Bagilah Waktu Anak-anakmu Menjadi Empat Bagian

0
975

BincangSyariah.Com – K.H. Saifuddin Zuhri di dalam bukunya Guruku Orang-Orang dari Pesantren mengatakan bahwa tugas bagi seorang wali murid ialah mengatur keseimbangan waktu bagi anak-anaknya.

Pada garis besarnya, waktu itu dibagi menjadi empat macam. Pertama, waktu bermain-main; Kedua, waktu membantu pekerjaan orang tua; Ketiga, waktu untuk belajar; Dan keempat, waktu istirahat (tidur).

Bermain-main

Bermain-main secara seenaknya atau rileks adalah penting bagi dunia anak-anak dalam pertumbuhan rohani, jasmani, dan pikiran. Tidak baik jika anak-anak terus menerus berada dalam suasana terikat oleh ketegangan belajar dan di hadapan orang tua. Mereka memerlukan pelemas saraf. Itulah bermain-main.

Di sana mereka menjalani fitrah atau naluri manusiawi hidup secara berkawan karena manusia memanglah makhluk berkawan. Anak-anak diberi kebebasan waktu untuk bermain-main, tetapi terbatas waktunya serta diawasi bentuk permainannya agar tidak menjurus kepada perbuatan yang tak senonoh.

Membantu Pekerjaan Orang Tua

Selain bermain, anak-anak penting sekali dibiasakan bekerja membantu orang tuanya di rumah. Membantu pekerjaan orang tuanya di sawah jika ia seorang petani, membantu pekerjaan di toko jika ia bertoko, membantu pekerjaan bengkel jika orang tuanya mempunyai perusahaan bengkel atau pekerjaan apa saja dari usaha orang tuanya di rumah.

Tentu harus diingat bahwa tujuannya sekadar mendidik anak-anak agar mencintai pekerjaan, bukan memperlakukannya sebagai pekerja atau buruhnya. Maka, haruslah diingat pula waktu buat belajar, waktu bermain-main dan waktu istirahat (tidur).

Dengan membantu pekerjaan orang tua, dimasukkan juga sikap mental bahwa usaha paling mulia adalah hasil atau buah tangannya sendiri. Kelak anak-anak akan mempunyai pandangan bahwa bekerja adalah perbuatan mulia. Sebaliknya menganggur bukan saja tidak baik, tetapi merupakan benalu atau parasit dalam masyarakat.

Baca Juga :  Darah Ikan itu Suci atau Najis? Ini Penjelasannya

Kelak mereka akan mempunyai pendirian bahwa semua pekerjaan (asal halal) adalah perbuatan utama dan akan menghargai setiap bekerja. Pekerjaan mencangkul di sawah walaupun bergelimang dengan lumpur, atau tukang di bengkel sekalipun bajunya berlumuran minyak, adalah pekerjaan mulia. Sebaliknya, pekerjaan menipu atau korupsi, sekalipun dikerjakan di meja tulis yang mengkilap, adalah hina.

Waktu untuk Belajar

Waktu dan tempat belajar, resminya memang di sekolah atau madrasah. Tetapi, pelajaran di madrasah atau sekolah akan mudah terlupa jika tidak diungkap kembali di rumah. Tidak cukup sekali, dua kali, tetapi berulang-ulang. Ilmu ibarat permata, semakin digosok akan semakin bercahaya. Ilmu berbeda jauh dengan harta. Ilmu akan menjadi bertambah-tambah bila dipergunakan, tetapi tidak demikian halnya dengan harta akan menjadi kurang, dan bahkan habis bila dipergunakan atau dibelanjakan.

Ada seorang anak yang merasa telah pandai di madrasahnya hingga ia merasa tidak perlu belajar di rumah. Ini harus dicegah, karena bisa menimbulkan sifat gemar meremehkan sesuatu dan akhirnya menjadi orang yang takabur. Jikalau anak yang merasa pandai sekalipun, masih harus belajar di rumah, apalagi untuk anak yang tidak begitu maju di madrasahnya.

Waktu Istirahat (Tidur)

Istirahat merupakan suatu perkara yang bisa dilakukan semua orang. Begitu pula soal tidur. Tetapi, tidak hanya demikian. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan berhubungan dengan istirahat dan tidur.

Anak-anak haruslah memiliki waktu istirahat sebentar di siang harinya setelah belajar di sekolah. Dan saat malam hari pun harus dikontrol waktu tidurnya. Jangan sampai anak-anak terlena dengan waktu bermain-main, belajar terus menerus atau terlampaui waktu membantu pekerjaan orang tua. Anak-anak masih membutuhkan istirahat yang cukup agar tubuhnya segar kembali untuk menerima pelajaran dan beraktivitas di pagi hari.

Baca Juga :  Hari Jumat: Hari Raya yang Lebih Agung dari Idul Fitri dan Idul Adha

Demikianlah pesan K.H. Saifuddin Zuhri ketika menjadi seorang ustaz di salah satu madrasah di kampungnya untuk para wali murid di sana. Namun, pesan ini juga sangat penting untuk semua orang yang telah memiliki anak atau anak didik agar memperhatikan pembagian empat waktu tersebut bagi anak-anak, sehingga waktu anak-anak lebih proporsional dan disiplin, tidak timpang atau terbuang sia-sia. Wa Allahu A’lam bis Shawab.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here