Memperingati Hari Bahasa Arab Dunia, Ini Urgensi Bahasa Arab dalam Memahami Hukum Islam

0
1111

BincangSyariah.Com – Tepat pada 18 Desember 1973 bahasa Arab ditetapkan oleh United  Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai bahasa resmi internasional ke-6. Oleh karena itu, tidaklah salah jika pada hari dan tanggal dimaksud menjadi Hari Bahasa Arab Sedunia. (18 Desember Hari Bahasa Arab Dunia, Inilah Enam Keistimewaan Bahasa Arab Menurut Ulama)

Sementara itu, keberadaan Al-Qur’an dan Hadis menjadi bukti yang tak terbantahkan terkait status dan posisi bahasa Arab dalam hukum Islam. Pasalnya, bahasa Arab merupakan satu-satunya bahasa yang dipilih oleh Allah dan Rasul-Nya untuk menarasikan aturan, ketentuan, anjuran dan kisah-kisah inspiratif dalam keduanya.

Bertolak dari dasar itulah semua ulama ushul fikih sepakat bahwa bahasa Arab menjadi syarat mutlak yang harus dikuasai ahli hukum Islam. Artinya, seseorang belum memenuhi kriteria sebagai mujtahid jika belum mampu memahami bahasa Arab. (Empat Sumber Hukum Islam, bukan Hanya Al-Qur’an dan Hadis)

Alasannya sangat jelas. Sumber dan rujukan primer dalam aktivitas penggalian hukum Islam adalah Al-Qur’an dan Hadis. Jadi tidak mungkin seorang mujtahid bisa dapat memahami kedua sumber di atas apalagi menyingkap rahasia di dalamnya jika ia tidak tahu dan tidak memahami bahasa Arab.

Menurut syaikh Abdullah bin Bayyah, mereka semuanya nyaris tidak memiliki pandangan yang berbeda terkait hal ini. Yaitu, menjadikan pengetahuan terhadap bahasa Arab sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang yang ingin melakukan aktifitas penggalian hukum Islam (ijtihad).

Menurut beliau, perbedaan pandangan antar mereka hanya terletak pada tingkat kepakarannya terhadap bahasa Arab. Ada yang mensyaratkan hanya sebatas tahu dan paham dan ada yang mensyaratkan harus pakar terhadap bahasa Arab.

Baca Juga :  Menyikapi Wabah Secara Proporsional

Beliau mengutip pernyataan Imam Haramain dan al-Ghazali dari kalangan Syafi’iyah yang intinya bahasa Arab menjadi syarat mutlak seorang mujtahid. Sekalipun tidak diharuskan menjadi pakar didalamnya. Ini karena tidak mungkin Al-Qur’an dan Hadis bisa dipahami oleh orang yang tidak tahu serta paham bahasa Arab. (al-Burhan, juz 2, hal. 1330-1331)

Sementara dari kalangan Malikiyah yang diwakili oleh al-Syatibi, lebih ketat daripada syafi’iyah. Menurut syaikh Abdullah Bin Bayyah, al-Syatibi mensyaratkan seorang mujtahid harus pakar terhadap bahasa Arab. Ini didasarkan pada bahwa syariat berbahasa Arab. Ia tidak mungkin bisa dijangkau sesempurna mungkin tanpa pemahaman yang sempurna terhadap bahasa Arab. (al-Muwafaqat, juz 4, hal. 114-118)

Kemudian ulama Hanafiyah, menurut syaikh Abdullah bin Bayyah, tidak secara jelas menyinggung persyaratan ini bagi mujtahid. Bisa dilihat dalam buku usul fikihnya al-Bazdawi. Hanya saja, al-Bukhari yang bertindak sebagai pengkaji buku tersebut menyatakan dengan jelas dalam bukunya bahwa bahasa Arab juga menjadi bagian dari syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mujtahid sekalipun tidak harus menjadi pakar didalamnya. (Kasyfu al-Asrar, hal. 16)

Penjelasan di atas jelas memberikan kesimpulan bahwa pengetahuan dan pemahaman terhadap bahasa Arab tidak hanya sebatas tahu terjemahannya saja. Melainkan juga harus tahu nahwu dan sharaf. Pun juga bisa membedakan kejelasan antara sharih dan zahir, antara hakikat dan majaz, zahir dan mujmal serta mantuq dan mafhum.

Jadi, ukuran pengetahunnya dapat dilihat melalui keterangan di atas. Selebihnya tidak menjadi syarat bagi mayoritas ulama ushul fikih. Aritnya, untuk menjadi mujtahid bagi mereka tidak disyaratkan harus pakar dan ahli layaknya imam al-Khalil dan al-Mubarid. Dimana keduanya sangat dikenal sebagai orang yang sangat pakar terhadap bahas Arab.

Baca Juga :  Hukum Mencium Jenazah yang Baru Meninggal

Sumber: makalah syaikh Abdullah bin Bayyah dengan judul al-Lughah wa al-Ijtihad al-Fiqhi. Dapat diakses di situs: binbayyah.net.

Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here