Bedah Buku Ilmu Living Quran-Hadis

0
537

BincangSyariah.Com – Selama ini, kajian living Quran dan Sunnah yang dilakukan oleh para peneliti di Indonesia baru sebatas pada tataran konsep dan belum masuk pada tataran faktual. Dalam iklim yang seperti inilah, membaca buku Living Quran-Hadis karya Ahmad Ubaydi Hasbillah bagai menemukan oase dalam kajian Ulumul Quran dan Ulumul Hadis.

Ubaydi Hasbillah menawarkan penelitian Living Quran-Hadis yang ditulis dalam buku tersebut sebagai sebuah Ilmu Independent di luar kajian Ulumul Quran dan Ulumul Hadis. Sebagai sebuah Ilmu yang mandiri, Ubaydi Hasbillah membingkai objek kajiannya dengan Ilmu Dakwah dan Ilmu Sosial dalam membangun konsep ontologi, espistemologi dan aksiologi.

Ia berharap dengan hadirnya buku ini umat Islam bisa lebih bijak dalam memahami kearifan Quran dan Sunah terhadap budaya lokal sebagaimana Islam di masa Nabi Muhammad yang juga sangat arif terhadap budaya lokal bangsa Arab saat itu.

“Kita perlu untuk mengenali kearifan Quran, Hadis dan budaya lokal lalu mengejawantahkannya dalam kehidupan sehari-hari seperti yang dilakukan Nabi, “ujar Ahmad Ubaidy Hasbillah dalam acara Lounching dan Bedah Buku Ilmu Living Quran-Hadis yang diselenggarakan oleh Ali Mustafa Yaqub (AMY) Institute di Aula Kiai Idris Kamali, Pesantren Darus-Sunnah, pada Minggu pagi (03/03).

Pernyataan tersebut juga diamini oleh Ketua Jurusan Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, Rifki Muhammad Fatkhi, yang juga hadir sebagai pembanding dalam acara bedah buku yang termasuk dalam rangkaian peringatan Haul-3 KH Ali Mustafa Yaqub itu.

Menurut Rifki, saat ini masyarakat muslim di Indonesia berkepentingan untuk menghidupkan kembali substansi sunnah dalam tradisi yang dilakukan Rasulullah daripada menghidupkan teks hadis semata.

Umat Islam harus membedakan antara living sunah yang berarti menghidupkan substansi dan tradisi, dengan living Hadis yang berarti menghidupkan teksnya, dan buku tersebut cukup komperhensif untuk dijadikan buku teks dalam kajian pengantar Living Quran-Hadis. “Buku ini, buku yang komperhensif untuk dijadikan buku teks,” ujar Rifki.

Baca Juga :  Meluruskan Pemahaman Hadis Kaum Jihadis

Senada dengan hal tersebut, Zia Ul Haramain juga mengatakan bahwa membedakan antara agama dan budaya itu sangat penting. Sebab selain sebagai Rasul, Nabi Muhammad juga adalah seorang arab dan berbudaya. Sehingga apa yang datang dari nabi berupa agama wajib dilaksanakan sedangkan yang berasal dari budaya itu boleh diambil dan boleh ditolak.

“Hal tersebut juga pernah dikatakan oleh Kiai Ali Mustafa Yaqub dalam kitabnya yang berjudul al-Turuq al-Shahihah fi Fahmi al-Sunnah al-Nabawiyah dan kemudian dielaborasi lebih jauh dalam buku Living Quran-Hadis karya Ahmad Ubaidy Hasbillah ini,” tutur Khadim Ma’had Pesantren Darus-Sunnah tersebut.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here