Batasan Orang Sakit yang Boleh tidak Puasa

2
2431

BincangSyariah.Com – Kondisi sakit adalah satu satu dispensasi yang diberikan Allah Swt. kepada hamba-Nya untuk tidak menjalankan puasa Ramadan, tapi dengan konsekuensi harus menggantinya di hari lain. Hal ini telah dijelaskan dalam Alquran surah Albaqarah ayat 184

……..فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ……

Maka barang siapa di antara kamu yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang ia tidak berpuasa itu) pada hari-hari lain.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah semua jenis penyakit diperbolehkan untuk tidak menjalankan puasa di bulan Ramadhan? Jika tidak, lalu apa yang menjadi tolak ukur diperbolehkannya mendapatkan dispensasi untuk tidak berpuasa?

Imam Zakariya al-Anshari di dalam kitabnya Attahrir memberikan batasan bagi orang yang diperbolehkan tidak berpuasa karena sakit, dengan batasan sakit yang dikhawatirkan akan terjadi masyaqah yang berat.

Penjelasan imam Zakariya tersebut kemudian diperluas oleh imam as-Syarqawi di dalam kitabnya Assyarqawi Alat Tahrir (juz 1, Indonesia: al Haramain, tth, h, 441)

فَلِلْمَرِيْضِ ثلاثة احوال ان خاف أي توهم ضرار يبيح التيمم كره له الصوم وجاز له الفطر فان تحقق الضرر المذكور ولو بغلبة ظنه أو انتهى به العذر الى الهلاك أو ذهاب منفعة عضو حرم عليه الصوم ووجب عليه الفطر فان كان المرض خفيفا حرم الفطر ووجب الصوم وقد مر ذلك أيضا.

“Maka bagi orang yang sakit ada tiga kondisi, jika ia khawatir yakni dia menyangka akan timbulnya bahaya, di mana penyakitnya itu sampai membolehkan ia tayamum maka makruh baginya berpuasa dan boleh untuk tidak berpuasa.

Jika ia yakin akan adanya bahaya tersebut dan bahkan mengalahkan sekedar prasangka atau sampai menyebabkan uzur kepada suatu kerusakan fisik atau hilangnya manfaat anggota badan maka haram baginya berpuasa dan wajib baginya untuk berbuka.

Jika penyakitnya itu ringan maka haram baginya berbuka dan wajib menjalankan puasa sebagaimana penjelasan yang telah lalu juga.”

Berdasarkan keterangan tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa ada tiga hukum puasa bagi orang yang sedang sakit. Pertama, haram berpuasa bila ia yakin akan timbulnya mudarat yang berat jika ia tetap meneruskan puasanya. Misalnya vonis dari dokter yang mengatakan akan membahayakan atau menghilangkan anggota badan, dan sakitnya itu sudah diperbolehkan baginya untuk bertayamum. Dan bagi orang tersebut wajib untuk berbuka.

Baca Juga :  Harta yang Disedekahkan Tak Akan Berkurang

Kedua, makruh berpuasa dan boleh untuk tidak berpuasa bagi orang yang masih menduga akan terjadinya bahaya jika ia memaksakan untuk berpuasa.

Ketiga, wajib berpuasa dan haram tidak berpuasa bagi orang yang sakitnya ringan-ringan saja. Misalnya hanya sekedar pusing, sakit telinga, sakit gigi atau sakit yang tidak sampai menimbulkan bahaya yang berat.

Dengan demikian, maka batasan orang sakit yang diperbolehkan untuk tidak menjalankan puasa Ramadan adalah orang yang berpenyakit parah. Dan keparahannya bahkan bisa membahayakan anggota tubuhnya, baik itu sesuai dengan keterangan dokter atau masih dugaan.

Bagi yang mengalami kondisi di atas, wajib meng-qadha puasa yang telah ditinggalkan, ketika sudah sembuh di hari lain dan bulan selain Ramadan. Tetapi khusus untuk orang yang sakit dan tidak dapat diharapkan kesembuhannya, maka baginya diperbolehkan untuk tidak menjalankan puasa dan tidak pula meng-qadha-nya. Tetapi keluarganya wajib membayarkan fidyah untuknya.

Hal ini juga sebagaimana disebutkan oleh imam Zakariya al Anshari di dalam kitab Attahrir.

وموجب للفدية دون القضاء وهو لشيخ كبير لما مر في باب الفدية مع عجزه عن الصوم ومثله مريض لا يرجى برؤه.

Dan diwajibkan membayar fidyah tanpa meng-qadla puasa yakni bagi orang yang tua renta sebagaimana telah lalu (penjelasannya) di dalam bab fidyah, disertai ketidakmampuannya menunaikan puasa dan semisal dirinya yakni orang sakit yang tidak dapat diharapkan kesembuhannya.”

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here