Batasan Khaufil Fitnah dalam Kitab-kitab Fiqih

0
144

BincangSyariah.Com – Dalam kitab-kitab fiqih banyak ditemukan mengenai bahasan tentang khaufil fitnah, atau khawatir menimbulkan fitnah dalam masalah yang berhubungan dengan perempuan. Contohnya adalah masalah suara perempuan adalah aurat jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah pada laki-laki. Sebenarnya, sampai dimana batasan khaufil fitnah dalam kitab-kitab fiqih?

Dalam kitab Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, Imam Al-Ramli memberi batasan khaufil fitnah ini sebagai berikut;

يُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّ ضَابِطَ خَوْفِ الْفِتْنَةِ أَنْ يَخَافَ أَنْ تَدْعُوهُ نَفْسُهُ إلَى مَسٍّ لَهَا أَوْ خَلْوَةٍ بِهَا

Disimpulkan dari keterangan di atas bahwa batasan khaufil fitnah adalah laki-laki khawatir nafsunya mendorong untuk menyentuh perempuan, atau berkhalwat dengannya (berduaan di tempat sepi).

Melalui penjelasan ini dapat diketahui bahwa batasan khaufil fitnah dalam fiqih adalah ketika perempuan tersebut menyebabkan laki-laki berhasrat hingga berani menyentuhnya atau berkhalwat. Jika tidak sampai pada batasan ini, maka belum disebut khaufil fitnah atau menimbulkan fitnah.

Dalam kitab Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu, Syaikh Wahbah Azzuhaili mencontohkan batasan khaufil fitnah ini. Yaitu ketika seorang laki-laki dan perempuan berduaan di tempat sepi, maka akan melakukan perbuatan yang diharamkan. Beliau berkata;

فلا يحرم سماع صوت المرأة ولو مغنية، إلا عند خوف الفتنة، بأن كان لو اختلى الرجل بها، لوقع بينهما مُحرَّم

Mendengarkan suara perempuan tidak diharamkan sekalipun suara biduanita atau penyanyi perempuan kecuali bila dikhawatirkan menimbulkan fitnah, yaitu misalnya seorang laki-laki bukan mahram menyendiri bersama perempuan tersebut, maka akan melakukan perkara yang diharamkan.

Baca Juga :  Belajar Tauhid: Perbedaan Antara Rasul dan Nabi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here