Bagaimanakah Ciri-Ciri Ulama Akhirat ?

0
52

BincangSyariah.Com – Selama ini, barangkali kita sering menyangka bahwa seorang yang alim atau pandai dalam ilmu agama disebut sebagai ‘ulamaa’. Dan, diyakini kalau para ulama adalah orang yang pasti paling dekat dengan Allah sehingga akan sangat mudah memasuki surga-Nya. Padahal, ada kalanya ulama itu justru yang kelak akan diazab paling parah oleh Allah sendiri.

Ini seperti disabdakan Rasulullah Saw. sendiri dalam sebuah hadis,

أَشَدُّ النَّاس عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَأ يَنْفَعُهُ اللهُ بِعِلْمِهِ

“paling sangatnya adzab pada hari kiamat adalah orang yang alim akan tetapi Allah tidak membuat manfaat pada ilmunya.”

مَنْ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى لَمْ يَزْدَدْ  مِنَ اللهِ اِلَّا بُعْدًا

“barangsiapa bertambah ilmunya dan tidak bertambah dekat (petunjuknya) kepada Allah, maka ia tidak bertambah dekat pada Allah kecuali semakin jauh.”

Imam al-Ghazali menyebut ulama yang tidak mengamalkan ilmu seperti ini dengan ‘ulamaa’ as-suu’ (ulama yang buruk). Kebalikan dari yang disebut sebagai ulama yang buruk itu adalah ulama akhirat. Yang disebut sebagai ulama akhirat adalah yang menjadikan akhirat sebagai tujuan hidupn17ya.

Lalu, siapa yang dapat dikategorikan memiliki ciri-ciri ulama akhirat ?

Dalam kitab Mukhtashor Ihya’ ‘Ulumuddin, Imam al-Ghazali menjabarkan kategori ulama akhirat adalah sebagai berikut,

وَعُلَمَاءُ الْأخِرَةِ هُمُ الَّذِيْنَ لَا يَأْكُلُوْنَ الدُّنْيَا بِالدَّيْنِ وَلَايَبِيْعُوْنَ الْأَخْرَةَ بِالدُّنْيَا لِمَا عَلِمُوا مِنْ عِزِّالْاَخِرَةِ وَذِلِّ الدُّنْيَا

Ulama akhirat adalah mereka yang tidak memakan (mengambil) kesenangan dunia dengan agama, tidak menjual akhirat dengan dunia. Hal ini dikarenakan mereka telah mengetahui mulianya akhirat dan rendahnya dunia.

Dari redaksi tersebut jelas, bahwasanya ulama akhirat yang patut menjadi panutan dan teladan kita adalah orang alim/ulama yang tidak mengambil kesenangan dunia dengan agama. Mereka tidak menjual agama untuk kepentingan dunia yang sangat sebentar, semu dan menipu ini. Mereka lebih mementingkan dengan kehidupan akhirat daripada kehidupan ini. Hal ini dikarenakan mereka tahu akan mulianya akhirat dan hinanya dunia. Akhirat itu mulia, tidak semua orang akan diberi akhirat oleh Allah. Hanya orang yang bersungguh-sungguh, tekun, ikhlas akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat.

Sedangkan dunia, semuanya diberikan. Saking murahnya dunia, semua makhluk itu memiliki dunia. Dari rakyat jelata, kelas menengah, orang beriman, orang jahat, orang kafir, orang kaya, hewan-hewan dan tetumbuhan semuanya pasti mendapatkan dunia. Berbeda dengan akhirat yang tidak semua makhluk akan mendapatkan kesenangan akhirat.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here