Bekal Utama Pencari Ilmu menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib

0
1897

BincangSyariah.Com – Agama Islam dibangun dengan landasan keilmuan yang kokoh. Maka tidak heran jika Nabi Muhammad Saw dalam sebuah sabdanya mewajibkan setiap orang Islam—baik laki-laki maupun perempuan—untuk mencari ilmu, lebih-lebih ilmu agama (baca: syariat). Tanpa ilmu, segala macam ibadah yang diritualkan akan terasa hampa, bagai raga tanpa nyawa.

Rasulullah Saw sebagai syari’ (pembawa syariat) merupakan sumber ilmu utama agama Islam yang secara turun temurun mengalirkan pancaran keilmuannya melalui para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in hingga kedalam relung hati para ulama sebelum sampai kepada kita semua. Diantara para sahabat Nabi, Sayyidina Ali Kw adalah salah satu yang terkenal paling alim. Bahkan dalam hadits riwayat Abdullah ibn Abbas, Rasulullah Saw menegaskan posisi Sayyidina Ali Kw sebagai gerbang keilmuan Islam:

أَنَا مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا فَمَنْ أَرَادَ الْمَدِيْنَةَ فَلْيَأْتِهَا مِنْ قِبَلِ البَابِ

“Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya. Barangsiapa ingin mendatangi kota, maka hendaknya mendatanginya dari gerbangnya.”

Maka menjadi penting bagi kita untuk mematuhi petuah dan nasihat Sayyidina Ali Kw bagi para pencari ilmu agar kita mampu memasuki kota ilmu (Nabi Muhammad Saw) melalui gerbang yang sudah beliau tunjukkan dalam hadits tersebut.

Di dalam Ta’lim Muta’allim, Syaikh az-Zarnuji menyadur sebuah syair gubahan Sayyidina Ali Kw yang berisi nasihat tentang bekal utama pencari ilmu,

أَلَا لاَ تَنَالُ العِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ # سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ

ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَاٍر وَبُلْغَةٍ # وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

“Ingatlah! Bahwasanya seseorang tidak akan memperoleh ilmu melainkan dengan enam perkara yang akan kupaparkan dengan jelas. (Keenam hal itu adalah) kecerdasan, keinginan dan gairah yang besar untuk memperoleh ilmu, sabar, bekal, petunjuk guru, dan waktu yang lama.”

Syaikh Ibrahim ibn Ismail memberikan catatan terhadap syair ini. Pertama adalah dzaka’, yakni ketangkasan untuk memahami pelajaran. Kedua hirshin, yakni keinginan dan gairah yang kuat untuk mendapatkan ilmu. Syaikh Ali Jum’ah memaknai hirsh sebagai upaya terus menerus untuk memperoleh ilmu. Ketiga ishthibar alias sabar, yakni bersabar dalam menghadapi segala rintangan yang menghadang selama proses mencari ilmu. Keempat bulghoh, yakni bekal dan biaya selama menuntut ilmu agar kita tidak butuh dan tertarik terhadap rezeki orang lain. Ketiadaan biaya mampu membuat hati kita gusar untuk memikirkan masalah bekal, sehingga menyebabkan berkurangnya fokus dalam mencari ilmu. Kelima irsyadi ustadzin, yakni petunjuk seorang guru agar kita tidak tersesat dan salah jalan selama mencari ilmu. Keenam thuli az-zamaan, yakni dibutuhkan waktu yang lama untuk dapat memperoleh ilmu. Ilmu tidak dapat diperoleh dengan cara dan waktu yang instan.

Baca Juga :  Ini Penjelasan Ulama yang Memperbolehkan Keluarga Nabi Menerima Zakat dan Sedekah

Semoga kita mampu mengamalkan petuah yang dinasihatkan Sayyidina Ali Kw dan diberikan ilmu yang bermanfaat, yakni ilmu yang membuat kita semakin dekat dengan Allah Swt, bukan ilmu yang justru menjauhkan kita dari-Nya. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here