Belajar Persatuan dari Sepakbola Indonesia

0
163

BincangSyariah.Com – Pekik merdeka begitu lantang terdengar dari supporter Indonesia yang kemarin (17/09/2018), menonton langsung pertandingan Indonesia melawan Laos di Stadion Patriot Candrabaga, Bekasi. Indonesia menang telak dari Laos dengan skor 3-0. Kemenangan ini sekaligus menjadi kado manis dari timnas senior Indonesia untuk kemerdekaan RI ke-73.

Atas kemenangan ini, Indonesia sukses meraih poin penuh sebagai modal mental menghadapi Hongkong di pertandingan selanjutnya. Tentu, kita ingin timnas kita dapat mengejar perolehan poin tertinggi dan keluar menjadi juara fase grup atau minimal runner up. Namun begitu, ada hal menarik dari permainan timnas kita di Asian Games kali ini yang menarik untuk kita perbincangkan.

Dimulai dari laga perdana, timnas Indonesia dapat membekuk Taiwan dengan gol yang fantastis, 4-0. Selanjutnya, meski kalah dari Palestina, tak ada raut kecewa yang tertera dari wajah para pemain kita, termasuk supporternya. Bagi supporter Indonesia khususnya, siapapun yang menang, supporter tetap akan membela dua negara tersebut. Unik, bukan?

Sikap legowo dari para supporter Indonesia yang dikenal fanatik tersebut tentu bukan tanpa alasan. Selama ini Palestina dikenal sebagai negara yang begitu dekat dengan Indonesia dan dengan sendirinya terjalin ikatan emosional antar-dua negara. Palestina adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia bahkan sebelum 17 Agustus 1945. Indonesia pun terus berjuang di kancah internasional meneriakkan kemerdekaan Palestina.

Hal itu menjadikan kultur supporter sepakbola Indonesia sangat jauh berbeda dengan fanatisme berlebih supporter Eropa. Seorang peneliti Independen Ibrahim Ado-Kurawa menulis tentang Theorizing The Football Religion, di mana ia menyatakan bahwa orang Eropa cenderung memilih menonton sepakbola ketimbang pergi ke gereja. Ini tentu berbeda dengan kultur kita sebagai orang timur yang meskipun begitu fanatik terhadap sepakbola, tapi tak mendahulukannya dari perkara agama.
Sikap saling menghargai diaplikasikan para pemain sepakbola di atas lapangan hijau.

Baca Juga :  Hukum Tadarus Menggunakan Pengeras Suara

Tak ada dendam ketika kalah, tak ada euforia berlebih saat menang di hadapan lawan. Di atas lapangan hijau, para pemain adalah agen-agen kedamaian dan persatuan. Di kala politik dalam negeri sedang digandrungi rebut-merebut posisi tertinggi, sepakbola justru mengajarkan kita bagaimana memeluk lawan dengan tulus tanpa memukul diam-diam.

Di atas lapangan hijau, semua laku pemain adalah kejujuran tanpa ditutup-tutupi. Jika ada pelanggaran, wasit akan meniup pluit dan memberi ganjaran, langsung di muka—di hadapan penonton dan official. Pengadilan yang transparan. Bisakah kita belajar arti perdamaian, persatuan, dan keadilan dari sepakbola?

Merdeka, Indonesia! Merdeka, timnas Indonesia!

Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.