Bagi Penguasa, Lebih Utama Keberanian atau Keadilan?

0
20

BincangSyariah.Com – Tabiat manusiawi seseorang pasti memiliki ambisi untuk berkuasa. Namun, menjadi seorang penguasa adalah tugas yang amat sangat berat. Ia mempunyai tanggung jawab besar atas apa yang menjadi wilayah kekuasaannya. Dari situlah, ia kemudian harus memiliki sifat adil dan juga berani dalam mengambil sikap agar segala kebijakannya bisa membuahkan kemaslahatan untuk semua hal yang berada di bawah kekuasaannya.

Namun, bagi penguasa, manakah yang harus didahulukan antara keberanian atau keadilan? Untuk menjawab ini, saya akan menghadirkan pandangan Aristoteles yang dikutip oleh al-Ghazali dalam kitab at-Tibr al-Masbuk Fi Nasihah al-Muluk. Kitab ini adalah salah satu karya al-Ghazali yang ditulis dalam bahasa Persia yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh salah seorang muridnya. Ia menulis kitabnya ini ditujukan kepada penguasa Dinasti Seljuk di zaman al-Ghazali, yaitu Muhammad bin Maliksyah as-Seljuki. Dinasti Seljuk adalah Dinasti Islam yang menguasai Asia Tengah dan Timur Tengah dari abad 11 hingga abad 14.

Al-Ghazali dalam kitabnya itu, halaman 61, menulis:

سأل الاسكندر أرسطاطاليس: أيما أفضل للملوك الشجاعة أم العدل؟ فقال أرسطاطاليس: اذا عدل السلطان لم يحتج الى شجاعة.

“Alexander pernah bertanya kepada Aristoteles: manakah yang lebih utama bagi penguasa, keberanian atau keadilan? Aristoteles menjawab: apabila penguasa bisa bersikap adil, maka ia tidak lagi membutuhkan keberanian”.

Jawaban Aristoteles di atas pada hakikatnya dapat dipahami oleh penguasa agar ia bisa berlaku adil dalam bersikap. Hal ini bukan berarti para penguasa tidak boleh mempunyai sifat berani, sebab sifat berani penting juga dimiliki oleh para penguasa. Ia harus berani mengambil sikap atas segala kebijakannya dan harus berani pula mengambil resiko dari setiap kebijakan yang dipilihnya. Meskipun demikian, para penguasa haruslah menanamkan sikap adil pada dirinya terlebih dahulu. Karena kata Aristoteles, ketika ia sudah memiliki sifat adil, maka sejatinya ia sudah memiliki sifat berani.

Lalu apa makna adil yang dimaksud di sini? Al-Ghazali masih dalam kitab yang sama, halaman 20, menulis:

سأل عمر بن عبد العزيز محمد بن كعب القرظي فقال: صف لي العدل! فقال: كل مسلم أكبر منك سنا فكن له ولدا, ومن كان أصغر منك فكن له أبا, ومن كان مثلك فكن له أخا, وعاقب كل مجرم على قدر جرمه وإياك أن تضرب مسلما سوطا واحدا على حقد منك فإن ذلك يصيرك إلى النار.

“Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz bertanya kepada Muhammad bin Ka’ab Al-Qurdhi: jelaskanlah kepadaku apa itu keadilan! Al-Qurdhi menjawab: setiap kali engkau berinteraksi dengan orang yang lebih tua darimu, berperilakulah seraya engkau sebagai anak, di setiap kali engkau berinteraksi dengan orang yang lebih muda darimu, berperilakulah seraya engkau sebagai ayah, dan di setiap kali engkau berinterkasi dengan orang yang sebaya denganmu maka berperilakulah engkau seraya sebagai saudara. Hukumlah setiap pelaku kejahatan sesuai kadar kejahatannya. Waspadalah! Jangan sekali-kali engkau mencambuk seseorang berdasarkan kedendaman, karena itu akan menjadi penyebab masuknya engkau ke dalam api neraka”.

Dari sini, penguasa harus bisa menyesuaikan diri dengan setiap rakyat yang dipimpinnya. Ia harus menjalin ikatan keharmonisan dengan rakyatnya sehingga tidak ada jarak antara penguasa dengan rakyat.

Wallahu a’lam.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here