Ahmad bin Zakariya al-Anshoriy, Fath al-Wahab bi Syarh Minhaj al-Thulaab, juz 2/268]

    Kata Imamah, Khilafah dan Imaratu al-Mukminiin adalah sinonim (memiliki makna yang sama). Di dalam Kitab al-Majmuu’, Imam An Nawawiy menyatakan:

    والمراد بالامام الرئيس الا على للدولة، والامامة والخلافة وإمارة المؤمنين مترادفة، والمراد بها الرياسة العامة في شئون الدين والدنيا.ويرى ابن حزم أن الامام إذا أطلق انصرف إلى الخليفة، أما إذا قيد انصرف إلى ما قيد به من إمام الصلاة وإمام الحديث وإمام القوم.

    Yang dimaksud dengan al-Imam, tidak lain tidak bukan adalah kepala Negara. Al-Imamah, al-Khilafah, Imaarat al-Mukminiin adalah mutaraadif (sinonim).Sedangkan yang dimaksud dengan al-Imamah adalah kepemimpinan umum (al-riyaasah al-‘aamah) dalam mengatur urusan agama dan dunia. Ibnu Hazm berpendapat bahwa kata “al-Imam”, jika disebut secara mutlak, maka pengertiannya adalah al-khalifah. Adapun jika disebut dengan taqyid (pembatasan) maka maknanya adalah sesuai dengan batasan tersebut, misalnya, imam sholat, imam al-hadits, dan imam suatu kaum. [Imam An Nawawiy, Al-Majmuu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 19/191]
    Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwasanya syariat Islam telah menetapkan kewajiban mendirikan Khilafah, Imamah, atau Imaratul Mukminin sebagai sebuah system pemerintahan tertentu dalam negara tertentu pula (Daar al-Islaam).

    Bagaimana bisa dinyatakan tidak ada kewajiban mendirikan Khilafah atau Imamah, atau Imaratul Mukminiin, dan yang ada hanyalah kewajiban mengangkat seorang Khalifah, sedangkan ulama ahlus sunnah wal jama’ah telah menetapkan Khilafah atau Imamah sebagai bagian dari arkaan al-diin (rukun agama) yang kewajibannya telah disepakati (mujma’ ‘alaih)?

    Adapun kewajiban mengangkat seorang Imam atau Khalifah disebut di dalam banyak kitab-kitab klasik mu’tabar hampir di seluruh madzhab terkemuka.Imam Abu Zakaria An Nawawiy, dari kalangan ulama madzhab Syafi’iy mengatakan;

    وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ يَجِب عَلَى الْمُسْلِمِينَ نَصْبُ خَلِيفَةٍ وَوُجُوبُهُ بِالشَّرْعِ لَا بِالْعَقْلِ ، وَأَمَّا مَا حُكِيَ عَنْ الْأَصَمّ أَنَّهُ قَالَ : لَا يَجِبُ ، وَعَنْ غَيْرِهِ أَنَّهُ يَجِبُ بِالْعَقْلِ لَا بِالشَّرْعِ فَبَاطِلَانِ ،

    “Para ulama sepakat bahwa sesungguhnya wajib atas kaum Muslim mengangkat seorang khalifah.Dan kewajibannya (mengangkat seorang khalifah) ditetapkan berdasarkan syariat, bukan berdasarkan akal. Adapun apa yang diriwayatkan dari al-Asham bahwa ia berkata, “Tidak wajib”, dan selain Asham yang menyatakan bahwa mengangkat seorang khalifah wajib namun berdasarkan akal bukan berdasarkan syariat , maka dua pendapat ini bathil”. [Imam Abu Zakaria An Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, juz 6/291]

    Imam ‘Alauddin al-Kasaniy, seorang ulama besar dari madzhab Hanafiy menyatakan;

    وَلِأَنَّ نَصْبَ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ فَرْضٌ ، بِلَا خِلَافٍ بَيْنَ أَهْلِ الْحَقِّ ، وَلَا عِبْرَةَ – بِخِلَافِ بَعْضِ الْقَدَرِيَّةِ – ؛ لِإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَلَى ذَلِكَ ، وَلِمِسَاسِ الْحَاجَةِ إلَيْهِ ؛ لِتَقَيُّدِ الْأَحْكَامِ ، وَإِنْصَافِ الْمَظْلُومِ مِنْ الظَّالِمِ ، وَقَطْعِ الْمُنَازَعَاتِ الَّتِي هِيَ مَادَّةُ الْفَسَادِ ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْمَصَالِحِ الَّتِي لَا تَقُومُ إلَّا بِإِمَامٍ ، …

    “Sebab, mengangkat seorang Imamul A’dzam (imam agung) adalah fardlu, tidak ada perbedaan pendapat di antara ahlul haq. Tidak bernilai sama sekali –penyelisihan sebagian kelompok Qadariyyah–, dikarenakan adanya ijma’ shahabat ra atas kewajiban itu. Dan juga dikarenakan adanya kebutuhan terhadap khalifah; agar bisa terikat dengan hukum-hukum (syariat); membela orang yang didzalimi dari orang yang dzalim; memutus perselisihan yang menjadi sebab kerusakan, dan kemashlahatan-kemashlahatan lain yang tidak mungkin bisa tegak tanpa adanya seorang imam…”[Imam al-Kasaaniy, Badaai` al-Shanaai` fiy Tartib al-Syaraai’, juz 14/406]

    Hukum mengangkat seorang Khalifah atau al-Imam al-A’dham, menurut ulama madzhab Hanafiy adalah fardlu.Dalam tradisi keilmuan madzhab Hanafiy, jika hukum suatu perkara adalah fardlu, maka menolak perkara tersebut adalah kafir tanpa ada keraguan. Begitu pula jika seseorang meninggalkan kewajiban tersebutdisertai dengan peremehan dan penolakan, maka ia telah kafir. Imam Sarakhsiy dalam Kitab Ushul al-Sarakhsiy menyatakan:

    فالفرضاسملمقدرشرعالايحتملالزيادةوالنقصان،وهومقطوعبهلكونهثابتابدليلموجبللعلمقطعامنالكتابأوالسنةالمتواترةأوالاجماع… وحكمهذاالقسمشرعاأنهموجبللعلماعتقاداباعتبارأنهثابتبدليلمقطوعبهولهذايكفرجاحده،وموجبللعملبالبدنللزومالاداءبدليله،فيكونالمؤديمطيعالربهوالتاركللاداءعاصيا،لانهبتركالاداءمبدلللعمللاللاعتقادوضدالطاعةالعصيانولهذالايكفربالامتناععنالاداءفيماهومنأركانالدين،لامنأصلالدينإلاأنيكونتاركاعلىوجهالاستخفاففإناستخفافأمرالشارعكفر،فأمابدونالاستخفاففهوعاصبالتركمنغيرعذر،فاسقلخروجهمنطاعةربه،فالفسقهوالخروج،

    ”Fardlu adalah sebutan untuk “kadar tertentu” yang secara syar’iy tidak mengandung penambahan atau pengurangan; dan ia bisa dipastikan kebenarannya. Sebab, fardlu ditetapkan berdasarkan dalil-dalil yang menghasilkan keyakinan secara pasti (‘ilm qath’iy) baik yang bersumber dari al-Quran, Sunnah Mutawatir, atau Ijma’…Secara syar’iy hukum untuk kategori semacam ini menghasilkan keyakinan pasti; sebab, fardlu ditetapkan berdasarkan dalil yang pasti. Oleh karena itu, siapa saja yang mengingkari hukum semacam ini (fardlu) dianggap kafir. Perkara fardlu harus diamalkan dengan anggota badan. Orang yang menunaikannya adalah orang yang taat kepada Rabbnya, dan siapa saja yang meninggalkannya adalah orang-orang yang maksiyat. Sebab, ketika ia tidak menunaikannya, berarti ia telah membatalkan amal perbuatan, namun tidak membatalkan keyakinannya. Sedangkan melanggar ketaatan termasuk kemaksiyatan. Oleh karena itu, orang yang meninggalkan perbuatan yang termasuk rukun agama atau ushulul diin, tidak boleh dianggap kafir; kecuali jika orang yang meninggalkan perbuatan itu disertai dengan unsur meremehkan atau menolak hukum. Pasalnya menolak atau meremehkan perintah Allah swt termasuk kekufuran. Namun, jika ia meninggalkan perbuatan fardlu tersebut tidak disertai dengan penolakan atau peremehan, maka orang tersebut hanya terkategori orang yang berbuat maksiyat. Pasalnya, ia telah meninggalkan kewajiban tanpa ada udzur. Orang tersebut terkategori fasiq, jika ia keluar dari ketaatan kepada Tuhannya. Sebab, al-fisq (fasik) bermakna al-khuruj (keluar)”.[Imam Sarakhsiy, Ushuul al-Sarakhsiy, Juz 1, hal. 111]

    Di dalam Kitab al-Taaj wa al-Ikliil li Mukhtashar Khaliil, disebutkan:

    ( وَالْإِمَامَةِ ) قَالَإمَامُالْحَرَمَيْنِأَبُوالْمَعَالِي : لَايُسْتَدْرَكُبِمُوجِبَاتِالْعُقُولِنَصْبُإمَامٍوَلَكِنْيَثْبُتُبِإِجْمَاعِالْمُسْلِمِينَوَأَدِلَّةِالسَّمْعِوُجُوبُنَصْبِإمَامٍفِيكُلِّعَصْرٍيَرْجِعُإلَيْهِفِيالْمُلِمَّاتِوَتُفَوَّضُإلَيْهِالْمَصَالِحُالْعَامَّةُ ( وَالْأَمْرِبِالْمَعْرُوفِ )

    “(Wa al-Imaamah): Imam al-Haramain Abu al-Ma’aaliy berkata: Mengangkat seorang Imam tidaklah bisa ditetapkan berdasarkan logika akal, tetapi ditetapkan berdasarkan ijma’ kaum Muslim dan dalil-dalil sam’iyyah. Kewajiban mengangkat seorang Imam di setiap masa untuk mengembalikan kesukaran-kesukaran kepadanya, dan untuk diserahkan kemashlahatan umum kepadanya”.[Imam al-Muwaaq, al-Taaj wa al-Ikliil li Mukhtashar Khaliil, juz 5/131]

    Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwasanya para ulama tidak hanya menetapkan kewajiban mengangkat seorang Khalifah, tetapi mereka juga menetapkan kewajiban mendirikan Khilafah atau Imamah.Bahkan mereka memasukkannya sebagai bagian dari pilar agama Islam.

    Lantas, setelah penjelasan jernih dan mendalam ini, masihkah ada orang yang ragu dan menolak kefardluan mengangkat Khalifah dan menegakkan Khilafah?

  4. Memahami Terma Khalifah dan Khilafah Berdasarkan Penjelasan Ulama Mu’tabar

    Berdasarkan penjelasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwasanya ulama aswaja tidak pernah berselisih pendapat mengenai kewajiban mengangkat seorang Khalifah dan mendirikan Khilafah atau Imamah. Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan Khalifah dan Khilafah?

    Segelintir orang yang mengaku-ngaku bagian dari aswaja menyatakan bahwa terma khalifah adalah terma umum untuk menggambarkan pemimpin atau penguasa sebuah negara. Menurut mereka, kewajiban mengangkat seorang khalifah merupakan kewajiban mengangkat seorang pemimpin atau penguasa negara tanpa memperhatikan lagi system pemerintahan dan system hukum yang diberlakukan negara tersebut.Akibatnya, mereka menyamakan atau mengidentikkan terma presiden, kaisar, raja, dan sebutan-sebutan lain untuk kepala negara dengan terma khalifah.Sebab, semuanya sama-sama pemimpin dan penguasa negara. Dengan demikian, masih menurut mereka, mengangkat seorang Khalifah samaartinya dengan mengangkat seorang presiden, kaisar, raja, dan sebutan-sebutan lain. Mereka beralasan bahwa para ulama hanya mewajibkan mengangkat khalifah tanpa menjelaskan secara jelas system pemerintahannya.

    Imam Qurthubiy, seorang ulama dari Madzhab Malikiy , ketika menjelaskan makna surat Al Baqarah (2) ayat 30, menyatakan:

    ”… هَذِهِ اْلآيَةُ أَصْلٌ فِي نَصْبِ إِمَامٍ وَخَلِيْفَةٍ يُسْمَعُ لَهُ وَيُطَاعُ، لِتُجْتَمَعَ بِهِ الْكَلِمَةُ، وَتُنَفَّذَ بِهِ أَحْكَامُ الْخَلِيْفَةِ. وَلاَ خِلاَفَ فِي وُجُوْبِ ذَلِكَ بَيْنَ اْلاُمَّةِ وَلاَ بَيْنَ اْلاَئِمَّةِ إِلاَّ مَا رُوِيَ عَنِ اْلاَصَمِ..“

    “..Ayat ini adalah dalil asal tentang wajibnya mengangkat seorang imam atau khalifah yang didengar dan ditaati, yang dengannya kalimat (persatuan umat) disatukan, dan dengannya dilaksanakan hukum-hukum khalifah. Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban ini, baik di kalangan umat maupun kalangan para ulama, kecuali yang diriwayatkan dari Al-Asham…” (catatan: Al-Asham adalah orang Mu’tazilah yang berpendapat bahwa mengangkat seorang khalifah tidak wajib, dan dia dianggap sesat dan menyimpang dari kesepakatan kaum Muslim)”.[Imam Qurthubiy, Al Jaami’ li Ahkaam al-Quran, juz 1/264-265].

    Menurut orang yang mengaku-ngaku ahlus sunnah wal jama’ah, di dalam penjelasan ini, Imam Qurthubiy hanya menyatakan, “Ayat ini adalah dalil asal tentang wajibnya mengangkat seorang imam atau khalifah,” dan beliau rahimahullah tidak menjelaskan system pemerintahannya. Masih menurut pengaku aswaja, yang diwajibkan hanyalah mengangkat seorang Khalifah, bukan menegakkan Khilafah.Mereka juga menyatakan bahwa yang dimaksud khalifah dalam penjelasan beliau adalah pemimpin atau kepala negara, bukan khalifah yang memimpin dalam sebuah system pemerintahan tertentu (Khilafah).

    Pandangan semacam ini, sesungguhnya merupakan bentuk kadangkalan berfikir, kemalasan intelektual, dan asal-asalan berpendapat.Bahkan, ditengarai merupakan upaya melanggengkan system pemerintahan demokrasi-sekuler dan melestarikan penerapan hukum-hukum kufur buatan manusia.Tidak hanya itu saja, pendapat itu diduga kuat merupakan tipu daya mempertahankan eksistensi penguasa-penguasa dholim yang menjadi antek negara-negara kafir imperialis.

    Para ulama ahlus sunnah wal jama’ah sepakat bahwasanya Khalifah adalah orang yang memegang jabatan Khilafah atau Imamah. Sistem pemerintahan Islam disebut dengan Khilafah karena orang yang memegang jabatan Khilafah disebut dengan khalifah, yakni orang yang menggantikan pemimpin sebelumnya dalam menjaga urusan agama dan kemashlahatan kaum Muslim. Disebut pula dengan Imamah, karena kedudukan Khalifah Imam, atau Amirul Mukminin laksana imam sholat yang wajib diikuti dan ditaati oleh makmum. Khalifah, Imam, atau Amirul Mukmin bukanlah orang yang menduduki jabatan kepala negara dalam system demokrasi-sekuler, dan juga bukan dalam system monarchi, kekaisaran, maupun federasi. Atas dasar itu, mengidentikkan presiden, raja, kaisar, atau perdana menteri dengan Khalifah, sama seperti menyamakan siang dan malam.

    Coba perhatikan penjelasan berharga Syeikh Muhammad Abu Zahrah dalam Kitab Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah!! Beliau rahimahullah ta’ala menyatakan:

    المذاهب السياسية كلها تدور حول الخلافة وهي الإمامة الكبرى ، وسميت خلافة لأن الذي يتولاها ويكون الحاكم الأعظم للمسلمين يخلف النبي في إدارةشؤونهم ، وتسمى إمامة : لأن الخليفة كان يسمى إمامًا ، ولأن طاعته واجبة ، ولأن الناس كانوا يسيرون وراءه كما يصلون وراء من يؤمهم الصلاة

    “Madzhab-madzhab politik, seluruhnya mendefinisikan khilafah di seputar imamah al-kubra (kepemimpinan agung).Disebut khilafah karena pihak yang memegang jabatan khilafah menjadi penguasa agung atas kaum Muslim menggantikan Nabi SAW dalam mengatur urusan mereka. Disebut imamah karena, Khalifah disebut Imam, dan karena taat kepadanya adalah wajib, dan karena manusia berjalan di belakang imam tersebut layaknya mereka shalat di belakang orang yang mengimami mereka dalam shalat”.[Syeikh Muhammad Abu Zahrah, Tarikh Al-Madzahib al-Islamiyyah, juz 1/21]

    Atas dasar itu, pada saat Imam Qurthubiy menyatakan kewajiban mengangkat Khalifah, maka secara otomatis itu juga pernyataan mengenai wajibnya kaum Muslim menegakkan Imamah, Khilafah, atau Imaratu al-Muslimiin. Sebab, Khalifah adalah sebutan bagi orang yang memegang tampuk Khilafah atau Imamah yang bermakna “kepemimpinan umum dalam berbagai urusan agama dan dunia yang dimiliki seorang individu dari individu-individu lain yang ada”.[Imam Al-Aijiy, Al-Mawaaqif, juz 3/578] Tidak disebut Khalifah, Imam, atau Amirul Mukminiin jika ia tidak memegang tampuk Khilafah, Imamah, atau Imaratu al-Mukminiin.

    Hanya saja, agar persoalan ini menjadi semakin jelas dan terang benderang, kami akan menjelaskan syubhat ini dengan penjelasan yang jernih dan mendalam, terjauh dari tendensi dunia, serta hanya mengharap petunjuk dari Allah swt, agar tersingkap mana pendapat lurus yang sejalan dengan pandangan para ulama aswaja, dan mana pendapat bengkok yang ditujukan untuk mempertahankan kedhaliman dan kebathilan.

    Khalifah Adalah Kepala Negara Dalam Sistem Khilafah: Khilafah Tidak Identik dan Bertentangan Dengan Sistem Pemerintahan Demokrasi, Monarchi, Kekaisaran, dan Federasi

    Khalifah adalah istilah syariat yang dipakai untuk menggambarkan realitas tertentu dari seorang pemimpin negara yang menduduki tampuk Khilafah atau Imamah.Tidak ada satupun ulama mu’tabar yang mendefinisikan Khalifah sebagai kepala negara yang menduduki jabatan tertinggi dalam pemerintahan demokrasi, kerajaan, maupun kekaisaran. Oleh karena itu, dari sisi makna dan realitas, terma Khalifah tidak identik sama sekali dengan presiden, raja, kaisar, perdana menteri, dan sebutan-sebutan lain. Mengidentikkan Khalifahdengan presiden, raja, kaisar, perdana menteri, dan lain-lain merupakan kesalahan fatal dan kengawuran yang tiada tara.

    Untuk memahami makna kata “Khalifah dan Khilafah” sudah seharusnya kita merujuk kepada penjelasan ulama mu’tabar yang memahami masalah ini secara mendalam.

    Di dalam Kitab al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun menyatakan:

    وإذ قد بيَّنَّا حقيقة هذا المنصف وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإماما .فأما تسميته إماماً فتشبيهاً بإمام الصلاة في اتباعه والاقتداء به، ولهذا يقال: الإمامة الكبرى. وأما تسميته خليفة فلكونه يخلف النبي في أمته

    “Telah menjadi jelas bagi kita hakekat dari kedudukan ini (munasib) (munasib dari Khilafah dan Imamah); dan sesungguhnyawakil Pemilik Syariah dalam menjaga agama serta pengaturan urusan duniawi di dalamnya disebut dengan khilafah dan imamah.Sedangkan yang menempati kedudukan itu adalah Khalifah atau Imam”. Adapun penamaannya dengan Imam diserupakan dengan imam sholat dalam hal wajibnya untuk diikuti dan dipanuti. Oleh karena itu, dinyatakan: al-Imamah al-Kubra (Kepemimpinan Agung). Adapun penyebutannya dengan Khalifah, disebabkan karena ia menggantikan Nabi saw dalam (mengatur) urusan umatnya.[Imam ‘Abdurrahman Ibn Khaldun, Al Muqaddimah, hal 190]

    Syeikh Muhammad Abu Zahrah menyatakan:

    المذاهب السياسية كلها تدور حول الخلافة وهي الإمامة الكبرى ، وسميت خلافة لأن الذي يتولاها ويكون الحاكم الأعظم للمسلمين يخلف النبي في إدارةشؤونهم ، وتسمى إمامة : لأن الخليفة كان يسمى إمامًا ، ولأن طاعته واجبة ، ولأن الناس كانوا يسيرون وراءه كما يصلون وراء من يؤمهم الصلاة

    “Madzhab-madzhab politik, seluruhnya mendefinisikan khilafah di seputar imamah al-kubra (kepemimpinan agung).Disebut khilafah karena pihak yang memegang jabatan khilafah menjadi penguasa agung atas kaum Muslim menggantikan Nabi SAW dalam mengatur urusan mereka. Disebut imamah karena, Khalifah disebut Imam, dan karena taat kepadanya adalah wajib, dan karena manusia berjalan di belakang imam tersebut layaknya mereka shalat di belakang orang yang mengimami mereka dalam shalat”.[Syeikh Muhammad Abu Zahrah, Tarikh Al-Madzahib al-Islamiyyah, juz 1/21]

    Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa khalifah atau imam adalah orang yang menduduki tampuk Khilafah atau Imamah. Khalifah, Amirul Mukminin, atau Imam adalah pemimpin agung seluruh kaum Muslim di dunia yang bertugas mengatur urusan kaum Muslim. Khilafah adalah system pemerintahan dan bentuk negara yang dicontohkan Nabi saw dan para shahabat.

    Imam Qalqasyandiy dalam kitab Ma`aatsir al-Inafah fiy Ma’aalim al-Khilaafah, menyatakan, setidaknya ada tiga pendapat mengenai munasib (kedudukan) Khilafah. Kelompok pertama berpandangan bahwa Khilafah adalah wakil Allah swt di muka bumi untuk mengatur urusan manusia. Hanya saja, mayoritas fuqaha tidak menyukai sebutan Khaliifatullah (Wakil Allah swt) bagi orang yang menempati jabatan Khilafah. Imam An Nawawiy di dalam Kitab Al-Adzkar, menyatakan, ”Hendaknya tidak dikatakan untuk orang yang mengatur urusan kaum Muslim: khalifatullah, tetapi, disebut dengan Khalifah, dan khalifatur Rasul, dan amiirul Mukminin”. [Imam Muhyiddin An Nawawiy, al-Adzkaar, hal. 360]. Pendapat ini juga diperkuat oleh riwayat yang menyatakan penolakan Abu Bakar ra dan Umar bin ’Abdul ’Aziz atas sebutan Khaliifatullah bagi diri mereka. Keduanya lebih suka disebut Khaliifatur Rasul, atau Amiirul Mukminiin. [Al-Adzkar, hal. 361] Kelompok kedua berpendapat bahwa Khilafah adalah wakil Rasulullah saw untuk mengatur urusan manusia. Kelompok ini beralasan bahwa khaliifah adalah orang yang menggantikan kedudukan Nabi saw dalam mengatur urusan umat. Ulama yang berpendapat seperti ini beralasan dengan ucapan Abu Bakar ra dan Umar bin ’Abdul ’Aziz ra di atas. Imam An Nawawiy, Imam Baidlawiy, Imam -Aijiy, dan lain-lain, memilih pendapat ini. Kelompok ketiga berpendapat bahwa Khilafah adalah sebutan untuk pengganti dari Khalifah sebelumnya. [Imam Qalqasyandiy, Ma`aatsir al-Inaafah fi Ma’aalim al-Khilaafah, juz 1/14-17]

    Di antara ulama yang berpendapat bahwa al-Khilafah adalah wakil-wakil Allah swt adalah Imam Al-Zujaj, seorang tokoh ahli bahasa Arab. Di dalam kamus Lisanul ’Arab, Imam Ibnu Mandzur mengatakan:

    قال الزجاج جاز أن يقال للأَئمة خُلفاء الله في أَرْضِه بقوله عز وجل يا داودُ إنَّا جَعَلْناك خَلِيفةً في الأرض وقال غيره الخَليفةُ السلطانُ الأَعظم وقد يؤنَّثُ وأَنشد الفراء أَبوكَ خَلِيفةٌ وَلَدَتْه أُخْرَى وأَنتَ خَليفةٌ ذاكَ الكَمالُ قال ولدته أُخْرَى لتأْنيث اسم الخليفة والوجه أَن يكون ولده آخَرُ وقال الفراء في قوله تعالى هو الذي جعلكم خلائِفَ في الأرض قال جعل أُمة محمد خَلائفَ كلِّ الأُمم

    ”Az Zujaj berkata, “Boleh saja dikatakan untuk para pemimpin (al-aimmah) dengan sebutan khulafaa` Allah fi ardlihi ’azza wa jalla; berdasarkan firman Allah swt, ”Wahai Dawud, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sebagai Khalifah di muka bumi”. [ImamIbnu Mandzur, Lisaan al-’Arab, juz 9/82]

    Adapun pendapat yang menyatakan bahwa khilafah adalah wakil Rasulullah saw dalam menegakkan agama dan mengatur seluruh urusan manusia, sesungguhnya pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama. Di dalam Kitab al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun menyatakan:

    وإذ قد بيَّنَّا حقيقة هذا المنصف وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإماما .فأما تسميته إماماً فتشبيهاً بإمام الصلاة في اتباعه والاقتداء به، ولهذا يقال: الإمامة الكبرى. وأما تسميته خليفة فلكونه يخلف النبي في أمته، فيقال: خليفة بإطلاق، وخليفة رسول الله. واختلف في تسميته خليفة الله. فأجازه بعضهم اقتباساً من الخلافة العامة التي للآدميين في قوله تعالى: ” إني جاعل في الأرض خليفة ” وقوله: ” جعلكم خلائف الأرض ” . ومنع الجمهور منه، لأن معنى الآية ليس عليه، وقد نهى أبو بكر عنه لما دعي به، وقال: ” لست خليفة الله ولكني خليفة رسول الله صلى الله عليه وسلم ” ولأن الاستخلاف إنما هو في حق الغائب، وأما الحاضر فلا.

    “Telah menjadi jelas bagi kita hakekat dari kedudukan ini (munasib) (munasib dari Khilafah dan Imamah). Sesungguhnya, wakil Pemilik Syariah dalam menjaga agama serta pengaturan urusan duniawi di dalamnya disebut dengan khilafah dan imamah. Sedangkan yang menempati kedudukan itu adalah Khalifah atau Imam”. Adapun penamaannya dengan Imam diserupakan dengan dengan imam sholat dalam hal wajibnya untuk diikuti dan dipanuti. Oleh karena itu, dinyatakan: al-Imamah al-Kubra (Kepemimpinan Agung). Adapun penyebutannya dengan Khalifah, disebabkan karena ia menggantikan Nabi saw dalam (mengatur) urusan umatnya. Dinyatakan, “Khaliifah secara mutlak dan Khalifah Rasulullah saw. Adapun penyebutannya dengan Khalifatullah masih diperselisihkan. Sebagian ulama membolehkan karena diidentikkan dengan Khilafah umum untuk manusia, sebagaimana tersebut dalam firman Allah swt, “Sesungguhnya, Aku menjadikan Khalifah di muka bumi”.[TQS Al Baqarah (2):30], dan firmanNya, “Dia menjadikan kalian sebagai Khalifah-Khalifah di muka bumi”. [TQS Faathir (35):39]. Mayoritas ulama melarang sebutan tersebut (khalifatullah).Sebab, makna ayat ini tidak seperti itu. Abu Bakar ra juga melarang sebutan itu, tatkala beliau dipanggil dengan sebutan khalifatullah; dan beliau berkata, “Aku bukanlah khalifatullah, akan tetapi, aku adalah Khalifah Rasulullah saw”. Selain itu, istikhlaf itu hanyalah hak bagi orang yang telah tiada, dan tidak bagi orang yang hadir”.[Abdurrahman Ibn Khaldun, Al Muqaddimah, hal 190]

    Imam al-Aijiy, dalam Kitab Al Mawaqif menyatakan:

    هي خلافة الرسول في إقامة الدين بحيث يجب إتباعه على كافة الأمة
    “Imamah adalah Khilafah (wakil) Rasul SAW dalam menegakkan agama, dimana seluruh umat wajib mengikutinya..”. [Imam Abdurrahman bin Ahmad al-Aiji, Al-Mawaaqif, juz 3/ 574]. Di tempat yang lain, Al Aijiy menyatakan:

    قال قوم من أصحابنا الإمامة رياسة عامة في أمور الدين والدنيا لشخص من الأشخاص

    “Sebagaian kelompok dari shahabat kami menyatakan bahwa imamah itu adalah kepemimpinan umum dalam berbagai urusan agama dan dunia yang dimiliki seorang individu dari individu-individu lain yang ada”.[Imam Al-Aijiy, Al-Mawaaqif, juz 3/578]

    Imam Al Ramli menyatakan:

    الخليفة هو الامام الاعظام, القائم بخلافة النبوة, فى حراسة الدين وسياسة الدنيا

    “Khalifah itu adalah imam paling agung yang menduduki jabatan khilafah nubuwwah dalam melindungi agama serta pengaturan urusan dunia.”[Imam Al Ramli Muhammad bin Ahmad bin Hamzah, Nihayat al-Muhtaaj ila Syarh al-Minhaj fil Fiqhi ‘ala Madzhab Al Imam Al Syafi’i, juz 7/289]

    Syeikh Musthafa Shabari, Syeikhul Islam Khilafah Ustmaniyyah, menyatakan:

    الخلافة عن الرسول الله صلى الله عليه وسلم فى تنفيذ ما أتى به من شريعة الاسلام

    “Khilafah itu adalah penganti dari Rasulullah SAW dalam melaksanakan syariat Islam yang datang melalui beliau saw”.

    Di dalam Kitab al-Ahkaam al-Sulthaniyyah, Imam Al Mawardi Asy-Syafi’i menyatakan:

    الإمامة موضوعة لخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا به

    “Imamah itu diposisikan untuk khilafah nubuwwah dalam menjaga agama dan pengaturan urusan dunia.” [Imam Al Mawardi, Ali bin Muhammad, Al-Ahkaam Al Sulthaniyyah, hal 5]

    Dalam Kitab Haasyiyyah Bujairamiy ‘Ala al-Minhaj disebutkan:

    (فَصْلٌ : فِي شُرُوطِ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ إلَخْ ) عَقَّبَ الْبُغَاةَ بِهَذَا ؛ لِأَنَّ الْبَغْيَ خُرُوجٌ عَلَى الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ الْقَائِمِ بِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا شَرْحُ م ر ( قَوْلُهُ : انْعِقَادِ الْإِمَامَةِ ) هِيَ خِلَافَةُ الرَّسُولِ فِي إقَامَةِ الدِّينِ …

    “Pasal: Syarat-syarat Imam al-A’dzam (Khaliifah); dengan ini Imam menjatuhkan sanksi kepada ahlul bughat. Sebab, bughat adalah memisahkan diri dari Imam al-A’dzam yang menduduki jabatan Khilafah al-Nubuwwah dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia. Syarah (Perkataannya: Pengangkatan Imamah): Imamah adalah Khilafah Rasul dalam menegakkan agama….”[Imam al-Bajairamiy, Haasyiyyah Bujairamiy ‘ala al-Minhaj, juz 15/69]

    Adapun pendapat ketiga –khilafah adalah kepemimpinan yang menggantikan kepemimpinan sebelumnya; maka pendapat ini diikuti oleh minoritas ulama.Di dalam sumber-sumber mu’tabar juga tidak disebutkan nama-nama ulama yang mengikuti pendapat ini. Hanya saja di dalam Kitab Ma`aatsir al-Inafah fiy Ma’aalim al-Khilafah dituturkan sebagai berikut:

    إن الخلافة قد تكون عن الخليفة قبل ذلك الخليفة. فيقال: فلان خليفة فلان واحدا بعد واحد, حتى ينتهي الى أبي بكر رضي الله عنه, فيقال فيه : خليفة رسول الله صلى الله عليه وسلم”

    “Khilafah kadang-kadang ada dari Khalifah sebelum dari Khalifah tersebut; sehingga dinyatakan fulan adalah Khalifah fulan satu demi satu hingga berakhir kepada Abu Bakar ra. Lalu dinyatakan untuk beliau ra: Khalifah Rasulullah saw”.[Imam al-Qalqasyandiy, Ma`aatsir al-Inafah fiy Ma’aalim al-Khilafah, juz 1/17].

    Selain definisi-definisi di atas, ada pula definisi Khilafah tanpa menyebutkan munasibnya secara tegas.Tampaknya, kelompok ini lebih menonjolkan Khilafah atau Imamah sebagai sebuah kepemimpinan umum atas kaum Muslim. Imam Al-Haramain berkata:

    الإمامة رياسة تامة ، وزعامة تتعلق بالخاصة والعامة في مهمات الدين والدنيا

    “Imamah itu adalah kepemimpinan yang sifatnya utuh, dan kepemimpinan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat umum dan khusus dalam urusan-urusan agama maupun dunia”. [Imam Al Haramain, Abu Al Ma’ali Al Juwaini, Ghiyats al-Umam fil Tiyatsi Al-Dzulam, hal 15]

    Shahibu Ma’atsiril Inafah fii Ma’alimil Khilafah menyatakan:

    وهي الولاية العامة على كافة الامة, والقيام بأمورها و النهوض بأعبائها.

    “Khilafah adalah kepemimpinan umum untuk umat secara keseluruhan, dan menegakkan urusan-urusannya dan melaksanakan tugas-tugasnya”.[Imam al-Qalqasyandiy, Ma`aatsir al-Inaafah fi Ma’aalim al-Khilaafah, juz 1/9; lihat juga Asy Syeikh Musthafa Shabari, Mauqif al-‘Aql wa al-‘Ilmi wa al-‘Alam, juz 4/262]

    Di dalam Kitab al-Majmuu’ dinyatakan:

    ومن ثم يأتي خطأ بعض المتكلمين في قولهم لو تكاف الناس عن الظلم لم يجب نصب الامام لان الصحابة رضى الله عنهم اجتمعوا على نصب الامام، والمراد بالامام الرئيس الا على للدولة، والامامة والخلافة وإمارة المؤمنين مترادفة، والمراد بها الرياسة العامة في شئون الدين والدنيا.ويرى ابن حزم أن الامام إذا أطلق انصرف إلى الخليفة، أما إذا قيد انصرف إلى ما قيد به من إمام الصلاة وإمام الحديث وإمام القوم.

    “Lalu, ada kesalahan yang menimpa sebagian ahli kalam dalam perkataan mereka, seandainya manusia mampu terhindar dari kedzaliman, maka mereka tidak wajib mengangkat seorang Imam.Pendapat ini salah, karena para shahabat ra telah bersepakat atas wajibnya mengangkat seorang Imam. Yang dimaksud dengan al-Imam, tidak lain tidak bukan adalah kepala Negara. Al-Imamah, al-Khilafah, Imaarat al-Mukminiin adalah mutaraadif (sinonim).Sedangkan yang dimaksud dengan al-Imamah adalah kepemimpinan umum (al-riyaasah al-‘aamah) dalam mengatur urusan agama dan dunia. Ibnu Hazm berpendapat bahwa kata “al-Imam”, jika disebut secara mutlak, maka pengertiannya adalah al-Khalifah. Adapun jika disebut dengan taqyid (pembatasan) maka maknanya adalah sesuai dengan batasan tersebut, misalnya, imam sholat, imam al-hadits, dan imam suatu kaum. [Imam An Nawawiy, Al-Majmuu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 19/191]

    Berdasarkan definisi di atas jelas sudah bahwa Khalifah, Imam, atau Amirul Mukminiin adalah sebutan bagi pemimpin agung seluruh kaum Muslim di dunia yang menduduki posisi Khilafah atau Imamah, yang bertugas menjaga agama (yakni menerapkan Islam secara kaaffah dan mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia), dan mengatur urusan kaum Muslim. Khalifah, Imam, atau Amirul Mukminin adalah orang yang menduduki tampuk pemerintahan Khilafah atau Imamah, bukan orang yang menduduki tampuk pemerintahan demokrasi, kerajaan, dan kekaisaran. Oleh karena itu, Khalifah tidak sama bahkan tidak berhubungan sama sekali dengan terma presiden, raja, kaisar, maupun perdana menteri.

    Adapun kekhususan system pemerintahan Khilafah Islamiyyah, Imamah, atau Imaratul Mukminiin dibandingkan system pemerintahan laindapat disarikan sebagai berikut:

    Pertama, Khilafah atau Imamah ditegakkan untuk menerapkan Islam secara kaaffah. Imam Ramli menyatakan:

    الخليفة هو الامام الاعظام, القائم بخلافة النبوة, فى حراسة الدين وسياسة الدنيا

    “Khalifah itu adalah imam paling agung yang menduduki jabatan khilafah nubuwwah dalam melindungi agama serta pengaturan urusan dunia.”[Imam Al Ramli Muhammad bin Ahmad bin Hamzah, Nihayat al-Muhtaaj ila Syarh al-Minhaj fil Fiqhi ‘ala Madzhab Al Imam Al Syafi’i, juz 7/289]

    Imam Al Mawardi, menyatakan:

    الإمامة موضوعة لخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا به

    “Imamah itu menduduki posisi untuk khilafah nubuwwah dalam menjaga agama dan pengaturan urusan dunia.” [Imam Al Mawardi, Ali bin Muhammad, Al-Ahkaam Al Sulthaniyyah, hal 5].

    Khilafah atau Imamah adalah sebuah system kepemimpinan atau pemerintahan yang tegak di atas Islam, serta didirikan untuk menerapkan Islam secara kaaffah dan mendakwahkannya ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Praktek Khulafaur Rasyidin dan para khalifah setelahnya menunjukkan kepada kita bahwa Khilafah dan Imamah merupakan system pemerintahan yang menjadikan ‘aqidah Islamiyyah sebagai dasar negara, dan menetapkan syariat Islam sebagai satu-satunya aturan untuk mengatur urusan rakyat dan negara.

    Lantas, bagaimana bisa dinyatakan system pemerintahan pemerintahan demokrasi yang menjadikan hukum-hukum kufur buatan manusia identik atau sama dengan system Khilafah?Bagaimana bisa dinyatakan kerajaan dan kekaisaran yang menjadikan titah raja dan kaisar sebagai hukum tertinggi disamakan dengan Khilafah?Orang yang menyamakan atau mengidentikkannya benar-benar telah terbenam dalam kekeliruan.

    Kedua, kepemimpinan dalam system Khilafah adalah tunggal untuk seluruh dunia.Tidak ada kekuasaan dan kepemimpinan kembar di dalam system Khilafah.Para ulama sepakat atas kepemimpinan tunggal bagi seluruh kaum Muslim di dunia.Imam An Nawawiy di dalam Kitab Syarah Shahih Muslim, menyatakan:

    إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَةٍ بَعْد خَلِيفَة فَبَيْعَة الْأَوَّل صَحِيحَة يَجِب الْوَفَاء بِهَا ، وَبَيْعَة الثَّانِي بَاطِلَة يَحْرُم الْوَفَاء بِهَا ، وَيَحْرُم عَلَيْهِ طَلَبهَا ، وَسَوَاء عَقَدُوا لِلثَّانِي عَالِمِينَ بِعَقْدِ الْأَوَّل أَوْ جَاهِلِينَ ، وَسَوَاء كَانَا فِي بَلَدَيْنِ أَوْ بَلَد ، أَوْ أَحَدهمَا فِي بَلَد الْإِمَام الْمُنْفَصِل وَالْآخَر فِي غَيْره ، هَذَا هُوَ الصَّوَاب الَّذِي عَلَيْهِ أَصْحَابنَا وَجَمَاهِير الْعُلَمَاء ، وَقِيلَ : تَكُون لِمَنْ عُقِدَتْ لَهُ فِي بَلَد الْإِمَام ، وَقِيلَ : يُقْرَع بَيْنهمْ ، وَهَذَانِ فَاسِدَانِ ، وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوز أَنْ يُعْقَد لِخَلِيفَتَيْنِ فِي عَصْر وَاحِد سَوَاء اِتَّسَعَتْ دَار الْإِسْلَام أَمْ لَا ، وَقَالَ إِمَام الْحَرَمَيْنِ فِي كِتَابه الْإِرْشَاد : قَالَ أَصْحَابنَا : لَا يَجُوز عَقْدهَا لِشَخْصَيْنِ ، قَالَ : وَعِنْدِي أَنَّهُ لَا يَجُوز عَقْدهَا لِاثْنَيْنِ فِي صُقْع وَاحِد ، وَهَذَا مُجْمَع عَلَيْهِ . قَالَ : فَإِنْ بَعُدَ مَا بَيْنَ الْإِمَامَيْنِ وَتَخَلَّلَتْ بَيْنهمَا شُسُوع فَلِلِاحْتِمَالِ فِيهِ مَجَال ، قَالَ : وَهُوَ خَارِج مِنْ الْقَوَاطِع ، وَحَكَى الْمَازِرِيُّ هَذَا الْقَوْل عَنْ بَعْض الْمُتَأَخِّرِينَ مِنْ أَهْل الْأَصْل ، وَأَرَادَ بِهِ إِمَام الْحَرَمَيْنِ ، وَهُوَ قَوْل فَاسِد مُخَالِف لِمَا عَلَيْهِ السَّلَف وَالْخَلَف ، وَلِظَوَاهِر إِطْلَاق الْأَحَادِيث . وَاَللَّه أَعْلَم .

    “Jika dibai’at seorang Khalifah setelah dibai’atnya seorang Khalifah, maka bai’at yang pertama sah dan wajib dipenuhi. Sedangkan bai’at kedua bathil dan haram dipenuhi dan haram bagi khalifah kedua menuntutnya; dan sama saja, apakah mereka mengangkat orang yang kedua itu dalam keadaan mengetahui pengangkatan orang yang pertama, maupun mereka tidak tahu. Dan sama saja, apakah keduanya berada di dua negeri yang berbeda, atau satu negeri yang sama, atau salah satu dari keduanya berada di negeri yang sama, namun terpisah dari Imam (orang yang pertama dibai’at), sedangkan yang lain berada di negeri lain. Inilah pendapat benar yang dipegang teguh oleh ulama-ulama kami, dan mayoritas para ulama.Ada yang berpendapat, “Khilafah adalah hak bagi orang diangkat di negeri Imam.Ada pula yang berpendapat, “Diundi di antara keduanya”.Dua pendapat ini fasid. Para ulama telah sepakat bahwa tidak boleh menyerahkan aqad kekhilafahan kepada dua orang Khalifah pada masa yang bersamaan, sama saja, apakah Daar al-Islam itu luas maupun tidak. Di dalam Kitabnya, Al-Irsyad, Imam Haramain berkata, “Ulama kami berpendapat bahwasanya tidak boleh menyerahkan aqad khilafah kepada dua orang. Beliau berkata, “Menurutku sesungguhnya tidak boleh menyerahkan aqad Khilafah kepada dua orang pada saat yang sama. Hal ini sudah menjadi sesuatu yang diijma’kan.Beliau berkata, “Seandainya letak kedua imam itu berjauhan dan keduanya dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh, maka ada tempat untuk ihtimal (kemungkinan) di dalamnya.Beliau berkata, “Ini telah keluar dari (ketetapan-ketetapan yang) qath’iy”.Al-Mazariy meriwayatkan pendapat ini dari sebagian ulama mutaakhir dari kalangan ulama ushul –yang dimaksud adalah Imam Haramain.Dan pendapat ini adalah pendapat fasid yang bertentangan dengan pendapat yang dipegang oleh ulama salaf dan khalaf, dan juga berdasarkan dzahir kemuthlakan hadits.Wallahu a’lam”. [Imam An Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, Juz 6, hal. 316]

    Imam Badruddin al-‘Ainiy al-Hanafiy dalam Kitab ‘Umdat al-Qaariy menyatakan:

    قوله بيعة الأول فالأول معناه إذا بويع لخليفة بعد خليفة فبيعة الأول صحيحة يجب الوفاء بها وبيعة الثاني باطلة يحرم الوفاء بها سواء عقدوا للثاني عالمين بعقد الأول أو جاهلين وسواء كانا في بلدين أو أكثر وسواء كان أحدهما في بلد الإمام المنفصل أم لا

    “Adapun sabdanya [bai’at al-awwal fa al-awwal], maknanya adalah jika dibai’at seorang Khalifah setelah dibai’atnya seorang Khalifah, maka bai’at pertamalah yang sah yang wajib dipenuhi.Sedangkan bai’at kedua batal, haram memenuhinya.Sama saja apakah orang-orang yang membai’at orang yang kedua itu telah mengetahui pembai’atan orang yang pertama atau tidak tahu. Sama saja, apakah kedua Khalifah itu berada di dua negeri atau lebih, atau salah satu Khalifah itu berada di negeri Imam (Khalifah) secara terpisah atau tidak terpisah”.[Imam Badruddin al-‘Ainiy al-Hanafiy, ‘Umdat al-Qaariy Syarh Shahih al-Bukhari, Juz 23, hal. 454]

    Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaniy di dalam Kitab Fath al-Baariy menyatakan:

    وَالْمَعْنَى أَنَّهُ إِذَا بُويِعَ الْخَلِيفَة بَعْد خَلِيفَة فَبَيْعَة الْأَوَّل صَحِيحَة يَجِب الْوَفَاء بِهَا وَبَيْعَة الثَّانِي بَاطِلَة ، قَالَ النَّوَوِيّ : سَوَاء عَقَدُوا لِلثَّانِي عَالِمِينَ بِعَقْدِ الْأَوَّل أَمْ لَا ، سَوَاء كَانُوا فِي بَلَد وَاحِد أَوْ أَكْثَر . سَوَاء كَانُوا فِي بَلَد الْإِمَام الْمُنْفَصِل أَمْ لَا . هَذَا هُوَ الصَّوَاب الَّذِي عَلَيْهِ الْجُمْهُور ، وَقِيلَ : تَكُون لِمَنْ عُقِدَتْ لَهُ فِي بَلَد الْإِمَام دُون غَيْره ، وَقِيلَ : يُقْرَع بَيْنهمَا قَالَ : وَهُمَا قَوْلَانِ فَاسِدَانِ ، وَقَالَ الْقُرْطُبِيّ : فِي هَذَا الْحَدِيث حُكْم بَيْعَة الْأَوَّل وَأَنَّهُ يَجِب الْوَفَاء بِهَا ، وَسَكَتَ عَنْ بَيْعَة الثَّانِي . وَقَدْ نَصَّ عَلَيْهِ فِي حَدِيث عَرْفَجَة فِي صَحِيح مُسْلِم حَيْثُ قَالَ : ” فَاضْرِبُوا عُنُق الْآخَر ” .

    “Maknanya, jika dibai’at seorang Khalifah setelah dibai’atnya seorang Khalifah, maka bai’at yang pertama sah, wajib dipenuhi.Sedangkan bai’at kedua batal. Imam Nawawiy berkata, “Sama saja apakah orang-orang yang membai’at (menyerahkan aqad Khilafah) kepada orang yang kedua mengetahui penyerahan aqad Khilafah kepada orang yang pertama atau tidak; sama saja apakah mereka berada di satu negeri atau lebih; sama saja apakah mereka berada di negeri imam yang terpisah atau tidak. Ini adalah pendapat yang benar yang dipegang teguh oleh jumhur ulama. Dinyatakan, “Khilafah diberikan kepada orang yang dibai’at di negeri imam, bukan yang lain. Dan dinyatakan pula, “Diundi di antara keduanya.Beliau (Imam Nawawiy) menyatakan, “Keduanya adalah pendapat fasid.Imam Qurthubiy berkata, “Di dalam hadits ini menjelaskan hukum bai’at pertama, dan bahwasanya seseorang wajib memenuhi bai’at pertama dan berdiam diri terhadap bai’at yang kedua”. Di dalam hadits ‘Urfajah yang terdapat di dalam Shahih Muslim disebutkan, “Pukullah leher yang lain (orang yang kedua)”.[Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaniy, Fath al-Baariy, Juz 10, hal. 255]

    Di dalam Kitab Faidl al-Qadir Syarah al-Jaami’ al-Shaghiir dinyatakan:

    إشارة إلى أن الإمام الأعظم لا يكون في الأرض كلها إلا واحدا ولهذا قال في حديث آخر : إذا بويع لخليفتين فاقتلوا الآخر منهما
    “Ini adalah isyarat bahwasanya Imam al-A’dzam tidak boleh ada di seluruh muka bumi kecuali seorang saja. Oleh karena itu, beliau saw bersabda di dalam hadits lain, “Jika dibai’at dua orang Khalifah, bunuhlah yang terakhir (yang kedua) dari keduanya”.[Imam ‘Abdu al-Ra’uf al-Munawiy, Faidl al-Qadir, Juz 1, hal. 441]

    Imam Ibnu Hazm menyatakan:

    واتفقوا أن الامامة فرض وانه لا بد من امام حاشا النجدات وأراهم قد حادوا الاجماع وقد تقدمهم واتفقوا انه لا يجوز أن يكون على المسلمين في وقت واحد في جميع الدنيا امامان لا متفقان ولا مفترقان ولا في مكانين ولا في مكان واحد …

    “…Para ulama’) sepakat bahwa tidak boleh pada satu waktu di seluruh dunia adanya dua imam bagi kaum Muslimin baik mereka sepakat atau tidak, baik mereka berada di satu tempat atau di dua tempat…” [Imam Al Hafidz Abu Muhammad, Ali bin Hazm Al Andalusi Adz Dzahiri, Maratibul Ijma’ , juz 1 hal 124]

    Kepemimpinan dalam system Khilafah bersifat tunggal untuk seluruh dunia.Konsepsi seperti ini tentu saja bertentangan dengan konsep negara bangsa (nation state), imperium, maupun persemakmuran. Lantas, bagaimana bisa dinyatakan Khilafah yang mengadopsi kepemimpinan tunggal identik atau samadengan negara bangsa yang telah melahirkan banyak kepala negara dan pemimpin?

    Ketiga, kepemimpinan dalam system Khilafah bersifat umum dan global untuk seluruh dunia.Khalifah diwajibkan menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad, serta melakukan futuhat-futuhat untuk menyatukan seluruh dunia di bawah kekuasaan dan kepemimpinannya.

    Asy Syaikh Musthofah Ash Shabariy mengatakan:

    هى الولاية العامة على كافة الامة

    “Khilafah adalah kepemimpinan umum untuk umat secara keseluruhan”.[Asy Syeikh Musthafa Shabari, Mauqiful Aqli wal Ilmi wal ‘Alam, juz IV, hal 262]

    Imam Al Aijiy dalam kitab Al-Mawaqif menyatakan:

    قال قوم من أصحابنا الإمامة رياسة عامة في أمور الدين والدنيا لشخص من الأشخاص

    “Sebagaian kelompok dari shahabat kami menyatakan bahwa imamah itu adalah kepemimpinan umum dalam berbagai urusan agama dan dunia”.[Idem, Juz III hal 578]

    Terkait dengan tugas ini, syariat telah memerintahkan Khalifah untuk melakukan jihad menyerang negara-negara kafir.Di dalam kitab Haasyiyyah Ibnu ‘Abidin dinyatakan, “Imam wajib mengirim ekspedisi perang ke daar kufur (negara kufur) sekali atau dua tiap tahunnya, dan rakyat wajib memberikan bantuan….Jika imam tidak mengirim pasukan (dalam batas minimal tersebut) maka ia berdosa. Ketentuan semacam ini berlaku jika ia memiliki keyakinan kuat mampu mengalahkan musuh. Jika ia tidak yakin mampu mengalahkan musuh, ia tidak boleh memerangi mereka (kaum kafir).”

    Imam al-Mawardiy dalam kitab al-Iqnaa’ menyatakan, “Hukum jihad adalah fardlu kifayah, dan imamlah yang berwenang melaksanakan jihad…ia wajib melaksanakan jihad minimal setahun sekali, baik ia pimpin sendiri, atau mengirim ekspedisi perang.”

    Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari, seorang ulama madzhab Syafi’iy di dalam Kitab Fath al-Mu’in menyatakan:

    باب الجهاد. (هو فرض كفاية كل عام) ولو مرة إذا كان الكفار ببلادهم، ويتعين إذا دخلوا بلادنا

    Bab Jihad. Jihad hukumnya fardlu kifayah setiap tahun, walaupun (dilaksanakan) hanya sekali, jika orang-orang kafir ada di negeri-negeri mereka. Jihad hukumnya menjadi fardlu ‘ain jika orang-orang kafir menyerang negeri-negeri kita..” [Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari, Fath al-Mu’in, Juz IV hal 206 ]

    Fakta ini menunjukkan bahwa Khilafah tidak identik atau sama dengan system pemerintahan lain, tetapi ia adalah system pemerintahan tertentu, dengan sifat dan ciri tertentu. Mengidentikkan Khilafah dengan system yang lain, atau menganggap Khilafah hanyalah pemerintahan yang tidak memiliki ciri dan sifat tertentu, jelas-jelas merupakan kesalahan dan kekeliruan.

    Adapun kekhususan Khalifah dibandingkan kepala negara dalam system pemerintahan lain, dapat diringkas sebagai berikut:

    Pertama, Khalifah hanya boleh dijabat oleh laki-laki.Perempuan haram menduduki jabatan Khalifah.Realitas ini tentu saja berbeda dengan presiden, perdana menteri, raja atau ratu, dan kaisar, yang mana di dalam system pemerintahan ini, wanita berhak menduduki jabatan kepala negara.Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat dari Abu Bakrah ra, bahwasanya saat Nabi saw mendapatkan kabar tentang penduduk Persia yang mengangkat anak perempuan Kisra sebagai kepala negara, beliau saw bersabda:

    لَنْيُفْلِحَقَوْمٌوَلَّوْاأَمْرَهُمُامْرَأَةً
    “Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita”.[HR. Imam Bukhari].

    Lalu, bagaimana bisa dinyatakan Khalifah sama atau identik dengan presiden, raja, ratu, dan lain-lainnya?

    Kedua, Khalifah tidak boleh dijabat orang kafir, sedangkan presiden, raja, ratu, kaisar, dan perdana menteri tidak disyaratkan harus dijabat seorang Muslim.Imam Nawawiy, di dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan:

    قال القاضي عياض : أجمع العلماء على أن الإمامة لا تنعقد لكافر , وعلى أنه لو طرأ عليه الكفر انعزل , قال : وكذا لو ترك إقامة الصلوات والدعاء إليها , ….. قال القاضي : فلو طرأ عليه كفر وتغيير للشرع أو بدعة خرج عن حكم الولاية , وسقطت طاعته , ووجب على المسلمين القيام عليه , وخلعه ونصب إمام عادل إن أمكنهم ذلك.

    Imam Qadliy ‘Iyadl menyatakan, “Para ulama telah sepakat bahwa imamah tidak sah diberikan kepada orang kafir. Mereka juga sepakat, seandainya seorang penguasa terjatuh ke dalam kekafiran, maka ia wajib dimakzulkan. Beliau juga berpendapat, “Demikian juga jika seorang penguasa meninggalkan penegakkan sholat dan seruan untuk sholat…Imam Qadliy ’Iyadl berkata, ”Seandainya seorang penguasa terjatuh ke dalam kekufuran dan mengubah syariat, atau terjatuh dalam bid’ah yang mengeluarkan dari hukm al-wilayah (tidak sah lagi mengurusi urusan pemerintahan), maka terputuslah ketaatan kepadanya, dan wajib atas kaum Muslim untuk memeranginya, memakzulkannya, dan mengangkat seorang imam adil, jika hal itu memungkinkan bagi mereka”.

    Ketiga, menurut mayoritas madzhab Syafi’iy, Khalifah harus berasal dari suku Quraisy.Bahkan, mereka menganggap masalah ini sebagai ijma`.Al Hafidh Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy di dalam Kitab Fath al-Baariy, mengutip pernyataan Qadliy ‘Iyadl mengatakan:

    وقالعياض: اشتراطكونالإمامقرشيامذهبالعلماءكافةوقدعدوهافيمسائلالإجماع،ولمينقلعنأحدمنالسلففيهاخلافوكذلكمنبعدهمفيجميعالأمصار

    “Qadliy ‘Iyadl berkata, “Pensyaratan imam harus dari suku Quraisy merupakan madzhab (pendapat) seluruh ulama. Mereka menghitung masalah ini dalam persoalan-persoalan ijma` (perkara-perkara yang sudah disepakati).Tidak dinukil dari seorang salaf pun adanya perbedaan pendapat dalam hal ini.Demikian pula ulama setelah mereka di seluruh masa”. [Al Hafidh Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy, Fath al-Baariy, Juz 13/119]

    Lantas bagaimana bisa dinyatakan bahwa Khalifah sama dengan atau identik dengan presiden, raja, perdana menteri, dan sebutan-sebutan lain, sedangkan menurut madzhab Syafi’iy seseorangbaru absah diangkat Khalifah jika ia berasal dari suku Quraisy?

    Masih banyak hal-hal lain yang merupakan kekhususan Khalifah dibandingkan kepala negara dalam system pemerintahan lain. Semua ini menunjukkan bahwa terma Khalifah tidak bisa diidentikkan dengan terma presiden, raja, ratu, dan lain sebagainya.

    Kesimpulan
    1. Allah swt dan RasulNya mewajibkan kaum Muslim untuk mengangkat seorang Khalifah dan mendirikan system pemerintahan Khilafah. Dua kewajiban ini disebut secara sharih di dalam kitab-kitab mu’tabar. Bahkan, ulama ahlus sunnah wal jama’ah menetapkan Khilafah atau Imamah sebagai salah satu bagian dari pilar agama Islam yang kewajibannya telah disepakati ulama mu’tabar. Menolak dan mengingkari kewajiban ini hukumnya kafir.

    2. Khilafah merupakan sebutan syar’i untuk menggambarkan system pemerintahan yang tegak di atas ‘aqidah Islamiyyah dan menjadikan syariat Islam sebagai satu-satunya aturan untuk mengatur urusan negara dan masyarakat. Khilafah adalah system pemerintahan atau system kepemimpinan yang bertugas memelihara agama Islam dan memenuhi kepentingan-kepentingan kaum Muslim dan semua warga negara Khilafah. Khilafah Islamiyyah adalah system pemerintahan yang memiliki kekhususan mulai dari asas, hukum, bentuk negara, dan aparatus-aparatusnya.

    3. Terma Khalifah tidak identik bahkan tidak memiliki hubungan sama sekali dengan terma presiden, baik dekat maupun jauh. Begitu pula, terma Khilafah, ia sama sekali tidak identik dan tidak berhubungan sama sekali dengan pemerintahan demokrasi-sekuler. Mengidentikkan Khalifah dengan presiden, begitu pula menyamakan Khilafah dengan demokrasi-sekuler, jelas-jelas merupakan kesalahan dan kesesatan yang nyata.

    • mau bilang pemerintah RI thaghut kafir aja muter2.

      Alhamdulillah, di Indonesia perdagangan senjata api sangat dibatasi kepemilikannya, kalau saja di legalkan seperti di luar sana kaum kalian pasti sudah mengangkat senjata dari dulu, melepaskan meriam takfir kepada yang gak se-jalan, padahal sesama muslim, na’udzubillahi min dzallik.

      فصل: “في بيان حكم الخلافة”
      فإذا ثبت وجوب الإمامة ففرضها على الكفاية كالجهاد وطلب العلم، فإذا قام بها من هو من أهلها سقط فرضها على الكفاية، وإن لم يقم بها أحد خرج من الناس فريقان:
      أحدهما: أهل الاختيار حتى يختاروا إماما للأمة.
      والثاني: أهل الإمامة حتى ينتصب أحدهم للإمامة،

      وليس على من عدا هذين الفريقين من الأمة في تأخير الإمامة حرج ولا مأثم،،

      khilafah bukan fardlu ‘ain, paham ya.

  5. sebaiknya klo menulis jgn tendensius kentara banget bencinya dgn sistetem kekhilafahan..sejarah membuktikan bahwa musuh islam yg paling dia takutkan apabila umat islam menegakan khilfah ..palestina mereka rebut setelah mereka meruntuhkan kekhilafahan turki utsmani walaupun kekhilafahan turki tdk menurut sunnah…tp yg jelas adanya kepemimpinan umat islam adalah hal yg dibenci oleh orang orang orientalis. Sy malah curiga jangan jangan penulis ini bagian dari mereka.??

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here