Belajar Moderasi Beragama dari Kitab Ithaf Al Dzaki, Kitab Tafsir Ulama Nusantara

0
150

BincangSyariah.Com – Istilah Moderasi Islam (Islam Wasathiyah) kian melejit di tengah menggemanya teriakan “Islam Khilafah” yang dalam mengartikulasikannya terkadang memantik aksi-aksi intoleran dan anarkis. Tak dapat dipungkiri bahwa ekstremisme beragama kerap kali disebabkan oleh pemahaman agama yang minimalis serta tidak mempertimbangkan dinamika konteks dan maqashid nya (tujuan).

Dalam kitab Ithaf al-Dzaky karangan Syekh Ibrahim al-Kurani, kita diajarkan kembali bagaimana sesungguhnya memahami ajaran Islam yang sejuk, damai dan penuh kasih sayang. Saya ingin mengajak pembaca yang budiman untuk menilik kandungan kitab tersebut.

Sekilas Kitab Ithaf al-Dzaki

Ithaf al-Dzaki merupakan manuskrip Arab abad ke-17 sekaligus magnum opus yang ditulis oleh Syekh Ibrahim al-Kurani (w. 1690), seorang sufi, ahli hadits, dan khalifah Naqsyabandiyah, yang menjadi guru sentral bagi sejumlah ulama Melayu Nusantara, khususnya Syekh Abdurrauf Singkel di Aceh dan Yusuf al-Makassari di Sulawesi Selatan.

Penulisan kitab ini dilatarbelakangi atas permintaan Syaikh Abdurrauf Singkel, Aceh terhadap al-Kurani untuk menuliskan fatwa keagamaan di tengah gagal paham terkait pemahaman wahdatul wujud dan martabat tujuh di Aceh sehingga terjadi konflik keagamaan.

Kitab ini juga merupakan syarah dari kitab Tuhfah al-Mursalah karya Fadhillah al-Hindi al-Burhanfuri yang bertautan dengan doktrin martabat tujuh yang sempat populer di kalangan masyarakat Muslim Melayu-Nusantara. Ithaf al-Dzaki juga dianggap sebagai salah satu tafsir terpenting mengenai konsep wahdatul wujud (konsep kesatuan eksistensi) ajaran tasawuf filosofisnya Ibn ‘Arabi.

Dua Sisi Wajah Alquran Sebagai Nilai Moderasi Beragama

Di dalam kitab ini terdapat bagian yang membahas secara khsusus dzul wajhain (dua sisi wajah Al-Qur’an). Al-Qur’an sebagai kalam Tuhan mempunyai kandungan yang ekstensif dan mendalam. Artinya, ada beragam pandangan dan pemahaman pada setiap ayatnya. Setiap ayat mengandung makna lahir dan batin. Inilah yang diistilahkan oleh al-Kurani sebagai dzul wajhain (dua sisi wajah Al-Qur’an).

Baca Juga :  Menteri Agama Rilis Panduan Kegiatan Ramadan selama Pandemi Covid-19

Hal inilah yang ditekankan oleh al-Kurani bahwa janganlah memahami Alquran hanya sisi terjemahan saja, namun ada makna batin (tersirat) di dalamnya. Lantas apakah Al-Qur’an sebegitu luas maknanya tanpa memiliki batasan? Al-Kurani menandaskan bahwa makna Al-Qur’an memiliki batasannya, tetapi juga ada keleluasaan di dalamnya.

Di satu sisi dibatasi, pada sisi lain terdapat keleluasaan juga. Syekh Ibrahim juga menambahkan penjelasan dengan mengutip pernyataan Sayyidina Ali yang mengutus Ibn ‘Abbas untuk menemui dan berdebat dengan kaum Khawarij dengan menggunakan as-Sunnah, tanpa berhujjah dengan Al-Qur’an.

Hal ini dikarenakan ada beragam pandangan mengenai Al-Qur’an. Sebagai contohnya, al-Kurani menggabungkan dua tradisi Ibnu ‘Arabi dan al-Ghazali dalam Misyat al-Anwar menjelaskan Q.S. Thaha [20]: 12,

إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.

Ayat tersebut berisi dialog Tuhan pada Nabi Musa. Kita fokus pada redaksi fakhla’ na’laika. Al-Kurani menjelaskan redaksi tersebut dengan makna batin (tersirat), namun ia mengatakan jangan anda kira dengan menjelaskan makna batin (tersirat) lantas saya menafikan makna dzahir (tersurat) bahwa tidak ada sandal atau Nabi Musa tidak menanggalkan sandal.

Jadi, beliau tidak menegasikan kedua makna tersebut. Menghilangkan makna batin berarti pemahaman kaum dzahiriyah. Sedangkan, mengabaikan makna batin berarti madzhab batiniyah.

Itu tidak benar. Makna moderasi menurut Ibrahim al-Kurani adalah orang yang dapat menggabungkan keduanya itulah orang yang sempurna. Ia berpandangan bahwa untuk menjadi moderat, seseorang harus memahami kedua kutub (kiri dan kanan). Tidak mungkin memoderasi apabila tidak mengetahui kedua kutub tersebut.

Pesan Moderasi Beragama

Ithaf al-Dzaki mengajarkan kepada kita bahwa janganlah merasa baru belajar Al-Qur’an sebentar, atau hafal satu terjemah surah Al-Qur’an, atau hafal satu hadits, lantas menelan mentah-mentah dan mengkafirkan sesama. Jangan! Mari kita lanjutkan membaca tafsirnya dan mengkajinya secara mendalam. Sebab semakin luas pengetahuan dan pemahaman seseorang, ia semakin bijak dalam menyikapi suatu hal. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here