Balonku ada Lima dan Naik-Naik ke Puncak Gunung Lagu Kristenisasi ? Hadeeh…

1
586

BincangSyariah.Com – Hadeeh, saya antara geli dan heran juga menulis balonku ada lima dan naik-naik ke puncak gunung yang disebut-sebut sebagai lagu yang mengarah kepada kristenisasi. Pendapat ini disampaikan oleh seorang Ustadz bernama Ustz. Zainal Abidin (ZA) dalam salah satu ceramahnya. Dalam ceramah tersebut, Ustz. Zainal mempertanyakan kenapa dalam lagu Balonku Ada Lima, lirik yang digunakan “meletus balon hijau … dorrr!… hatiku sangat kacau.” Dalam analisa beliau (katanya analisa, begitu), mengapa yang meledak balon hijau dan hatiku sangat kacau, padahal hijau katanya “identik” dengan warna Islam. Oke itu analisa (oh analisa) beliau untuk yang pertama. Untuk lagu yang kedua, Naik-Naik ke Puncak Gunung, juga dikomentari oleh beliau. Beliau mengatakan kalau lagu ciptaan Djuarsih Ning atau populer sekali dengan panggilan Ibu Sud ini juga memuat lirik yang mengarah pada pembenaran terhadap agama Kristen, lewat lirik “kiri kanan, kulihat saja, banyak pohon cemara.” Saya menulisnya sambil tersenyum-senyum, tapi makin tertawa ketika ia merespon dengan mengatakan “kenapa pohon cemara? Padahal pohon cemara tidak banyak di Indonesia. Kalau di sumatera harusnya pohon sawit. Di jawa malah pohon pisang.” Hehe, di bagian terakhir itu paling geli sekali.

Saya tidak habis pikir, kenapa pak Ustadz bisa berpikir sejauh itu. Saya sebagai generasi yang lahir di tahun 90-an, di masa kecil saya pun pernah di taman-taman kanak mendengar dan ikut menyanyikan dua lagu tadi beserta lagu-lagu anak lainnya. Jika pembaca hidup di tahun 90an, tentu lagu-lagu tersebut sering dinyanyikan di berbagai kesempatan yang mana anak-anak menjadi pemeran utamanya, dari ulang tahun, acara taman kanak-kanak seperti lomba, dan masih banyak lagi.

Beberapa pengamat berpendapat salah satu keprihatinan di era sekarang adalah tidak adanya pemisahan antara lagu anak dan lagu dewasa. Semua oran bisa memperdebatkan soal dikotomi lagu anak dan lagu dewasa ini, tapi ada banyak lagu-lagu anak yang lahir di masa lalu itu sebenarnya punya nilai-nilai pendidikan yang baik sekali untuk anak kecil.

Di Youtube, sebuah akun mengunggah rekaman suara dimana Ustz. Zainal Abidin menjelaskan bahwa pandangan beliau itu merujuk kepada apa yang ia disebut “pandangan psikologis” mengapa warna hijau yang diasosiasikan dengan Islam dan hati kacau. “Mengapa Islam yang diasosiasikan dengan kekacauan?” Penjelasan berikutnya, menurutnya yang dia sampaikan bukan hal baru, tapi sudah pernah dibicarakan sejak dahulu. Tapi tidak jelas juga, siapa yang dirujuk.

Bagi yang tidak menyepakati beliau, dan tidak menganggapnya persoalan serius, mungkin hanya tersipu saja mendengar ceramah ini. Tapi, bagaimana dengan mereka yang kemudian menerima mentah-mentah pandangan itu? Pak A.T. Mahmud, sebagai pencipta lagu Balonku ada Lima misalnya, tentu akan terheran-heran – kalau tidak mau dikatakan prihatin. Terkait prasangka ini, ada tuntunan dalam Al-Quran yang tepat, dimana kita diperintahkan untuk bertanya (termasuk mengklarifikasi) dengan baik kepada yang ahli ketika kita tidak tahu hakikat persoalan,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

maka tanyalah ahl ad-dzikr (orang yang berilmu) jika kalian tidak mengetahui. (An-Nahl: 43)

Bahkan dalam ayat yang lain, disebutkan juga kalau sebagian dari sejumlah prasangka itu, ada yang nilainya buruk sekali. Diantaranya tentu yang berburuk sangka, tanpa mengklarifikasi terlebih dahulu. Wallahu al-Musta’an.

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Salah satu penceramah menyebut bahwa lagu balonku ada 5 mengajarkan kebencian pada Islam. Kata dia, kenapa yang meletus warna hijau yang identik dengan Islam? Apa iya warna hijau identik dengan Islam? Bukannya Nabi juga suka warna putih, pernah pakai jubah warna merah? (Baca: Balonku ada Lima dan Naik-Naik ke Puncak Gunung Lagu Kristenisasi ? Hadeeh…) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here