Bahagiakah Anda? Menjawab Pertanyaan Itu Bersama Para Filosof Muslim

2
743

BincangSyariah.Com – Bahagiakah Anda? Sebuah pertanyaan yang seringkali sangat beragam jawabannya, ketika harus mengisi soal saya bahagia karena …, dimana titik-titik tersebut memperlihatkan betapa kebahagiaan seseorang itu sangat subjektif tergantung dari hal apa yang membuat seseorang bahagia.

Kesehatan, kekayaan, jabatan, kekuasaan, kesenangan, merupakan jawaban tentatif dan partikularistik dari titik-titik yang mungkin dapat dijawab oleh setiap orang. Terkadang kebahagiaan malah sulit diartikulasikan karena menjadi wilayah spiritual yang tidak mungkin diwujudkan dengan sekadar kata-kata.

Al-Farabi menulis sebuah kitab yang bernama Tahshilu as-Sa’adah (the attainment of happiness). Di dalamnya ia menyatakan bahwa kebahagiaan itu bersifat impersonal, karena kebahagiaan merupakan keseluruhan unit sosial dalam suatu negara-bangsa yang tercipta melalui para pemimpinnya yang adil dan menciptakan kebahagiaan kepada masyarakat. Namun kebahagiaan ini masih bersifat “earthly”, hanya temporal. Sebab kebahagiaan tertinggi (supreme of happiness) atau “sa’adah al-quswa” adalah realitas abadi yang dicapai semua manusia. Mereka merasakan kebahagiaan atas kebaikan yang mereka lalukan selama di dunia ketika sampai di penghidupan lainnya (afterlife).

Penerusnya, Ibn Miskawaih juga memandang kebahagiaan itu berasal dari nilai-nilai kebaikan manusia selama di dunia. Sehingga etika bukan sekadar apa yang dapat dinilai akal itu baik dan bermanfaat, namun bagaimana mengekang keinginan dan hasrat yang mendorong manusia justru melampaui jauh batasan-batasan nilai kemanusiaan dalam memburu kebahagiaan.

Dalam karyanya, Tahdzib al-Akhlaq memberi kesan bahwa kebahahagiaan dapat diraih setelah “seluruh pembuluh darah” (tahdzib) yang berpotensi membangkitkan nafsu duniawi ditutup dan dibekukan. Maka, akhlak sebagai bagian etika Muslim mengalir sebagai tindakan-tindakan yang membawa kepada kebahagiaan hakiki, bukan kebahagiaan semu yang bersifat materi.

Bukan suatu kebetulan, Abu Hamid Al-Ghazali satu abad kemudian menulis karya al-Kimiya’u as-Sa’adah (the alchemy of happiness). Dalam karyanya, tampak ia berupaya mensintesakan filsafat dan tasawuf, syariah dan akal, agama dan tradisi, bahkan aspek duniawi dan ukhrawi sekaligus. Kebahagiaan berasal dari “pengetahuan diri” karena metode ini akan mengantarkan seseorang mengenal Tuhannya serta tahu dan paham perintah dan hukum-hukum-Nya. Nilai-nilai spiritual jelas lebih utama sebagai sarana memperoleh kebahagiaan.

Baca Juga :  Ini Tata Cara Meludah di Masjid yang Diperbolehkan

Baginya, manusia dengan panca inderanya memiliki kemampuan melihat dunianya, tetapi hati atau ruh adalah entitas terpenting yang senantiasa melihat kedalam dan selamanya tidak pernah melihat keluar. Ketika seluruh indera melihat keluar, hampir tak ada filter, kecuali hati yang selalu tunduk dan patuh akan nilai-nilai ilahiyah yang selalu abadi dalam diri manusia. Jasad bisa rusak, hancur, dan mati, tetapi ruh dan jiwa tidak, maka kebahagiaan spiritual bersifat kontinuitas tak pernah dibatasi ruang dan waktu.

Bahagia Itu, Sederhana?

Betulkah bahagia itu, sederhana? Menurut saya, jawabannya tidak. Sebab anda yang melihat kebahagiaan, sekadar dapat dirasakan pada saat itu, sebentar, dan setelah itu hilang. Kebahagiaan bukan disini, tapi disana. Bukan juga sekadar perayaan dengan pesta atau mempertontonkan kepada khalayak, sebab itu lebih berkesan hedonistik. Islam menjelaskan, betapa istilah kebahagiaan mengandung makna konotasinya sendiri: sa’adah, surur, faraha, ridlo, sakinah, qurrotu ‘ain, adalah diantara istilah kebahagiaan yang menunjukkan betapa di setiap katanya menyiratkan suatu kebaikan (khair) dan mengekspresikan kegembiraan (surur) yang tidak saja “kedalam” tetapi juga “keluar” sehingga bahagia itu merasakan lezatnya iman, dimana setiap nafas kita adalah “sa’adah” yang membawa kegembiraan untuk diri kita dan lingkungan sekitar kita, sudahkah anda bahagia?

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here