Beberapa Ayat Al-Qur’an Turun Disebabkan Orang Munafik, Siapa Saja?

1
26786

BincangSyariah.Com – Pada dasarnya manusia terlahir dalam keadaan suci. Setelah berakal dan baligh Allah mempersilahkan manusia untuk memilih; melaksanakan hal-hal yang baik atau tercela. Salah satu perbuatan tercela yang perlu dihindari adalah munafik. Manusia bisa menilai dirinya (jangan nilai orang lain) apakah tergolong orang munafik atau bukan melalui petunjuk Rasullah yang termaktub dalam hadits berikut:

من ابى هريرة رضي الله عه قال، قال رسول ا لله صلى الله عليه وسلّم، أية المنافق ثلاث، اذا حدّث كذب واذا وعد أخلف واذاأؤتمن خان

Dari Abu Hurairah r.a ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “Ciri-ciri orang munafik itu ada tiga, yaitu bila berbicara ia dusta, bila berjanji ia menyalahi, dan bila dipercaya ia berjkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam perjalanan risalahnya, Nabi banyak bertemu dengan orang munafik. Mereka mengaku Islam namun di dalam hati sangat benci dengan Islam. Di depan tampak manis, namun di belakang ia memusuhi. Allah sangat benci dengan orang yang demikian. Bahkan ada beberapa ayat Al-Qur’an turun disebabkan orang munafik. Berikut kisah yang saya ambil dari buku Pendidikan Agama Islam tulisan Muhammad Latif,

Pertama, Q.S at-Taubah: 74.

Rasullulah memiliki sahabat yang bernama Julas bin Saud. Julas mempunyai saudara yang bernama Umar bin Sad. Suatu ketika Julas menjelek-jelekkan Nabi dengan berkata, “Jika orang ini (Nabi Muhammad) benar, berarti kita lebih bodoh dibandingkan unta.” Ucapan Julas oleh Umar disampaikan kepada Nabi Muhammad. Namun ketika dikonfirmasi oleh Rasulullah, Julas membantahnya. Kemudia turun surat QS. at-Taubah: 74,

يَحْلِفُوْنَ بِاللّه مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِوَكَفَرُوْا بَعْدَ اِسْلٰمِهِمْ وَهَمُّواْ بِمَا لَمْ يَنَالُواْ وَمَا نَقَمُوا اِلَّا أَنْ أَغْنٰهُمُ أللّٰهُ وَرَسُوْلُهُ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنْ يَتُوْبُوايَكُ خَيْرًا لَّهُمْ وَإِنْ يَتَوَلَّوا يُعَذِّبْهُمُ اللّٰهُ عَذَابًا أََلِيْمًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَمَا لَهُمْ فِى الأٰرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيْرٍ

Mereka (orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakiti Muhammad). Sungguh mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir setelah islam, dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasulnya), sekiranya Allah dan Rasulnya telah melimpahkan karenuia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan merwka tidak punya pelindung dan tifak (pula) penolong di bumi.”

Kedua, at-Taubah: 49

Baca Juga :  Hukum Orangtua Menyuruh Anak Bercerai

Saat Rasulullah memerintahkan kaum muslimin untuk berperang di jalan Allah, ada seorang muslim munafik bernama Jad bin Qis, ia kemudian mengatakan, “hai Muhammad, izinkan saya tidak pergi berperang , dan engkau jangan menjerumuskanku kedalam fitnah.” Kemudian Allah berfirman,

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُوْلُ اىٔذَنْ لِى وَلَا تَفْتِنِّى أَلَا فِى الْفِتْنَةِ سَقَطُوْا وَاِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيْطََةٌ بِالْكَافِرِيْنَ

Dan diantara mereke ada yang berkata, “Berilah aku izin (tidak pergi berperang), dan janganlah engkau (Muhammad) menjadikan aku terjerumus ke dalam fitnah .” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sungguh jahannam meliputi orang-orang yang kafir.”

Ketiga, al-Hasyr: 11-16

Pada suatu hari Rasulullah mengendarai keledai. Di atas beliau terdapat kain pelana. Dan diatas pelana ada selimut. Rasulullah berjalan melewati Abdullah bin Salul yang sedang berteduh. Saat itu Abdullah bin Ubay bersama beberapa orang kaumnya. Rasulullah merasa malu karena peminpin Madinah. Karena itu beliau turun menuntun keledainya dan mengucapkan salam kepada mereka. Lalu Rasulullah duduk sebentar dan membaca Al-Quran kepadanya. Namun Abdullah bin Ubay diam saja. Ketika Rasulullah selesai bicara, dia berkata, “Hai Muhammad, sesungguhnya tidak ada orang yang lebih baik perkataannya selain perkatanmu. Jika yanng engkau katakan benar, duduklah di rumah. Siapa saja yang datang kepadamu, bicaralah dengannya. Sedangkan jika tidak ada orang yang datang kepadamu , engkau tidak perlu bersusah-susah mencari orang untuk kamu ceramahi.”

Sikap Abdullah bin Ubay bin Salul di atas menunjukkan kemunafikannya sebagai seorang muslim, karena dia membenci dakwah islam dan nasehat dari Rasulullah.

Allah menurunkan ayat yang menceritakan kemunafikannya dalam Al-Qur’an. Allah berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِيْنَ نَافَقُوْا يَقُوْلُوْن لِاٍِخْوٰنِهِمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتٰبِ لَىِٕنْ اُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيْعُ فِيْكُمْ أََحَدًا أَبَدًا وَاِنْ قُوْتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ اِنَّهُمْ لَكٰذِبُونَ ه لَىِٕنْ أُخْرِجُوْا لَا يَخْرُجُوا لَايَخْٰرُجُوْنَ مََعَهُمْ وَلَىِٕنْ قُوْتِلُوْا لَا يَنْصُرُونَهُمْ وَلَىِٕٕن نَّصَرُوهُمْ لَيُوَلُّنَّ الْأَدْبٰرَ ثُمَّ لَا يُنْصَرُونَ ه لَأَنْتُمْ أَشَدُّ رَهْبَةً فِى صُدُورِهُمْ مِنَ اللّٰهِ ذَالِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ ه لَا يُقٰتِلُونَكُمْ جَمِيْعًا اِلَّا فِى قُرًى مُّحَصََّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرٓاءِ جُدُرِ بَأْسُهُم بَيْنَهُمْ شَدِيْدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتّٰى ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ ه كَمَثَلِ الشَّيْطٰنِ اِذْ قَالَ لِلْإِنْسٰنِ اكْفُرْفَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِِّنكَ إِنِّى أَخَافُ زرت اللّٰهَ رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ ه

Baca Juga :  Ini Khutbah Jumat Pertama Nabi Saat Berada di Madinah

Tidakkah engkau memerhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudaranya yang kafir di antara Ahli Kitab, “Sungguh, jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantumu. “Dan Allah menyaksikan, bahwa mereka benar-benar pendusta. Sungguh, jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka, dan jika mereka diperangi; mereka (juga) tidak akan menolongnya; dan kalau pun mereka menolongnya pastilah mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tidak akan mendapat pertolong. Sesungguhnya dalam hati mereka, kamu (muslimin) lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak mengerti. Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak mengerti. (Mereka) seperti orang-orang yang sebelum mereka (Yahudi) belum lama berselang, telah merasakan akibat akibat buruk (terusir) disebabkan perbuatan mereka sendiri. Dan mereka akan mendapat azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu!” Kemudian ketika manusia itu menjadi kafir ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (Q.S. Al Hasyr: 11-16)

Semoga kita  bisa mengambil hikmah dari kisah di atas dan digolongkan pada golongan muttaqin. Wallahu a’lam.

 

ََ

1 KOMENTAR

  1. Para Ulama sudah menjelaskan bahwa yang dimaksud Sahabat adalah orang yang pernah bertemu Nabi dan masuk Islam di masa beliau, lalu wafat dalam keadaan Muslim.

    Jika Julas murtad, dia tak boleh disebut Sahabat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here