Belajar Tauhid: Beriman kepada Kitab Taurat

1
1610

BincangSyariah.Com – Salah satu rukun iman yang ada enam adalah iman kepada kitab-kitab Allah Swt. Di antara kitab yang wajib kita imani adalah kitab Taurat. Lalu bagaimana cara beriman kepada kitab Taurat itu?

Syekh Thahir Al-Jazairi di dalam kitabnya Jawahirul Kalamiyah Fi Idhahil ‘Aqidah Al-Islamiyyah mengatakan bahwa cara beriman kepada Taurat adalah sebagai berikut.

اعتقد أن التوراة كتاب من كتب الله سبحانه وتعالى أنزله على كليمه موسى عليه السلام. وذلك لبيان الأحكام الشرعية والعقائد الصحيحة المرضية والتبشير بظهور نبي من بني إسماعيل وهو نبينا عليه الصلاة والسلام والإشارة الى أنه يأتي بشرع جديد يهدي الى دار السلام.

Saya meyakini bahwa Taurat adalah salah satu kitab dari kitab-kitab Allah Swt. yang diturunkan kepada Kalimullah, yakni Nabi Musa a.s. Kitab Taurat tersebut diturunkan untuk menjelaskan hukum-hukum syariat, aqidah yang benar dan diridai, membawa kabar gembira tentang (akan) datangnya Nabi dari keturunan Nabi Ismail, yakni Nabi kita Muhammad saw., dan memberi isyarat bahwa Nabi saw. akan datang dengan membawa syariat baru yang menunjukkan kepada rumah kedamaian (surga).

Dengan demikian, maka cara beriman kepada kitab Taurat adalah dengan mengimaninya bahwa ialah kitab yang diturunkan oleh Allah Swt. khusus untuk Nabi Musa a.s. sebagai bekal dakwahnya kepada umatnya, kaum Bani Israil atau bangsa Yahudi. Di dalam kitab Taurat tersebut dijelaskan tentang syariat, aqidah, petunjuk, serta aturan-aturan yang harus dipatuhi dan dijauhi.

Selain itu, di dalam kitab Taurat yang original/asli dari Allah Swt. langsung tersebut juga dijelaskan akan datangnya Nabi akhiruz zaman keturunan Nabi Ismail, yakni Nabi Muhammad saw. dengan membawa syariat yang baru. Sehingga, ketika bangsa Bani Israil atau bangsa Yahudi yang hidup bersamaan dengan Nabi Muhammad saw. atau mengetahui risalahnya, maka mereka juga harus mengakui kenabiannya dan beriman kepadanya.

Baca Juga :  Bolehkah Berhenti Membaca Al-Qur'an untuk Memuliakan Kedatangan Guru?

Allah Swt. berfirman:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (157)

(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Al-A’raf/7: 157)

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here