Belajar Tauhid; Sifat Jaiz Bagi Para Nabi

0
1145

BincangSyariah.Com – Selain memiliki sifat wajib dan mustahil, para nabi pun memiliki sifat jaiz, lalu apakah sifat jaiz bagi nabi itu?

Syekh Thahir Al-Jazairi di dalam kitabnya Al-Jawahirul Kalamiyah Fi Idhahil ‘Aqidah Al-Islamiyyah telah menjelaskan sebagai berikut.

يجوز على الأنبياء عليهم السلام وقوع الأعراض البشرية التي لا تؤدي الى نقص في مراتبهم العليه كالأكل والشرب والجوع والعطش واعتراء الحر والبر والتعب والراحة والمرض والصحة ومثل ذلك التجارة والاحتراف بحرفة من الحرف التي ليست دنية لأنهم بشر يجوز عليهم ما يجوز على البشر مما لايؤدي الى نقص.

Boleh bagi para nabi alaihimus salam melakukan hal-hal yang bersifat manusiawi yang tidak mengarahkan kepada sifat kurang dalam derajatnya yang mulia (tidak sampai merendahkan derajat kemuliaannya), seperti makan, minum, lapar, haus, merasakan panas, dingin, capek, istirahat, sakit, sehat, serta seperti berdagang atau bekerja dengan pekerjaan yang tidak merendahkan dirinya. Hal ini disebabkan karena mereka adalah manusia yang boleh bagi mereka untuk melakukan sesuatu yang diperbolehkan bagi manusia selama tidak mengarahkan pada sifat kurang.

Allah Swt. berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّآ اِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَسْوَاقِۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً ۗ اَتَصْبِرُوْنَۚ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيْرًا ۔

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat. (Q.S. Al-Furqan/25: 20)

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Q.S. Al-Kahfi/18: 110)

Baca Juga :  Hikmah Dilahirkannya Nabi di Hari Senin dan Bulan Rabiul Awwal

Dengan demikian, maka sifat jaiz bagi para nabi itu ada satu, yakni fi’lul a’radlil basyariyyah, diperbolehkan baginya untuk melakukan semua hal yang bersifat manusiawi selama hal itu tidak merendahkan dirinya karena pada dasarnya mereka adalah manusia. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here