Bahaya Berandai-andai dalam Islam

0
1324

BincangSyariah.Com – Kadang dalam hidup kita selalu harus mengambil keputusan, entah itu keputusan yang mudah atau rumit. Hidup adalah sebuah pilihan dan semua pilihan itu mengandung risiko yang harus ditanggung oleh masing–masing pihak. Karena itu tak jarang kita melakukan suatu kesalahan yang menimbulkan sebuah penyesalan mendalam. Namun ternyata terlarut dalam penyesalan adalah suatu hal yang tidak baik, karena hanya akan membuat kita jauh dari mimpi-mimpi dan kesuksesan.

Larut dalam penyesalan bisa menghadirkan  kata “seandainya”, sebuah ungkapan yang mewakili perasaan yang tidak rela dan belum bisa menerima kenyataan seutuhnya. Bukankah salah satu rukun Iman dalam Islam adalah percaya kepada takdir? Jika memang mengimani Islam dengan baik, tentu takdir yang baik dan buruk itu bisa diterimanya dengan lapang dada. Bukan lagi menghadirkan kata”seandainya” kemudian melakukan protes kepada Allah. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah bersabda:

اَلْمُؤْمِنُ اَلْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلىَ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٍ، اِحْرِصْ عَلىَ ماَ يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَماَ شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

“Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, namun pada masing-masing (dari keduanya) ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan menjadi lemah. Jika kamu ditimpa sesuatu, jangan berkata seandainya aku berbuat begini, maka akan begini dan begitu, tetapi katakanlah Allah telah menakdirkan, dan kehendak oleh Allah pasti dilakukan. Sebab kata ‘seandainya’ itu dapat membuka perbuatan setan.” (HR. Muslim)

Baca Juga :  Hukum Gosok Gigi Ketika Berpuasa

Salah satu deskripsi seorang hamba yang beriman adalah bisa menerima takdir dengan ikhlas dan senantiasa ridha dengan ketentuan Allah. Untuk bisa ridha terhadap musibah yang menimpa, memang dibutuhkan keyakinan yang kuat terhadap Allah. Yakin bahwa yang Allah tentukan itu tidak lepas dari ilmu Allah dan yang terbaik untuk hambanya. Jika keyakinan kepada Alah sudah kuat, maka tiadalah kata “seandainya”.

Kata “seandainya” disebutkan dalam hadis di atas sebagai sebuah pintu untuk perbuatan setan. Mengapa demikian? Karena seseorang yang mengucapkan kata “seandainya” dalam situasi yang tidak disukainya akan mengundang murka Allah. Allah sudah menggariskan, namun ia masih berharap dengan pengandaian-pengandaian yang lain. Satu sikap yang menunjukkan bahwa ia belum bisa percaya penuh kepada Allah dan mencela takdir-Nya

Sikap seperti itu disebutkan sebagai salah satu sikap yang melekat pada orang-orang kafir, dimana mereka menyela-nyelakan kata “seandainya” ketika ada ajakan berjihad. Dalam QS Ali Imran ayat 165, Allah menyerukan orang yang beriman agar tidak meniru sikap tercela tersebut. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ كَفَرُوا وَقَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ إِذَا ضَرَبُوا فِي الْأَرْضِ أَوْ كَانُوا غُزًّى لَوْ كَانُوا عِنْدَنَا مَا مَاتُوا وَمَا قُتِلُوا لِيَجْعَلَ اللَّهُ ذَٰلِكَ حَسْرَةً فِي قُلُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: “Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh”. Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here