Belajar Bijak dalam Beragama kepada Nabi Ibrahim

1
616

BincangSyariah.Com – Agama Islam adalah agama yang logis dan rasional. Diturunkan ribuan tahun lalu, ajaran-ajaran yang dibawa oleh tauladan kita Nabi Muhammad ini adalah agama yang sesuai dengan tuntunan nalar dan akal yang benar. Sejarah membuktikan hal tersebut dengan bukti capaian-capaian cendekiawan islam yang harum mewarnai peradaban.

Islam merupakan bagian dari millah Ibrahim (serumpun dengan ajaran Nabi Ibrahim), yang dalam hal ini memiliki semangat yang sama dalam praktik beragama, amat menjunjung tinggi sikap yang mengedepankan akal sehat dalam beragama. Penolakan Islam terhadap diskriminasi terhadap perempuan dan sistem perbudakan pada zaman jahiliyah adalah salah satu bentuk Islam tegas terhadap fenomena-fenomena yang menyelisihi nalar sehat manusia.

Bulan Dzulhijah sebentar lagi akan tiba, selain peristiwa pengorbanan yang dilakukan Ibrahim atas putranya Ismail yang ramai dibahas setiap bulan ini tiba, kita juga perlu meneladani tradisi merawat nalar dalam beragama yang juga diajarkan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam.

Kisah yang menarasikan perjuangan Ibrahim agar bersikap skeptis (selalu mencari tahu hakikat sesuatu) dalam beragama diabadikan dalam surat al-An’am ayat 74 sampai 79. Dimulai dari gugatan Ibrahim atas ajaran yang dibawa ayanya tentang ajaran untuk beriman kepada patung (ajaran yang dinilai Ibrahim sebagai hal yang keliru karena adanya sifat ketidaksempurnaan Tuhan dalam aktivitas penyembahan patung tersebut), kemudian Allah memperlihatkan dinamika semesta kepada Ibrahim agar ia semakin yakin.

Allah berfirman:

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan- tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin. (QS. Al-An’am : 74-75)

Baca Juga :  Cara Memahami Hadis: Mengenal Istillah "Illat" Dalam Memahami Hadis (2-Habis)

Tatkala melihat bintang, ia yakin bahwa bintang adalah Tuhannya, akan tetapi saat bintang pudar ia menampik keyakinan bahwa bintang adalah Tuhannya. Saat ia melihat Bulan pun demikian. Begitu pula saat melihat matahari, Ibrahim terpana dan mengatakan bahwa matahari adalah Tuhannya, bahkan yang ini lebih besar ketimbang bulan, namun tatkala matahari terbenam ia kembali kecewa dan menampik keyakinan bahwa Matahari adalah Tuhan.

Allah berfirman :

Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi tatkala bintang itu lenyap, dia berkata, “Saya tidak suka kepada yang lenyap.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, “Sesungguhnnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tat­kala matahari itu telah terbenam, dia berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan. (QS. Al-An’am : 76-78)

Imam Ibnu katsir, seraya mengutip pendapat Qatadah, menjelaskan bahwa ungkapan Ibrahim perihal ketidaksetujuannya bahwa Tuhan itu “tenggelam” pertanda bahwa Ibrahim sadar betul bahwa Tuhan itu akan selalu ada, tidak tenggelam atau menghilang.

Pertimbangan-pertimbangan nalarnya yang baik dalam beragama, terutama tentang kokohnya prinsip bahwa Tuhan haruslah sempurna, membuat Ibrahim terus bertanya dan mengklarifikasi atas apa yang dia dapati. Sampai akhirnya ia mendeklarasikan bahwa Tuhan yang asli adalah Zat yang menciptakan alamat semesta ini dengan baik dan teratur, yakni Allah Swt.

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS. al-An’am : 79)

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah, seraya mengutip al-Biqa’i, mengatakan bahwa kata hanif berarti kecenderungan kepada fitrah atas dasar dalil dan dengan mudah lagi lemah lembut, bukan atas dasar taklid.

Baca Juga :  Benarkah Alkohol Sedikit atau Banyak Sama Haramnya?

Semangat yang dimiliki Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita perlunya bersikap tegas atas penyelewengan beragama sehingga meninggalkan nalar sebagai pemandunya. Dalam konteks saat ini, menebarkan paham islam yang berbasiskan dalil-dalil sahih dan tepat kiranya bisa menjadi wujud langkah kita merawat nalar  dalam beragama sebagaimana yang diajarkan oleh penghulu para anbiya’, Nabi Ibrahim alahissalam. 

Efrianto Hutasuhut dalam jurnal Al-Lubb (2017) mengatakan bahwa akal dan wahyu mempunyai peran yang sangat penting dalam perjalanan hidup manusia. Wahyu yang diturunkan Allah kepada manusia yang berakal sebagai petunjuk untuk mengarungi lika-luku kehidupan di dunia ini. Akal tidak serta merata mampu memahami wahyu Allah, adalah panca indera manusia yang menyertainya untuk dapat memahami wahyu yang diturunkan Allah. Dengan demikian, ada hubungan yang erat antara wahyu sebagai kebenaran mutlak karena berasal dari Tuhan dengan perjalanan hidup manusia.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here