Bahasa Arab, Tantangan Dasar Memahami Al-Qur’an

0
758

BincangSyariah.Com – Al-Qur’an adalah kitab yang asli dan original merupakan kalamullah (perkataan Allah). Turun ke muka bumi dibawa oleh Malaikat Jibril alaihissalam kepada Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Arab.

Salah satu hikmah Al-Quran turun dalam Bahasa Arab adalah untuk menantang bangsa Arab membuat sastra yang tinggi dan mampu menandingi keindahan sastra Al-Qur’an. Sampai hari ini tantangan itu tidak pernah bisa terjawab.

Namun di balik keistimewaan sastra Arab yang tidak ada tandingannya itu, ternyata juga menyisakan sedikit masalah, yaitu kita yang bukan orang Arab sama sekali tidak paham ketika membaca Al-Quran.

Kita bangsa Indonesia yang jumlahnya 200 jutaan ini, ditambah lagi dengan sejumlah besar umat Islam di negeri lain, ternyata rata-rata tidak menguasai bahasa Arab.

Statistik menunjukkan angka yang teramat ekstrim. Ternyata hanya sekitar 300 jutaan saja bangsa di dunia ini yang menguasai Bahasa Arab. Hanya ada 25 negara saja yang menggunakan Bahasa Arab sebagai Bahasa resmi.

Padahal jumlah umat Islam di dunia ini tidak kurang dari 1,5 milyar. Berarti 1,2 milyar muslim di dunia ketika membaca Al-Quran, tidak paham apa yang dia baca.

Oleh kebanyakan umat Islam, ternyata Al-Qur’an hanya dijadikan sekedar kitab peribadatan. Memang itu salah satu fungsi Al-Qur’an, yaitu bila dibaca huruf-hurufnya bernilai ibadah. Paham atau tidak paham, pokoknya setiap satu huruf dibalas dengan 10 kebajikan.

Oleh karena itulah di masa modern ini muncul ide untuk menerjemahkan Al-Quran ke berbagai Bahasa di dunia. Sesuatu yang sebenarnya juga masih jadi perdebatan para ulama. Sebab menerjemahan Al-Qur’an itu juga tidak sesederhana yang kita bayangkan. Sebab Al-Qur’an bukan novel popular yang mudah dicerna. Al-Quran juga bukan film berbahasa Inggris yang cukup diberi subtitle maka penontonnya langsung pada mengerti.

Baca Juga :  Menurut Nabi Daud, Ini Bentuk Rasa Syukur Tertinggi

Bangsa Arab sendiri pun tidak otomatis jadi ahli Al-Qur’an, walaupun Al-Qur’an itu berbahasa Arab. Sebabnya karena Al-Qur’an bukan lah buku popular yang asalkan pembacanya mengerti Bahasa Arab, lantas dia paham. Tidak sesederhana itu.

Kalau saya boleh bikin perbandingan, kira-kira mirip dengan buku tentang pemrograman computer berbahasa Inggris. Tidak mentang-mentang Anda punya nilai TOEFL 500, lantas begitu baca buku itu tiba-tiba anda paham algoritma, pintar coding dan jago bikin aplikasi computer.

Mengerti Bahasa Inggris itu satu hal, sedangkan menguasai ilmu pemrograman komputer, algoritma dan coding adalah hal yang lain lagi.

Maka kalau ada seruan untuk kembali kepada Al-Quran, saya malah balik bertanya: “bagaimana cara kembalinya, lha wong ente kagak paham apa yang ente baca ? Jangan bilang pakai terjemahan, karena terjemah itu tidak pernah mampu menjelaskan apa maunya Allah SWT di balik tiap kata dan ayat. Terjemah hanya mampu memberi makna secara umum, namun tidak boleh dijadikan pegangan utama terkait konten hukum dalam Al-Quran.”

Slogan mungkin terlihat keren, kembali kepada Al-Quran. Tapi, kalau ujung-ujungnya masih mengandalkan terjemahan, apalagi main tafsir-tafsir sendiri, menggunakan ilmu gothuk-gathuk, maka namanya bukan kembali kepada Al-Quran, tetapi kembali kepada ketidakjelasan.

Ayat-ayat Al-Quran hanya digunakan sebagai bamper dan tameng. Ngakunya ini Al-Qur’an, padahal sebenarnya ngarang-ngarang aja.

Lalu dengan cara apa kita dapat memahami Al-Quran?

Lewat ilmu-ilmu yang secara khusus didesain untuk memahaminya. Jumlahnya cukup banyak, As-Suyuthi (w. 911 H) di abad ke-10 hijiryah telah menuliskan 80-an cabang ilmu itu dalam kitabnya Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an.

Sebagian kecil dari ilmu-ilmu itu diajarkan di jenjang perkuliahan, baik untuk S1, S2 atau S3. Nama program studinya, Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here