Belajar Toleransi dalam Menyikapi Perbedaan Pendapat dari Hadis Ini

0
28

BincangSyariah.Com – Problem keberagamaan kita dari dulu sampai hari ini adalah problem klaim kebenaran. Bahkan orang yang tidak punya background pendidikan keagamaan pun turut berbicara dengan mengatakan dirinyalah yang paling benar serta mudah menuding sesat orang lain yang tidak sepaham dengannya.

Coba kita belajar dari hadis berikut ini:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنَا لَمَّا رَجَعَ مِنْ الْأَحْزَابِ لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ فَأَدْرَكَ بَعْضَهُمْ الْعَصْرُ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا نُصَلِّي حَتَّى نَأْتِيَهَا وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ نُصَلِّي لَمْ يُرَدْ مِنَّا ذَلِكَ فَذُكِرَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar yang berkata, “Nabi saw. bersabda kepada kami ketika beliau kembali dari perang Ahzab: “Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Lalu tibalah waktu salat ketika mereka masih di jalan, sebagian dari mereka berkata, ‘Kami tidak akan salat kecuali telah sampai tujuan’, dan sebagian lain berkata, ‘Bahkan kami akan melaksanakan salat, sebab beliau tidaklah bermaksud demikian’. Maka kejadian tersebut diceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau tidak mencela seorang pun dari mereka.” (HR. al-Bukhari)

Sababul wurud atau latar belakang historis dari hadis ini adalah bahwa ketika Rasulullah selesai dari perang Ahzab atau Khandaq, bahwa Jibril memberikan perintah kepada Rasulullah untuk berangkat ke bani Quraizhah dalam rangka memberikan hukuman kepada kaum bani Quraizhah yang telah melakukan pengkhianatan dengan memasukkan orang-orang musyrik ke kampung mereka ke Madinah.

Maka kemudian Rasulullah memberikan perintah agar para sahabat tidak melaksanakan salat ashar kecuali apabila telah sampai di perkampungan bani Quraizhah di Madinah. sababul wurud tersebut selengkapnya dapat dilihat di kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani (juz 11, hlm. 452, Tafsir at-Thabari juz 20 hlm. 245, atau dapat dilihat dalam riwayat at-Tabrani dan al-Baihaqi)

Baca Juga :  Makna Jihad dalam Islam Bukan Hanya Perang

Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari hadis ini? Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari hadis ini adalah kejadian ini menjelaskan bahwa meskipun para sahabat mendengar sabda Rasulullah dengan lafadz atau redaksi yang sama, akan tetapi dikarenakan terjadi perbedaan pemahaman, maka dalam menyikapi perintah Rasulullah pun para sahabat berbeda sikap dalam melaksanakannya perintah Rasulullah tersebut.

Kita lihat di hadis tersebut ternyata di masa Rasulullah masih hidup pun telah ada dua kelompok yang memahami hadis secara literalis-tekstualis, dan ada pula yang substansialis-kontekstualis. Dan di hadis tersebut dikatakan bahwa Rasulullah sama sekali tidak menyalahkan keduanya dan tidak pula memarahi keduanya.

Dalam hal ini, kita patut mencontoh sikap bijaksana dari Rasulullah. Rasulullah pasti paham betul bahwa kedua kubu sahabat tersebut berijtihad dalam hal yang dibolehkan dan sama-sama mempunyai niat yang baik.

Artinya adalah ijtihad yang berbeda itu dibolehkan dalam agama. Ijtihad dalam rangka mengetahui hukum sesuatu dalam masalah-masalah yang furu’ fiqhiyah, atau masalah-masalah yang ulama bisa berbeda pendapat, yaitu masalah-masalah yang tidak ada nashnya sama sekali atau masalah-masalah yang ada nashnya akan tetapi ulama berbeda pendapat mengenai nash itu, baik perbedaan dalam sisi validitasnya atau disebut dengan as-subut, atau dalam sisi pemaknaannya atau yang biasa disebut ad-dalalah.

Jadi kalau dalam sebuah nash itu dzanni as-subut atau dzanni ad-dalalah, maka di situ akan terjadi proses ijtihad yang dilakukan oleh para ulama yang kemudian proses itu menghasilkan pemahaman yang berbeda. Dan itu diperbolehkan selama mempunyai niat yang baik dan ada dalil yang menjadi pijakannya.

Barangkali mungkin kita bertanya-tanya, apakah kita bisa mengetahui niat seseorang? Bukankah niat itu letaknya di dalam hati? Dan bagaimana cara supaya kita bisa mengetahui bahwa dia mempuanyai niat yang baik?

Baca Juga :  Tidak Semua Nafsu Harus Dilawan, Ini Penjelasan Imam al-Ghazali

Tentunya kita menjawab bahwa niat yang baik itu tidak bisa diketahui, akan tetapi kita bisa melihat track record dari orang tersebut. Kalaulah selama ini kita melihat dia sebagai seorang ulama yang berusaha berijtihad dengan serius, dengan menggunakan kaedah-kaedah yang ada, dan dia tidak punya track record untuk menghancurkan atau menjelek-jelekkan Islam dan sebagainya, maka bisa kita katakan bahwa dia mempunyai niat yang baik dalam berijtihad.

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, dapat kita tarik setidaknya dua kesimpulan yakni, pertama; dari hadis ini kita memahami bahwa dalam masalah-masalah agama ini memang diperlukan adanya ijtihad. Dan harus kita akui ijtihad itu memang diperbolehkan oleh Rasulullah sesuai sikap Rasulullah dalam hadis tadi. Oleh karena itu, kita harus menghargai setiap hasil ijtihad dari para ulama selama ia memang mempunyai otoritas, kredibilitas, serta terpenuhi semua syarat-syarat bagi ia sebagai seorang yang mujtahid.

Kemudian apabila hasil ijtihadnya berbeda dengan apa yang kita yakini, kita tidak boleh berpendapat bahwa hasil ijtihadnya tidak bernilai, sesat, dan sebagainya. Karena pada dasarnya memang agama ini dibangun atas perbedaan pendapat dalam berbagai masalah yang mana perbedaan itu diperbolehkan dalam agama selama ijtihadnya sesuai atau dilandasi kaedah-kaedah ilmiah.

Kedua; poin penting yang patut kita ambil pelajaran dari hadis ini adalah bahwa seseorang tidak boleh mengkalim bahwa dia adalah yang paling benar sedangkan orang lain yang berbeda pendapatnya dianggap salah. Perlu diketahui bahwa kebenaran yang hakiki itu sejatinya hanya dimiliki dan diketahui oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Kita semua yang berijtihad mungkin menganggap bahwa pendapat kitalah yang paling benar, akan tetapi perlu untuk ketahui bahwa pendapat kita itu sejatinya merupakan pendapat yang subjektif. Subjektif dalam arti bahwa boleh jadi kita menganggap pendapat kitalah yang paling benar, akan tetapi di sisi Allah belum tentu pendapat kita dibenarkan oleh Allah. Sehingga jika pendapat yang kita yakini ini merupakan pendapat yang subjektif, maka sebaiknya kita tidak mengklaim kebenaran itu hanya milik kita.

Baca Juga :  Tata-cara Memotong Kuku yang Disunahkan

Terlebih lagi harus kita akui bahwa kita pun tidak bisa meyakinkan kepada orang lain bahwa Allah membenarkan dan menganggap kita sebagai orang yang paling benar nanti di Akhirat.

Tidak ada yang bisa mengklaim seperti itu. Oleh karena itu, dalam banyak ayat Allah mengatakan bahwa semua yang kita perselisihkan di dunia ini nantinya akan Allah jelaskan di Akhirat kelak. seperti dalam firman Allah di dalam potongan ayat dari surah al-Maidah [05]: 48 yang berbunyi:

فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ٤٨

“Maka nanti akan kujelaskan semua hal yang dulu kalian perselisihkan” (QS. al-Maidah [05]: 48)

Demikian jika kita telah memahami hadis yang telah penulis sebutkan di awal, maka kita akan mempunyai sikap toleransi yang besar, bisa memahami perbedaan pendapat dalam agama, serta dapat menghormati pendapat orang lain yang berbeda dengan kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here