Belajar Toleransi dari Muslim Indonesia di Jepang

0
483

BincangSyariah.Com – Mengutip ucapan sang Guru Bangsa Gusdur, beliau berkata; memuliakan manusia berarti memuliakan Penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya. Selain itu beliau menegaskan, bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin besar rasa toleransinya.

Ungkapan Ini merupakan pedoman merawat keberagaman dan kerukunan antar umat beragama sebagai wasilah syariat menjalani kehidupan dengan multikultural yang dimiliki oleh para penghuni bumi. Toleransi menyikapi perbedaan menuju persatuan bukan menuju perpecahan kini kerap dikampanyekan oleh Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) di Jepang.

Toleransi antar umat beragama adalah bagian dari ajaran Nabi Saw. Dalam suatu riwayat bahwasanya Nabi Saw. Menjenguk tetangganya seorang Yahudi hingga Yahudi tersebut masuk Islam. Dalam hal ini, tidak ada batasan pandangan terhadap suku maupun agamanya, karena disebutkan dalam hadis,

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم جاره

Maka hormatilah tetanggamu (tidak disebutkan muslim atau non-muslim) sebagai seorang muslim yang beriman dan Semata-mata berharap Ridho Allah swt.

Hadis di atas mengajarkan kepada kita untuk luwes dalam bergaul, khususnya kepada para tetangga.

Kang Firman, Mahasiswa Doktor bidang Teknik Mesin asal Bandung

Sebagaimana penjelasan hadis di atas, ini dijadikan pedoman Muslim Indonesia sebagai imigran yang tinggal di Jepang. Ketika mereka mendirikan sebuah tempat Ibadah di kawasan Balai Indonesia di Tokyo, mereka berusaha tidak mengganggu tetangganya. Dijelaskan oleh Kang Firman seorang Mahasiswa Doktor bidang Teknik Mesin asal Bandung, bahwa bangunan masjid disini tidak mengadopsi unsur budaya luar sebagaimana masjid yang ada di Indonesia. Modelnya dengan membuat kubah masjid sebagai simbol tempat ibadah orang-orang Muslim. Masjid yang dibangun ini menyesuaikan dengan kondisi umumnya bangunan yang ada di masyarakat Jepang.

Selain itu, bangunan masjid ini tertutup rapat tidak ada ruang ventilasi meskipun ada jendela, akan tetapi tertulis di bagian kacanya himbauan agar tidak boleh di buka. Ini salah satu upaya untuk menghindari suara microphone terdengar sampai keluar, seperti saat adzan berkumandang atau pun kegiatan pengajian berlangsung.

Baca Juga :  Mengamati Masyarakat Jepang Memperhatikan Agama

Bagi warga Jepang, mungkin mereka tidak terbiasa mendengar suara keras microphone. Terlebih jika suara tersebut berkumandang di setiap waktu tertentu. Untuk menyikapi hal ini, Muslim Indonesia di Jepang lebih mengedapankan nilai-nilai toleransi demi menjaga keharmonisan antar tetangga. Mereka menyadari akan keberadaannya di tengah-tengah warga non-Muslim. Merekan juga tidak ingin kehadirannya membuat tidak nyaman warga sekitar.

Oleh karena itu, ketika kita hidup dimanapun berada asalkan mampu menyesuaikan lingkungan sekitar, tidak mengganggu hanya karena urusan agama, insyaallah kerunanan dan kenyamanan akan terjalin harmonis, ujar kang Firman. Inilah teladan yang patut kita ikuti sebagai seorang Muslim namun tidak fanatisme dalam berprilaku maupun bersosialisasi. Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here