Belajar dari Kecerdasan Nabi Ibrahim dalam Berdakwah

0
96

BincangSyariah.Com – Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dikenal sebagai bapak agama samawi. Sebutan itu disematkan padanya karena beliau merupakan leluhur para nabi pembawa risalah agama-agama samawi. Selain itu, yang lebih penting adalah beliau berhasil menemukan kebenaran Tuhan setelah melakukan pencarian yang cukup panjang. Jadi tidak heran bila bukan hanya umat Islam saja yang mengimani keberadaannya. Umat Yahudi dan Nasrani pun juga mengakui kenabiannya.

Lebih dari itu, Nabi Ibrahim mungkin juga bisa dikatakan sebagai “bapak fiosof dunia”. Dibanding para filosof Yunani seperti Thales, Socrates, atau Plato, masa hidup Nabi Ibrahim jelas terlampau sangat jauh sebelum mereka. Sedangkan bukti kefilsufannya adalah ketika ia mulai berpikir dan mencari the real being, ada yang hakiki.

Ibrahim Mulai “Mengenal” Tuhan

Kisah tentang pencarian Nabi Ibrahim tentu sudah tak asing lagi. Mulanya ia sadar tatkala melihat berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya hanyalah benda mati saja yang tak mampu berbuat apa-apa. Ia kemudian mencari sesembahan yang patut disembah. Sejak itulah ia lalu memperhatikan keberadaan benda-benda langit yang membuatnya takjub: bintang, bulan, dan matahari.

Hasilnya, Ibrahim menyadari bahwa keberadaan mereka hanyalah sementara. Berkat pencarian dan hasil pengamatannya tersebut, ia menemukan dan meyakini bahwa di balik semua yang ada dan tampak ini pasti ada penciptanya. Kepadanyalah akhirnya ia beriman. Setelah itu, dengan penuh keyakinan Ibrahim lalu mengajak umatnya untuk menyembah Tuhan Sang Pencipta yang telah ia ‘temukan’. (Baca: QS. al-An’ām [6]: 74-81)

Apa yang dilakukan Nabi Ibrahim jelas merupakan salah satu bentuk kegiatan filsafat. Bila dibandingkan dengan para pemikir Yunani, ribuan tahun sebelum para filsuf alam sekelas Thales, Anaximenes, Anaximandros, Herakleitos, Pyhtagoras, dll. mencermati komponen alam, Ibrahim sudah mengamati keberadaan bintang, bulan, dan matahari. Jauh belasan abad sebelum Socrates memunculkan pertanyaan “Aku siapa? Kamu siapa?”, Ibrahim telah mengetahui siapa dirinya, bahkan mulai bertanya siapa tuhannya.

Baca Juga :  Amalan yang Dapat Mengantarkanmu ke Surga

Terkait hal ini, ada secebis kisah menarik yang dikutip oleh Imam al-Suyuti ketika sedang menerangkan jadal fi al-Qur’ān (perdebatan dalam al-Qur’an) di dalam salah satu master piece-nya, al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Kisah tersebut bercerita tentang adu argumen yang terjadi antara al-khalīl dan al-jabbār mengenai Tuhan Nabi Ibrahim As. Kisah ini dimuat dalam Q.S. al-Baqarah (2): 258,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِين

Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya, karena Allah telah memberinya kerajaan. Ketika Ibrahim berkata, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,’ dia berkata, ‘Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.’ Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.

Dalam Tafsīr al-Jalālain disebutkan bahwa saat itu, Nabi Ibrahim mengajak Numrūdz -seorang raja Babilonia saat itu- untuk menyembah Allah. Namun, sang raja enggan dan menolak ajakan tersebut. Bahkan, ia mempertanyakan tuhan yang disembah oleh Nabi Ibrahim.

“Siapa tuhan yang kaumaksud itu?” ujarnya.

Nabi Ibrahim menjawab, “Tuhanku adalah Dzat yang mampu menghidupkan dan mematikan.” Maksudnya adalah yang mampu menciptakan kehidupan dan kematian.

Namun, Numrūdz menyangkal. Ia berseloroh, “Aku mampu menghidupkan dan mematikan.”

Numrūdz berpikir ia dapat melakukan dua hal tersebut dengan kekuasaannya memberi keputusan membunuh atau memaafkan seseorang. Untuk membuktikan perkataannya, ia memanggil dua orang lelaki yang salah satunya telah divonis mendapat hukuman mati. Kepada lelaki yang telah divonis itu, Numrūdz membebaskan dan membiarkannya hidup. Sementara itu ia justru membunuh lelaki yang tidak bersalah.

Baca Juga :  Hikmah Puasa: Kebijaksanaan dalam Introspeksi Diri

Melihat kejadian itu, Nabi Ibrahim menyadari bahwa Numrūdz tidak memahami maksud dua perkataannya, yakni “menghidupkan” dan “mematikan”. Bisa jadi, Numrūdz sebenarnya paham namun berusaha untuk memplesetkannya. Oleh karenanya, Nabi Ibrahim mencari argumen lain sekiranya tidak dapat dibantah atau diplesetkan oleh lawan bicaranya. Lantas, dengan penuh keyakinan ia berkata:

“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur. Maka terbitkanlah matahari dari barat!”

Seketika Numrūdz tercengang. Ia terkejut atas pernyataan Nabi Ibrahim. Pikirannya kacau balau. Sudah jelas ia tak akan mampu melakukan apa yang dipinta tersebut. Menerbitkan matahari dari barat adalah hal yang mustahil. Oleh karenanya, ia hanya bisa diam tak mampu membalas argumen tersebut. Secara tidak langsung, argumen Nabi Ibrahim terbukti kebenarannya.

Bukti Kecerdasan Nabi Ibrahim

Kisah di atas menjadi bukti konkret bahwa seorang nabi wajib memiliki sifat fathanah alias cerdas. Dalam kasus tersebut, jawaban Nabi Ibrahim ‘alaihissalām menunjukkan kecerdasan yang belliau miliki. Beberapa hal yang menarik diperhatikan adalah:

Pertama, beliau mampu membaca jalan pikiran lawan bicaranya. Tanpa kemampuan ini, Nabi Ibrahim tidak mungkin memberikan respon yang tepat untuk mengontrol situasi yang terjadi.

Kedua, beliau menggunakan hal empiris (bukti nyata) dan menggunakan logika dalam memberikan argumen. Sebagaimana disebut di awal, Nabi Ibrahim adalah pemerhati alam. Beliau menggunakan fenomena terbitnya matahari untuk menyusun logika kebenaran tentang Tuhan yang tidak dapat disangkal oleh Numrūdz.

Ketiga, menilik akhir QS. al-Baqarah (2): 258 dan QS. al-An’ām (6): 80-81, kecerdasan yang diperoleh Nabi Ibrahim bukan semata-mata karena usahanya sendiri melainkan merupakan hidayah dari Allah Swt. Ini membuktikan bahwa Nabi Ibrahim tidak hanya mengandalkan intelligence qoutient tapi juga spiritual qoutient.

Berdasarkan beberapa poin di atas, mungkin dapat diambil pelajaran bahwa seorang pendakwah seharusnya memiliki kemampuan dalam (1) mengenali lawan bicaranya, (2) membuat argumen logis, dan (3) selalu meminta hidayah kepada Allah Swt agar dapat menghadapi masalah yang merintang.

Baca Juga :  Direktur el-Bukhari Institute Terbitkan Buku Syarah Matan Baiquniyyah

Dalam konteks Indonesia saat ini, menurut penulis, model dakwah cerdas ala Nabi Ibrahim bisa dilihat pada dakwah yang dilakukan oleh banyak kalangan ulama seperti Prof. M. Quraish Shihab, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha’), Prof. Nadirsyah Hosen (Gus Nadir), dan lain-lain.

Wallahu a’lam bish-shawāb.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here