Barang Terkena Najis, Apakah Boleh Diperjualbelikan?

2
1298

BincangSyariah.Com – Di antara syarat sah barang yang diperjual-belikan adalah barang tersebut harus suci. Jika barang tersebut najis, maka tidak sah diperjual-belikan. Misalnya, menjual khamar, menjual bangkai, dan lainnya. Namun bagaimana jika barang tersebut hanya terkena najis, apakah boleh menjualbelikan barang terkena najis tersebut? (Apakah Kotoran Cicak Najis? Ini Pendapat Ulama Fikih)

Menurut para ulama, terdapat dua kategori mengenai barang yang terkena najis. Pertama, barang yang terkena najis berupa benda padat. Kedua, barang yang terkena najis berupa benda cair.

Mengenia kategori pertama, yaitu barang yang terkena najis berupa benda padat, para ulama sepakat bahwa barang tersebut boleh dan sah diperjual-belikan. Hal ini karena meski barang tersebut terkena najis, namun barang bisa disucikan. Sehingga meski terkena najis tidak masalah karena tetap bisa digunakan dan dimanfaatkan sesuai fungsi utamanya. Misalnya, menjual baju yang terkena najis, dan lain sebagainya.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu berikut;

إذَا كَانَتْ الْعَيْنُ مُتَنَجِّسَةً بِعَارِضٍ وَهِيَ جَامِدَةٌ كَالثَّوْبِ وَالْبِسَاطِ وَالسِّلَاحِ وَالْجُلُودِ وَالْأَوَانِي وَالْأَرْضِ وَغَيْرِ ذَلِكَ جَازَ بَيْعُهَا بِلَا خِلَافٍ

Jika barang yang terkena berupa najis berupa benda padat, seperti baju, permadani, pedang, perobotan, tanah dan lainnya, maka boleh menjualnya tanpa ada perbedaan di kalangan para ulama.

Adapun kategori kedua, yaitu barang yang terkena najis berupa benda cair, masih ditafsil oleh para ulama.Jika benda cair tersebut masih bisa disucikan, maka boleh diperjual-belikan. Namun jika barang tersebut tidak bisa disucikan, seperti susu yang terkena najis, maka boleh diperjual-belikan.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu berikut;

إذَا كَانَتْ الْعَيْنُ الطَّاهِرَةُ الْمُتَنَجِّسَةُ بِمُلَاقَاةِ النَّجَاسَةِ مَائِعَةً فَيُنْظَرُ إنْ كَانَتْ لَا يُمْكِنُ تَطْهِيرُهَا كَالْخَلِّ وَاللَّبَنِ وَالدِّبْسِ وَالْعَسَلِ وَالْمَرَقِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَمْ يَجُزْ بَيْعُهَا بِلَا خِلَافٍ

Baca Juga :  Saat Anggota Tubuh Terkena Najis, Bolehkah Sentuh Al-Quran

Jika barang yang terkena najis berupa benda cair, maka harus dilihat terlebih dahulu. Jika tidak mungkin untuk disucikan, seperti cuka, susu, madu dan lainnya, maka tidak boleh diperjual-belikan tanpa ada perbedaan ulama.

Dengan demikian, selama barang terkena najis itu masih bisa disucikan, maka para ulama sepakat bahwa barang tersebut bisa diperjual-belikan. Namun jika tidak bisa disucikan, maka tidak bisa diperjual-belikan.

Sebagian ulama Syafiiyah mengatakan bahwa barang terkena najis dan tidak bisa disucikan tidak boleh diperjual-belikan. Ia hanya boleh dipindah tangan dengan cara ganti rugi. Misalnya, gantilah harga barang ini dengan uang 100 agar kamu bisa menggunakan manfaatnya.

2 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Ada seseorang yang berkata: “Aku membutuhkan sebuah uang. Tapi aku tidak menemukan seseorang yang mahu memberiku pinjaman dengan akad qardlan hasanan (pinjaman lunak). Kemudian sebagian temanku memberiku sebuah solusi bahwa dia akan memberiku uang yang aku butuhkan dengan catatan aku menjual mobilku kepadanya agar dapat dimanfaatkan olehnya dengan janji bahwa setelah satu tahun aku mengembalikan kembali harta yang sudah dia berikan kepadaku dan ia akan mengembalikan mobilku.” Apakah akad seperti ini dibolehkan oleh syara’ dan adakah dasarnya? (Baca: Barang Terkena Najis, Apakah Boleh Diperjualbelikan?) […]

  2. […] BincangSyariah.Com – Ada seseorang yang berkata: “Aku membutuhkan sebuah uang. Tapi aku tidak menemukan seseorang yang mahu memberiku pinjaman dengan akad qardlan hasanan (pinjaman lunak). Kemudian sebagian temanku memberiku sebuah solusi bahwa dia akan memberiku uang yang aku butuhkan dengan catatan aku menjual mobilku kepadanya agar dapat dimanfaatkan olehnya dengan janji bahwa setelah satu tahun aku mengembalikan kembali harta yang sudah dia berikan kepadaku dan ia akan mengembalikan mobilku.” Apakah akad seperti ini dibolehkan oleh syara’ dan adakah dasarnya? (Baca: Barang Terkena Najis, Apakah Boleh Diperjualbelikan?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here