Baju Baru di Hari Raya, Haruskah?

0
136

BincangSyariah.Com – Hari raya Idul Fitri menjadi lengkap dengan dilaksanakannya salat Idul Fitri. Salat sunnah ini disyariatkan dan dilaksanakan oleh Rasulullah saw pertama kali pada tahun kedua hijriyah. Hal ini sebagaimana kesaksian Ibnu Abbas ra dalam sebuah hadis,

شَهِدْتُ صَلَاةَ الْفِطْرِ مَعَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَكُلُّهُمْ يُصَلِّيهَا قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ يَخْطُبُ

“Saya pernah menghadiri salat Idul Fitri bersama Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar dan Utsman, mereka semua salat terlebih dahulu sebelum khutbah.” (HR. Muslim)

Yang menarik dari momentum hari raya Idul Fitri di Indonesia adalah adanya kebiasaan memakai baju baru di hari raya. Rasanya ada yang kurang jika hari raya tanpa baju baru. Terlebih bagi anak-anak. Tampaknya hal ini selaras dengan pendapat Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm, bahwa kita dianjurkan untuk mengenakan pakaian yang paling bagus dalam melaksanakan salat Ied. Bahkan Nabi saw juga memakai burdah hibarah (semacam kain bermotif dari Yaman) setiap hari raya.

Tradisi memakai baju baru di Indonesia ini tidak hanya diartikan sebagai ejawantah dari anjuran Imam Syafi’i di atas. Ada makna lain yang menyertainya, yakni baju baru sebagai simbol rasa syukur dan penghargaan setinggi-tingginya atas segala karunia yang telah Allah berikan kepada manusia. Setelah berpuasa selama sebulan penuh, akhirnya mereka merasakan bagaimana kemenangan sejati dapat dicapai.

Sampai di sini tidak ada masalah dengan tradisi ini. Akan tetapi menjadi tidak tepat manakala tradisi memakai baju baru ini menjadi sebuah keharusan. Mungkin tidak menjadi masalah bagi mereka yang bergelimang harta, tapi tidak demikian bagi mereka yang memiliki ekonomi pas-pasan atau bahkan kurang. Maka tradisi yang seperti ini harus disikapi secara selektif.

Baca Juga :  Anggota Keluarga yang Wajib Dibayarkan Zakat Fitrah

Toh, tujuan daripada puasa itu sendiri bukanlah untuk memperoleh baju baru, melainkan untuk meningkatkan ketakwaan. Karenanya, penting untuk diresapi kembali aforisma orang-orang pesantren yang berbunyi, laisa al-‘id liman labisa al-jadid, walakin al-‘id liman tha’atuhu tazid. Ied (Idul Fitri) bukanlah teruntuk bagi mereka yang berbaju baru, akan tetapi ia (Idul Fitri) teruntuk bagi mereka yang taatnya (kepada Allah) semakin meningkat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here