Belajar dari Kiai Hasyim Muzadi: Ulama Moderat Membingkai Agama dan Negara

1
1149

BincangSyariah.Com – Semua muslim sepakat bahwa agama Islam adalah panduan hidup. Sebagai pedoman dan panduan hidup, agama Islam tidak hanya mengakomodir ruang lingkup personal saja, tetapi juga kehidupan sosial. Akan tetapi, silang pendapat yang kerap terjadi adalah mengenai bentuk detail dari tuntunan yang telah digariskan oleh Islam itu sendiri.

Pertanyaannya adalah, apakah kepada setiap persoalan Islam selalu memberi penjelasan dan solusi secara detail? Lalu, apakah Al-Qur’an dan Hadits selalu memberikan formulasi baku yang sebagi sumber utama hukum Islam?

Dalam buku Uang Koin: Keping Cerita Kiai Hasyim Muzadi (2017), Muhammad Ghozi Al-Fatih menuturkan bahwa bagi Kiai Hasyim Muzadi tidak semua solusi permasalahan, terutama mengenai kemasyarakatan, bisa dirujuk langsung dalilnya kepada Al-Qur’an dan hadits. Walaupun banyak hal yang telah dijelaskan oleh Al-Qur’an dan hadits secara terperinci, tetapi banyak hal lain yang hanya disinggung secara prinsip dasarnya saja sehingga membutuhkan ijtihad. Begitupula dengan urusan keterkaitan agama dan negara, sebagaimana diyakini pula oleh Kiai Hasyim Muzadi.

Ketika membincang format hubungan negara dan agama, menurut Kiai Hasyim, tidak bisa seenaknya saja. Apalagi hanya menetapkan hukum halal-haramnya sebuah bentuk negara, termasuk sistem yang dipakai di dalamnya.

Dalam hal ini, untuk menyikapi masalah-masalah keislaman dan kemasyarakatan, menurut Kiai Hasyim Muzadi, NU menggunakan 3 pendekatan. Pertama, fiqhu al-Ahkam, sebagai pendektan hukum legal-formal dengan istrumen bahtsul masail untuk menentukan soal halal-haram. Ini sifatnya hitam-putih dan hanya diperuntukkan untuk umat yang sudah siap dan wajib melaksankan hukum Islam.

Kedua, fiqhu al-Da’wah, yang lebih mengutamakan persuasi yang digunakan dalam rangka mengembangkan agama di tengah-tengah masyarakat yang plural dan multikultural serta menghindari pendekatan yang sifatnya hitam-putih. Pendekatan ini dilakukan dengan metode; bi al-Hikmah (argumentasi yang kuat), mau’idhah hasanah (bimbingan dan penyuluhan), serta mujadalah allati hiya ahsan (diskusi yang terbaik).

Baca Juga :  Kriteria Orang Paling Cerdas Menurut Rasulullah

Ketiga, fiqhu al-Siyasah, atau pendekatan politik yang mengatur etika hubungan antara agama dan negara. Kiai Hasyim berpandangan bahwa hubungan agama dan negara bersifat substansial-inklusif bukan formal-eksklusif. Islam memang tidak bisa dipisahkan sama sekali dari politik. Akan tetapi, kehadirannya tidak mesti ditegaskan secara formal, melainkan nilai-nilai luhur ajarannya yang diserap. Sehingga secara substansial bisa bersenyawa dengan politik kenegaraan kendati tanpa menyertakan label Islam.

Dalam artian bahwa Kiai Hasyim tidak menafikan konteks ke-Indonesiaan yang tidak mungkin untuk dikesampingkan. Indonesia yang mewadahi berbagai ragam suku, agama, ras, dan golongan yang perlu diperhatikan agar tidak terpecah belah karena memiliki potensi besar menyeret Indonesia ke jurang kehancuran. Untuk mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam masyarakat multibudaya tidak bisa dipaksa harus sama dengan yang monobudaya.

Sejarah Republik Indonesia mencatat, setiap upaya untuk mempersoalkan Pancasila sebagai ideologi negara, apalagi untuk menggantinya, terbukti selalu menimbulkan perpecahan sesama anak bangsa. Serta secara realistis tidak menguntungkan umat Islam sebagai mayoritas bangsa.

Hingga kini Pancasila sebagai ideologi negara masih tetap utuh dan kokoh. Perjuangan menegakkan agama dalam negara Pancasila haruslah ditata dengan prinsip kearifan tidak boleh menghadapkan agama dan negara secara vis to vis. Sudah seharunya meletakkan agama sebagai sumber aspirasi serta menyumbangkan tata nilai agama yang kemudian mendewasa melalui proses demokrasi dan perlindungan terhadap kepentingan bangsa.

Di akhir tulisan ini, saya mengajak siapapun yang membaca tulisan untuk mengirimkan do’a untuk –allahyarham- KH. Hasyim Muzadi. Al-fatihah…

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here