Banyak Puasa, Diantara Cara Nabi Menyambut Bulan Sya’ban

0
1643

BincangSyariah.Com – Bulan Sya’ban yang terdapat dibulan ke delapan dalam hitungan kalender hijriyah memberikan kesan tersendiri pada kehidupan Nabi Muhammad Saw. Sehingga beliau menyambutnya dengan sambutan yang sangat luar biasa yang tidak pernah dilakukan dibulan-bulan lain kecuali bulan Ramadhan. Ini terjadi karena disamping bulan ini menjadi tetangga bulan suci ramadhan pada bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat dan dilaporkan oleh malaikat yang bertugas kepada Allah Swt.

Lebih jauh dari itu, bulan ini termasuk dari bulan yang mulia. Keberkahannya menggelegar ditelinga seluruh umat islam. Kebaikannya terhampar luas layaknya lautan. Pertobatan dan ketaatan didalamnya menjadi bekal dan bisnis yang menjanjikan. Allah menjadikannya sebagai tolak ukur kebaikan waktu yang berlalu bagi umat manusia. Orang-orang yang bertobat didalamnya mendapatkan jaminan keamanan. Barangsiapa yang bersungguh dalam mengerahkan usahanya dalam menabur amal baik didalamnya akan mendapatkan sebaik-baik kemenangan dibulan suci Ramadhan.

Ada banyak riwayat yang berbicara terkait cara Nabi Muhammad Saw menyambut bulan Sya’ban dengan berpuasa sebanyak-banyaknya dengan penuh semangat dan kesungguhan yang belum pernah dilakukan dibulan-bulan lain kecuali bulan suci Ramadhan, sekalipun riwayat- riwayat tersebut ada yang tergolong sebagai hadis dha’if. Tapi kita perlu ketahui bahwa bukankah hadis dhaif tetap diterima menjadi hujjah dalam hal keutamaan-keutamaan sebuah pekerjaan.

Berikut beberapa rangkuman riwayat Hadis yang disampaikan oleh al-Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki dalam bukunya Madza Fi Sya’ban? h. 19-23 yang menegaskan tentang cara nabi Muhammad Saw menyambut bulan Sya’ban dengan cara berpuasa sebanyak mungkin:

  1. Hadis Riwayat Bukhari: Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ“

Baca Juga :  Semangat Islam adalah Menghapus Perbudakan

“Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.”

  1. Hadis riwayat Muslim: Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ “

Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan: Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

  1. Riwayat Abi Daud

كَانَ أَحَبَّ الشُّهُورِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَصُومَهُ شَعْبَانُ ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ

”Bulan yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berpuasa di dalamnya adalah bulan Sya’ban kemudian disambungkan dengan Ramadhan.”

  1. Hadis riwayat Tirmidzi

” سُئِلَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الصَّوْم أَفْضَل بَعْد رَمَضَان قَالَ شَعْبَان لِتَعْظِيمِ رَمَضَان “

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa apa yang paling utama setelah Ramadhan, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ”Puasa Sya’ban dalam rangka mengagungkan (menyambut) Ramadhan.”

  1. Hadis riwayat Nasa’i, Abu Daud dan Khuzaimah

عن أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ، قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Baca Juga :  Kritik Ibn Khaldun terhadap Filsafat (1): Cara Ibn Khaldun Mengkritik Filsafat Yunani

“Dari Usamah bin Zaid, ia berkata: Aku bertanya pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, aku tak melihat engkau berpuasa dalam sebulan sebagaimana engkau lakukan di bulan Sya’ban.” Rasulullah menjawab, “Bulan itu (Sya’ban) adalah bulan yang banyak orang lalai darinya, karena berada di antara bulan Rajab dan Ramadan. Pada bulan Sya’ban, amalan diangkat kepada hadirat Allah, maka aku ingin amalanku diangkat selagi aku sedang berpuasa.”

  1. Hadis riwayat Nasa’i dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصوم شعبان كله ، قالت قلت : يا رسول الله أحب الشهور إليك أن تصومه شعبان ؟ قال : ” إِنَّ اللَّهَ يَكْتُبُ كُلَّ نَفْسٍ مَيِّتَةٍ تِلْكَ السَّنَةَ , فَأُحِبُّ أَنْ يَأْتِيَنِي أَجَلِي وَأَنَا صَائِم “

”Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa Sya’ban seluruhnya.”’Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: ’Aku berkata: ”Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Bulan yang paling engkau sukai untuk berpuasa adalah sya’ban?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ”Sesungguhnya (pada bulan itu) Allah Subhanahu wa Ta’ala menuliskan semua jiwa-jiwa yang mati untuk satu tahun itu, maka aku ingin kalau kematianku datang dan aku dalam keadaan puasa.

  1. Hadis Riwayat al-Dailami

رَجَبٌ شَهْرُ الله، وشَعْبانُ شَهْرِي، وَرَمَضانُ شَهْرُ أُمَّتِي.

“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku.

شعبان شهري ورمضان شهر الله وشعبان المطهر ورمضان المكفر

“Sya’ban adalah bulanku, Ramadhan adalah syahrullah (bulan Allah), Sya’ban adalah al-Muthahhir (pembersih) dan Ramadhan adalah al-Mukaffir(penghapus dosa).”

Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here