Bayi Kembar Siam, Dianggap Satu atau Dua Orang dalam Hukum Islam?

0
1096

BincangSyariah.Com – Kemunculan kembar siam sebuah fenomena yang tidak asing lagi bermunculan di sekitar kita. Umumnya bayi kembar siam bermasalah dalam gen. Dalam pandangan Islam, kembar siam dianggap satu atau dua orang, dan bagaimana konsekuensi hukum syariat bagi yang mengalami keadaan demikian?

Dalam memutuskan status jumlah jiwa ganda atau tunggal, agama melihat dari adanya dua atau satu kepala, serta kemampuanya untuk hidup. Bilamana dua kembar siam mampu hidup bergantian, semisal satu tidur dan yang lainya sadar, begitupula sebaliknya, maka dianggap dua jiwa, baik anggota tubuh lainya (selain kepala) ganda maupun tidak. Dalam Hawasyi al-Syarwani (juz 6, vol 455) dijelaskan:

فظاهر أن تعدد غير الرأس ليس بشرط بل متى علم استقلال كل بحياة كأن نام دون الآخر كانا كذلك إهـ.

“Jelaslah bahwa keterbilangan anggota tubuh selain kepala bukan sebuah syarat (dianggap dua jiwa). Akan tetapi ketika dapat diketahui kehidupanya masing-masing, seperti salah satu tidur dan yang lain sadar (begitupula sebaliknya) maka dihukumi dua jiwa.”

Keberadaan kembar siam yang dianggap dua jiwa dengan ketentuan tersebut, berlaku kepada masing-masing dari keduanya hukum syariat sebagaimana umumnya. (Baca: Berapakah Jumlah Hewan Akikah untuk Anak Kembar?)

إذحكمهما حكم الإثنين في سائر الأحكام كما نقلوه عن ابن القطان وأقروه

“Karena keduanya dihukumi dua orang (jiwa) dalam berbagai hukum, sebagaimana ketetapan dan kutipan para ulama dari Ibnu Qothon.” (Hawasyi al-Syarwani).

Dalam melaksanakan ibadah, mereka berdua harus melakukanya sebagaiamana umumnya. Ibadah shalat bagi keduanya, secara umum sama seperti biasanya, yakni dengan tetap melakukan syarat dan rukun-rukunnya sesuai dengan kemampuan. Sebagai catatan dalam masalah kewajiban menghadap kiblat bagi kembar siam dempet punggung (saling membelakangi), shalatnya dilakukan secara bergantian. Sebagaiamana dalam Nihayah al-Muhtaj (juz 2, vol 474):

Baca Juga :  Tips agar Selalu Bersyukur pada Allah Swt

فلو كان ظهر أحدهما ملصقا بظهر الآخر أحرم أحدهما أولا بالصلاة للقبلة، فإذا أتم صلاته استدبر من صلى القبلة وأحرم الآخر إليها وصلى

“Apabila punggung salah satu dari keduanya berdempetan (saling membelakangi), maka salah satunya mengawali takbiratul ihram (memulai melaksanakan shalat) dengan menghadap kiblat. Ketika sudah selesai kemudian membelakangi kiblat, yang satu lagi bergantian takbiratul ihram (melaksanakan shalat) dengan menghadap kiblat.” Wallahu a‘lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here