Hukum Bekerja Sebagai Debt Collector dalam Islam

0
150

BincangSyariah.Com – Profesi debt collector merupakan profesi yang berperan dalam melakukan penagihan utang yang diakibatkan kasus wanprestasi berupa kredit macet. Profesi ini ada seiring adanya nasabah yang mangkir dari tanggung jawabnya dalam membayar utang kepada lembaga jasa keuangan tempat ia mengajukan pembiayaan / kredit bagi usahanya atau bahkan untuk kebutuhan sendiri. Bagi pihak perbankan, macetnya dana di tangan nasabah, mahu tidak mahu merupakan hambatan tersendiri baginya. Untuk itulah maka mereka menyediakan jasa debt collector ini untuk wahana mengantisipasinya. (Baca: Hukum Utang Mata Uang Dolar, Boleh Bayar Pakai Rupiah Atau Harus Dolar?)

Keberadaan debt collector bagi perbankan sebenarnya bisa dibedakan menjadi 2, yaitu: 1) berasal dari tenaga internal perbankan sendiri, dan 2) lewat peran jasa pihak ketiga (outsourcing). Jika tenaga debt collector berasal dari internal perbankan, maka segala mekanisme perbankan terkait dengan macetnya produk pembiayaan, memungkinkan untuk dilakukan. Sebagaimana tertuang dalam Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 280:

وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَن تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Bila ditemui adanya kesulitan melunasi utangnya, maka tunggulah hingga ia mudah. Dan bila kalian menshadaqahkannya, maka itu adalah lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 280).

Akan tetapi lain halnya bila peran debt collector ini dimainkan oleh pihak ketiga. Bisa jadi, visi dan misi perbankan tidak banyak menjadi pertimbangan oleh mereka, sebab basis kinerja debt collector adalah akad istiqradl ju’alah (penagihan dengan upah berbasis akad prestasi) qiyas dengan akad iqtiradl (mencarikan utangan).

(قَوْلُهُ مِنْ أَقْسَامِ الْجَعَالَةِ ) وَلَوْ قَالَ اقْتَرِضْ لِي مِائَةً وَلَك عَشَرَةٌ أَيْ فِي مُقَابَلَةِ الِاقْتِرَاضِ فَهُوَ جَعَالَةٌ ذَكَرَهُ الْمَاوَرْدِيُّ وَالرُّويَانِيُّ ا هـ نِهَايَةٌ أَيْ وَيَقَعُ الْمِلْكُ فِي الْمُقْتَرِضِ لِلْقَائِلِ فَعَلَيْهِ رَدُّ بَدَلِهِ وَفِيهِ تَفْصِيلٌ فِي الْوَكَالَةِ فَرَاجِعْهُ ع ش

Baca Juga :  KH. Ma’ruf Amin: Kyai Penggerak Ekonomi Syariah

“Perkataan mushannif termasuk bagian dari akad ju’alah adalah ada seseorang yang berkata: “carikan aku utangan 100, maka kamu saya kasih 10, atau yang sebanding dengan utangan yang berhasil dicarikan. Akad seperti ini termasuk akad ju’alah sebagaimana dituturkan oleh al-Mawardi, dan al-Ruyani.” (Tuhfatu al-Muhtaj Syarah al-Manhaj, Juz 27, halaman 13).

Sebagaimana yang berlaku atas akad meminta dicarikan pinjaman (iqtiradl), maka kedua akad ini, hukum asalnya adalah boleh sebagaimana hukum kebolehan menagih utang seseorang. Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah berutang dan kemudian ditagih utangnya. Dalam sebuah hadits yang tertuang dalam Kitab Shahih Bukhari, disampaikan:

أن رجلا تقاضى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأغلظ له فهم به أصحابه فقال دعوه فإن لصاحب الحق مقالا واشتروا له بعيرا فأعطوه إياه وقالوا لا نجد إلا أفضل من سنه قال اشتروه فأعطوه إياه فإن خيركم أحسنكم قضاء

“Bahwa ada seorang laki-laki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menagih apa yang dijanjikan kepadanya. Maka para sahabat marah kepadanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Biarkanlah dia karena bagi orang yang benar ucapannya wajib dipenuhi, belikanlah untuknya seekor unta dan berikanlah kepadanya“. Dan mereka berkata: “Kami tidak mendapatkannya kecuali yang umurnya lebih tua“. Maka Beliau bersabda: “Beli dan berikanlah kepadanya, karena yang terbaik diantara kalian adalah yang paling baik menunaikan janji“. HR. Bukhari dengan Nomor Hadits 2215.

Secara jelas hadits di atas, menyebutkan tentang kebolehan penagihan utang. Dan lewat hadits ini pula muncul kaidah yang masyhur bahwa sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam pengembalian utangnya. Hanya saja, syariat menjelaskan mengenai adab-adab dalam penagihannya, yaitu bila yang ditagih masih dalam kondisi terdesak / kesulitan, maka seyogyanya adalah menunggu hingga diberi ia longgar dalam rezekinya.

Baca Juga :  Hanya Lima Golongan Ini yang Akan Berbahagia saat Ajal Menjemput

Namun, kemudahan penagihan semacam ini, sudah barang tentu juga harus diimbangi dengan empati dari pihak peminjam, bahwa menunda-nundanya peminjam dalam membayar utangnya adalah sebuah tindakan aniaya.

مطل الغني ظلم

“Menunda-nundanya orang yang mampu melunasi utangnya, adalah sebuah kedhaliman.”

Beberapa keluhan masyarakat terkait dengan beberapa tindakan yang dilakukan oleh debt collector, adalah mereka kadang sering diancam, terjadi tindak kekerasan, mempermalukan pemegang kartu kredit, kadang juga menyampaikan tekanan secara fisik maupun verbal. Bila cara-cara seperti ini yang dilakukan oleh pihak debt collector, sudah barang tentu, hal itu bertentangan dengan nushush al-syari’ah yang menyatakan bahwa hukum asal qardl (utang-piutang) adalah qardlu hasan (pinjaman lunak) untuk tujuan ta’awun (tolong menolong). Alhasil, tindakan itu merupakan tindakan yang mengandung unsur ta’addy dan israf (melampaui batas dan berlebih-lebihan).

إن الله لايحب المسرفين

“Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

Termaktub dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

إنَّ اللَّه تَعَالَى فَرَضَ فَرائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا، وحدَّ حُدُودًا فَلا تَعْتَدُوهَا، وحَرَّم أشْياءَ فَلا تَنْتَهِكُوها، وَسكَتَ عَنْ أشْياءَ رَحْمةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيانٍ فَلا تَبْحثُوا عَنْهَا

“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan sejumlah kewajiban, maka jangan sia-siakan. Dan Allah telah menetapkan sejumlah batasan-batasan, maka jangan melampauinya. Allah SWT juga telah mengharamkan hal-hal tertentu, maka jangan engkau melanggarnya. Dan Allah diamkan sesuatu yang lain, sebagai rahmat bagi kalian yang tidak akan pernah terlupakan. Maka, jangan korek-korek sesuatu itu!” HR. Al-Daruquthny.

Alhasil, sebagai kesimpulan bahwa profesi debt collector adalah profesi yang diperbolehkan oleh syariat. Akan tetapi, hendaknya pelaksanaan profesi ini hendaknya juga jangan meninggalkan adab-adab yang sudah ditetapkan dan berlaku dalam syariat. Melampaui adab dan ketentuan syariat, menjadikan profesi ini rawan terhadap tindakan aniaya dan melampaui batas. Wallahu a’lam bi al-shawab

Baca Juga :  Nalar Fikih Trading Indeks Sektoral

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here