Batas Melakukan Keharaman Karena Dipaksa

1
814

BincangSyariah.Com – Dalam islam, ada sekian aturan seseorang harus melaksanakan ajaran-ajaran yang terkandung di dalam agamanya. Akan tetapi, sebagai manusia, kita seringkali menemui peristiwa–peristiwa yang tidak diharapkan sehingga kita tidak bisa melaksanakan ajaran agama.

Oleh karena itu, syariat (aturan) dalam agama islam sudah memberikan dispensasi atau keringanan bagi umat islam agar tidak mendapat dosa sebagai salah satu jalan untuk mendapatkan siksa bagi dirinya. Perkara seperti ini seringkali disebut dengan uzur.

Dalam hadis nabi Muhammad SAW., disebutkan, bahwa ada tiga keadaan (arab: al-‘udzru) seseorang muslim tidak dikenai tuntutan dalam melaksanakan perintah atau larangan dalam agama, yakni sebagai berikut,

عَنِ ابْنِ عَبًّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِيْ الْخَطَأَ وَالنّسْيَاَنَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ رَوَاهُ ابْنِ مَاَجَه وَ الْحَاكِمُ والبَيْهَقِي

Dari Ibnu Abbas RA. Dari Nabi SAW. Beliau bersabda, “sesungguhnya Allah mengampuni (beberapa kesalahan) dari umatku dikarenakan keliru, lupa dan karena dipaksa.” (HR. Ibnu Majah, Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

Dalam hadis diatas dapat diambil kesimpulan, salah satu kekeliruan seorang muslim yang Allah maafkan yaitu pekerjaan yang disebabkan keterpaksaan. Akan tetapi, dalam hadits ini tidak ada batasan yang jelas bagaimana seseorang boleh melakukan perkara yang haram karena di paksa.

Untuk memperjelas batasan melakukan keharaman karena dipaksa tersebut, Syaikhul Islam Zakariya Al–Anshori menjelaskan dalam karyanya Tuhfatut Tullab bi Syarhi Tahrir Tanqihul Lubab, dalam bab tersendiri, yakni bab Pemaksaan (bab al–Ikrah). Beliau menyebutkan seperti ini,

(وَشَرْطُهُ قدْرَةُ الْمُكْرِهِ) بِكَسْرِ الرَّاءِ (عَلَى تَحْقِيْقِ مَا هَدَّدَ بِهِ) بِوِلَايَةٍ أَوْ تَغَلُّبٍ (عَاجِلًا ظُلْمًا وَ عَجَزَ الْمُكْرَهُ) بِفَتْحِ الرَّاءِ (عَنْ دَفْعِهِ) بِهَرَبٍ أَوْ غَيْرِهِ (وَظَنَّهُ أَنَّهُ اِنْ امْتَنَعَ) مِنْ فِعْلِ مَا أَكَرَهَ عَلَيْهِ (حَقَّقَّهُ) أَيْ مَا هَدَّدَ بِهِ

Baca Juga :  Sekali Lagi, Perlukah Khilafah di Indonesia?

Syarat ikrah (paksaan) ialah mampunya orang yang memaksa untuk menyatakan sesuatu yang ia ancamkan, seperti dengan kekuasannya atau memperdaya secara segera dan aniaya. Dan bagi orang yang diancam tidak mampu menolak ancaman orang yang memaksa, baik dengan cara kabur atau selainnya. Sedang ia sendiri menyangka bahwa apabila ia tidak melakukan apa yang diperintahkan si pemaksa maka si pemaksa akan melakukan apa yang ia ancamkan.

Dari keterangan diatas dapat dipahami, setidaknya ada tiga syarat bahwa seorang yang dipaksa boleh melakukan perkara haram, yakni :

  1. si pemaksa (mukrih) mampu untuk melakukan sesuatu yang ia ancamkan secara segera dan aniaya (dholim)
  2. orang yang dipaksa (mukroh) tidak mampu menolak ancaman tersebut
  3. Menyangka bahwa apabila ia menolak tidak melaksanakan perintahnya, maka si pemaksa akan membuktikan ancamannya.

Kemudian, Syekh Zakariya Al-Anshori mencontohkan perilaku pemaksaan dalam lanjutan keterangan diatas :

وَيَحْصُلُ – الْاِكْرَاهُ (بِتَخْوِيْفِ مَحْظُوْرٍ كَضَرْبٍ شَدِيْدٍ وَ حَبْسٍ طَوِيْلٍ وَإِتْلَافِ مَالٍ) وَيَخْتَلِفُ ذَلِكَ بِاخْتِلَافِ طَبَقَاتِ النَّاسِ وَاَحْوَالِهِمْ

pemaksaan itu tercapai dengan cara menakut-nakuti dengan sesuatu yang dilarang, seperti pukulan yang keras, mengasingkan dengan waktu yang lama dan merusak harta. Semua contoh tersebut berbeda sesuai dengan berbedanya tingkatan manusia dan keadaan mereka.

Terakhir, Ulama asal mesir juga memberika catatan akan permasalahan ini. Beliau menjelaskan sebagaimana keterangan yang telah disebutkan diatas bahwasanya ancama itu harus dilaksanakan secara segera, maka paksaan (ikrah) ini tidak bisa terjadi dengan ancama yang dilaksanakan tidak segera, seperti contoh : Sungguh, saya akan memukulmu esok hari.

Wallahu A’lam bi as-Showab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here