Beberapa Kesalahpahaman Dalam Memahami Tawasul

0
913

BincangSyariah.Com – Sebagian muslimin seringkali masih mempersoalkan praktik tawasul dan menganggapnya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kata tawasul (arab: tawassul) secara bahasa berarti “mencari cara untuk mendekat”, dapat kita temukan derivasinya pada ayat Al-Qur’an, diantaranya adalah surah al-Ma’idah [5]: 95,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah mendekatkan diri kepada-Nya, serta berjuanglah di jalan-Nya agar kalian menjadi orang-orang yang beruntung  

Menurut Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dalam Mafahim Yajibu An Tushohhaha (h. 118-119) ayat diatas menjadi dalil keumuman kebolehan melaksanakan tawasul, baik tawasul dengan amal-amal shalih maupun tawasul dengan para Nabi, Rasul, atau para orang-orang shalih.

Masih menurut Sayyid Muhammad, beberapa orang yang masih terjatuh pada kesalahpahaman dalam memahami tawasul perlu menyadari hal-hal berikut,

Pertama, tawasul adalah diantara cara berdoa. Ia merupakan diantara “pintu” mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga maksud yang paling hakiki dari orang yang bertawasul sebenarnya adalah Allah Sawt. Dan sosok yang ditawasuli, misalnya berdoa sambil bertawasul kepada orang-orang shalih, tujuannya tetap kepada Allah. Maka siapa yang meyakini selain Allah makan ia menjadi musyrik statusnya.

Kedua, orang bertawasul dengan orang atau hal-hal yang menjadi perantara tadi, tidak lain adalah karena kecintaan orang yang bertawasul. Orang yang bertawasul juga meyakini bahwa Allah mencintainya.

Ketiga, andaikan orang yang bertawasul meyakini bahwa yang menjadi perantara tadi punya kemampuan karena dirinya sendiri, bukan karena karunia Allah kepadanya, maka orang yang bertawasul ini baru bisa disebut musyrik.

Keempat, tawasul memang bukan sebuah keharusan dalam berdoa. Dan dikabulkannya doa tidak tergantung oleh perantara yang ditawasuli tadi. Namun prinsipnya, berdoa itu tetap kepada Allah.

Baca Juga :  Apakah Orangtua Dapat Menolong Anaknya di Akhirat Nanti?

Terkait dengan contoh-contoh praktik tawasul, baik yang menggunakan amal shalih ataupun dengan keshalihan para Nabi dan Rasul serta orang-orang shalih yang diyakini sebagai kekasih-Nya, telah dijelaskan disini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here