Benarkah Ada Unsur Judi dalam Asuransi?

3
141

BincangSyariah.Com – Makful lahu (objek penjaminan risiko asuransi) dalam kajian hukum Islam adalah terdiri dari 4 hal pokok, yaitu: utang (dain), ‘ain (situasi dan kondisi), jiwa (nafsin), dan pekerjaan yang bukan dain, ain dan nafsin. Dalam Fiqih Madzhab Syafii, 4 hal itu disingkat menjadi 3 hal saja, yaitu: dain, ain, dan nafsin. Meskipun demikian, dalam penjabarannya, unsur jiwa (nafsin) dalam Madzhab Syafii tetap memasukkan unsur keempat yaitu pekerjaan (fi’lin). Alhasil, keempat hal itu menjadi sama dalam praktiknya. (Baca: Benarkah Premi Asuransi itu Sama dengan Pungutan Liar?)

Nah, karena asuransi (takaful) merupakan kegiatan gotong royong berbagi risiko untuk kejadian yang belum tentu terjadi pada seorang individu nasabah asuransi disebabkan hal itu berlaku untuk masa mendatang, maka tak urung sifat ketidaktentuan ini menjadikan sebagian pihak menilai jasa asuransi terhadap keempat objek asuransi di atas sebagai memuat illat maisir (spekulatif). Itulah sebabnya kemudian pihak tersebut berani menetapkan bahwa asuransi merupakan yang haram sebab illat maisir tersebut. Bahkan, beberapa di antaranya juga menganggap bahwa pada asuransi terdapat illat riba dalam bentuk pengembalian surplus manfaat investasi kepada nasabahnya.

Mengenai illat riba, kita sudah uraikan pada tulisan yang lalu lewat penjelasan kesahihan “akad investasi” pada lembaga asuransi. Sekarang kita fokus pada membantah illat maisir tersebut. Tentu saja dalam hal kita tidak hendak membela lembaga jasa asuransi, melainkan kita hanya akan mendudukkannya ke pos-pos yang proporsional dalam bingkai fiqih sehingga tercapai sifat berdiri di tengah. Sebab, di sinilah kita hendaknya menempatkan diri, sebagaimana Firman Allah SWT:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Seperti itulah, Kami jadikan kalian umat yang tengah-tengah supaya kalian dapat menjadi saksi di antara manusia dan rasul menjadi saksi di antara kalian.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 143)

Setiap lembaga asuransi, biasanya menempatkan produk unit link-nya menurut kategori yang dianggap pokok dan urgen saja. Misalnya, problem pendidikan anak, problem prudential, problem kesehatan di hari tua, asuransi jiwa, asuransi kecelakaan pemilik kendaraan, dan lain sebagainya. Berbagai problem ini kemudian dikenal sebagai istilah risiko yang kelak membutuhkan uluran orang lain, atau antisipasi individu secara mandiri dengan menggunakan jasa asuransi. Oleh karena itu, setiap “risiko asuransi” selalu menunjukkan ciri khas sebagai berikut:

  1. Berbahaya dan merugikan secara finansial.
  2. Mungkin terjadi di masa depan.
  3. Kejadian yang mungkin terjadi di luar rencana atau di luar ekspektasi.
  4. Selain merugi secara finansial, juga menimbulkan kerugian fisik dan mental.
Baca Juga :  Hukum Wakaf dan Hibah Manfaat Asuransi

Misalnya pada kecelakaan. Kecelakaan yang diasuransikan, merupakan kecelakaan yang belum terjadi. Sesuatu yang belum terjadi menyimpan makna bahwa 1) kecelakaan itu kelak mungkin saja akan terjadi, atau 2) bahkan kecelakaan itu sama sekali tidak terjadi. Jika kita berfikiran pendek, tentu akan berkata bahwa dengan membayar premi asuransi kecelakaan, diibaratkan seorang nasabah layaknya berjudi, untuk menebak kecelakaan itu bakalan terjadi di masa mendatang. Memang, logika sederhana ini seolah masuk akal, dan kita bisa terjebak di sini bila kita tidak mencermati lagi dengan baik.

Titik lemah dari logika mereka ini, adalah bahwa premi itu dianalogikan sebagai layaknya uang yang disodorkan ke meja judi. Tentu saja, penganalogian ini merupakan analogi yang bathil, sebab mahal qiyas-nya berbeda. Perbedaan itu, antara lain:

Pertama, Uang yang disodorkan ke meja judi, bukanlah dana tabarru’, yaitu: dana sukarela untuk sosial dengan harapan mencari ridla Allah. Dana yang disodorkan ke meja judi merupakan dana pribadi seseorang yang dipertaruhkan untuk meraup dana pihak lain yang lebih besar yang turut dipertaruhkan. Jika pihak yang bertaruh kalah, maka dananya hilang. Hal ini tentu saja berbeda dengan asuransi. Setiap dana yang diperuntukkan untuk gotong royong, maka dana itu sebenarnya bukan hilang, melainkan dipergunakan untuk membantu member lain yang lagi mengalami problem.

Apalagi, buat masyarakat modern yang dewasa ini acap dikenal sebagai masyarakat individualis, tidak kenal dengan tetangga kanan kirinya. Jika terjadi sesuatu pada dirinya, lantas siapa yang hendak mereka mintai pertolongan? Jika hal itu tidak dihimpun dalam suatu lembaga asuransi, dan diorganisasikan, mereka pasti kehilangan sifat rasa saling tolong menolong itu. Oleh karenanya, sejak kapan niat menolong orang lewat asuransi menjadi disamakan dengan kehendak meraup uang yang banyak dari anggota yang lain?

Kedua, Uang yang disodorkan ke meja judi itu tidak diniatkan untuk dikembangkan, melainkan dipertaruhkan. Padahal dalam premi asuransi, uang premi tersebut diperinci ke dalam dua akad, dengan proporsi 30% dana tabarru’ dan 70% dana investasi. Oleh karenanya, sejak kapan dana investasi menjadi dipandang sama dengan dengan uang yang dipertaruhkan di meja judi?

Ketiga, Di meja judi, jika orang kalah bertaruh, maka uang itu diambil oleh pihak yang tepat dalam melakukan spekulasi. Pihak yang tidak tepat dalam berspekulasi berlaku sebagai pihak yang kalah. Sementara dalam spekulasi, dana tabarru’ itu memang diperuntukkan untuk sosial. Sementara, dana investasi, memang diperuntukkan untuk menjamin nilai tukar uang di masa yang akan datang sehingga perlu diputar dalam roda usaha. Sejak kapan orang bergotong royong dalam menanggung beban orang lain menjadi disamakan dengan orang yang kalah dalam berjudi? Sejak kapan pula hasil investasi menjadi disamakan dengan pihak yang menang berjudi?

Tiga pertanyaan di atas setidaknya mampu mematahkan spekulasi mereka yang menyederhanakan akad asuransi sebagai akad maisir (judi). Kecelakaan bisa saja terjadi pada seseorang. Pendidikan anak juga merupakan suatu keniscayaan bagi orang tua yang memiliki putra putri. Kesehatan, kesejahteraan di hari tua, adalah merupakan bagian yang memang diperintahkan untuk mengantisipasinya oleh syariat. Itu sebabnya ada larangan berbuat boros, berlaku mubadzir, bermewah-mewahan, dan lain sebagainya, termasuk tindakan melampaui batas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Baca Juga :  Kerajaan Islam di Toledo: Kisah Keruntuhan Dinasti Bani Dzun Nun

عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لرجل وهو يعظه:  اغتنم خمسا قبل خمس: شبابك قبل هرمك، وصحتك قبل سقمك، وغناك قبل فقرك، وفراغك قبل شغلك، وحياتك قبل موتك رواه أحمد في مسنده

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda sembari menasehatinya: Raihlah keuntungan pada 5 perkara sebelum terjadi 5 perkara. Masa mudamu sebelum masa tuamu. Sehatmu sebelum sakitmu. Kayamu sebelum faqirmu. Waktu luangmu sebelum datang kesibukanmu. Dan hidupmu sebelum kematianmu.” HR. Imam Ahmad dalam Kitab Musnadnya.

Hadits di atas, juga merupakan yang senafas dengan Firman Allah SWT dalam Q.S. al-Hasyr [59] ayat 18-20:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ* وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمْ الْفَاسِقُونَ* لا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ الْفَائِزُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. al-Hasyr [59] : 18-20)

Baik ayat maupun hadits di atas, kedua-duanya sama-sama memeerintahkan agar seseorang mengantisipasi kehidupan di masa mendatang, menjaga kualitasnya, baik untuk diri dan keluarga. Mengantisipasi masa depan, bukanlah tindakan spekulatif, melainkan fathu al-dzari’ah (inovatif). Memang ada jasa asuransi yang menyelenggarakan jasanya secara haram. Namun, itu tidak menjadikan kita lantas berhenti melakukan inovasi untuk terikat dengan jasa asuransi yang dibenarkan oleh syariat. Wallahu a’lam bi al-shawab!

Baca Juga :  Meluruskan Meme "Haramnya Ilmu Filsafat"

3 KOMENTAR

  1. Tapi umumnya org tdk menganggap uang yg ia stor ke pihak Asuransi sbg uang tabarru’,apalahi tuk gotong royong mbantu org lain yg blm jls siapa dan kpn mbantunya? Pripun

  2. […] Pesan yang terkandung di dalam ayat tersebut adalah agar kita tidak hanya memikirkan generasi sekarang, melainkan juga memperhatikan generasi mendatang, terutama anak dan cucu kita kelak. Langkah memikirkannya ini terhenti pada langkah antisipatif terhadap kemungkinan generasi mendatang merupakan generasi yang lemah. (Baca: Benarkah Ada Unsur Judi dalam Asuransi?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here