Barang Pinjaman Rusak, Apakah Wajib Diganti?

0
1200

BincangSyariah.Com – Saat kita meminjam barang milik orang lain, maka kita hanya boleh menggunakan manfaat dari barang tersebut. Dan kadang pada saat kita menggunakan manfaat dari barang pinjaman tersebut, tiba-tiba ada yang rusak. Apakah kita wajib bertanggung jawab dan mengganti kerusakannya?

Barang pinjaman termasuk barang yang wajib dijaga dengan baik oleh peminjam sehingga sebisa mungkin tidak terjadi kerusakan, baik karena disengaja atau karena sembrono. Jika terjadi kerusakan pada barang pinjaman, maka ada dua pendapat ulama dalam masalah ini.

Pertama, peminjam wajib mengganti barang pinjaman selama barang pinjaman tersebut masih berada di tangannya atau tanggung jawabnya, baik kerusakan tersebut disengaja atau tidak, karena sembrono atau lainnya. Ini adalah pendapat masyhur di kalangan para ulama.

Salah satu dalil yang dijadikan dasar kewajiban mengganti barang pinjaman adalah hadis riwayat Abu Daud dari Umayyah bin Shafwan bin Umayyah, dari bapaknya, dia berkisah;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَعَارَ مِنْهُ أَدْرَاعًا يَوْمَ حُنَيْنٍ فَقَالَ: أَغَصْبٌ يَا مُحَمَّدُ، فَقَالَ: لَا، بَلْ عَمَقٌ مَضْمُونَةٌ

“Rasulullah saw pernah meminjam beberapa baju besi dari Shafwan saat perang Hunain. Lalu Shafwan bertanya, ‘Apakah ini suatu perampasan wahai Muhammad?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, melainkan pinjaman yang akan dijamin.”

Kedua, peminjam wajib mengganti jika barang pinjaman rusak karena disengaja atau karena sembrono. Akan tetapi jika rusak karena tidak disengaja atau bukan karena sembrono, maka peminjam tidak wajib menggantinya. Ini adalah pendapat yang lemah.

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Raudhatut Thalibin berikut;

الباب الثاني في أحكامها وهي ثلاثة . الأول : الضمان . فإذا تلفت العين في يد المستعير ، ضمنها ، سواء تلفت بآفة سماوية أم بفعله ، بتقصير أم بلا تقصير ، هذا هو المشهور . وحكي قول : أنها لا تضمن إلا بالتعدي فيها ، وهو ضعيف .

Baca Juga :  Nasihat Nabi Untuk Orang yang Tertimpa Sakit

“Bab kedua adalah tentang hukum-hukum barang pinjaman. Hukumnya ada tiga, pertama; wajib mengganti. Jika barang pinjaman rusak di tangan peminjam, maka dia wajib menggantinya, baik rusak karena alamiah atau karena perbuatan peminjam sendiri, dengan sembrono atau tidak sembrono. Ini adalah pendapat yang masyhur. Dikatakan satu pendapat lagi bahwa barang pinjaman tidak wajib diganti kecuali rusak karena teledor atau melewati batas pemakaian. Ini adalah pendapat yang lemah.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here