Belajar dari Kesalahan Iblis dan Nabi Adam as.

0
1192

BincangSyariah.Com – Seperti yang telah diketahui bersama bahwasanya iblis dan Nabi Adam as. pernah melakukan kemaksiatan kepada Allah yang menyebabkan keduanya terusir dari surga. Iblis bermaksiat kepada Allah dengan tidak taat kepada perintahNya untuk bersujud kepada Nabi Adam sebagaimana yang dilakukan para malaikat. Ini diabadikan dalam firman Allah,

(12).(Allah) berdirman, “ apakah yang menghalangimu (sehingga)kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “aku lebih baik dari dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. (13). (Allah) berfirman, “ maka turunlah kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina”. (QS. Al-A’raf:12-13).

Merasa dirinya lebih baik dari Nabi Adam, iblis bersikap sombong dan tidak patuh kepada perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam. Maka Allah langsung mengusir iblis dari surga. Dalam Tafsir Al-Jalalain (h. 131), yang dimaksud bersujud kepada Nabi Adam adalah sujud menghormat bukan sujud menyembah, karena hanya Allah yang pantas disembah.

Sementara Nabi Adam as. Juga pernah  bermaksiat kepada Allah.

(22).“Dia (iblis) membujuk mereka dengan tipu daya. Ketika mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah oleh mereka auratnya, maka mulailah mereka menutupinya dengan daun-daun surga. Tuhan menyeru mereka, “ bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?””.(QS. Al-A’raf: 22).

Nabi Adam dan Siti Hawa’ terbujuk rayuan iblis sehingga keduanya (Adam dan Hawa’) memakan “buah” pohon yang dilarang oleh Allah. Maka Allah pun mengusir keduanya dari surga.

Dua peristiwa tersebut memberikan pelajaran kepada manusia tentang sebuah kesalahan. Kesalahan yang didorong oleh dua hal yang berbeda. Iblis bersalah karena ia bersifat takabur dan Nabi Adam bersalah karena tidak mengendalikan hawa nafsunya.

Baca Juga :  Mengubah Cara Kita Memandang Atribut Keagamaan

Imam Ghazali dalam kitabnya Mukasyafatu Al-Qulub (h-37) mengatakan sebagai berikut:

فمن كان له مثل حال إبليس لم تقبل  توبته ومن كان حاله مثل حال أدم قبل الله توبته لأن كل معصية أصلها من الشهوة فإنه يرجى غفرانها وكل معصية أصلها من الكبر فإنه لا يرجى غفرانها ومعصية أدم أصلها من الشهوة ومعصية إبليس أصلها من الكبر (مكاشفة القلوب : 37)

Maka barang siapa mempunyai hal (kesalahan) seperti iblis maka taubat tidak akan diterima dan barang siapa yang mempunyai hal (kesalahan) seperti Nabi Adam maka taubatnya akan diterima, karena sesungguhnya segala kemaksiatan yang berasal dari syahwat maka ada harapan taubatnya akan diterima, dan kemaksiatan yang berasal dari kesombongan maka tidak ada harapan taubatnya akan diterima, dan maksiatnya Nabi Adam berasal dari syahwat dan maksiatnya iblis dari sifat sombong.

Sombong merupakan perilaku yang sangat dibenci dalam kehidupan manusia. Semua manusia tidak senang terhadap sikap sombong. Sekalipun orang sombong tidak senang bila ada orang lain yang menyombinginya.

Sifat sombong melahirkan berbagai sikap dan tindakan tercela. Seperti kesombongan iblis yang membuatnya tidak taat kepada perintah Allah yang pada akhirnya membawa dirinya menjadi makhluk yang terkutuk selama-lamanya.

Di antara perilaku tercela yang terlahir dari sifat takabur adalah ghibah atau menyebut-nyebut keburukan orang lain. Ketika dirinya merasa lebih baik dari orang lain maka kejelekan orang lain merupakan topik yang paling asyik diperbincangkan.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, At-Tabrani dan lainnya yang dikutip oleh Syekh Zainuddin dalam kitab Irsyadul Ibad (h-68), Rasulullah bersabda bahwa ghibah lebih bahaya dari pada zina. Karena ketika seorang berzina maka jiwanya akan gelisah lalu bertaubat kepada Allah. Namun orang melakukan ghibah merasa dirinya tidak bersalah.

Baca Juga :  Mengkaji Hadis Keharusan Mengangkat Seorang Khalifah

Karena merasa tidak bersalah maka ia tidak bertobat dan minta maaf kepada yang bersangkutan. Padahal semakin banyak aib seseorang diperbincangkan maka semakin besar dosa-dosanya.

Berzina merupakan bagian dari dosa besar. Sementara ghibah bukan termasuk dosa besar. Namun ghibah jika terus berlanjut maka dosanya akan jauh lebih besar dari pada zina.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here