Bagaimana Sufi Memaknai Umur Kehidupan?

0
148

BincangSyariah.Com – Bagaimana para sufi memaknai umur kehidupan ? Pertanyaan ini terinspirasi oleh perumpamaan-perumpaan yang dibuat oleh Ibn ‘Athaillah As-Sakandari dalam Tāj al-‘Arūs al-Ḥāwī li Tahdzīb an-Nufūs. Beliau dalam kitabnya ini membuat sejumlah perumpamaan tentang tema-tema yang memperbaiki jiwa.

Ibn ‘Athaillah membahas umur kehidupan, dimulai dengan mengumpamakan bagaimana orang yang umurnya dihabiskan untuk hal-hal yang sia-sia lalu kemudian berubah total menjelang akhir hayatnya. Orang yang berubah di akhir hayatnya, beliau ibaratkan seperti seorang perempuan yang memiliki anak sebanyak 10 orang, lalu 9 orang diantaranya wafat ketika masih kecil.

Tentunya, perempuan yang anaknya hanya tinggal seorang ini tidak akan membiarkan sang anak melakukan sesuatu yang membahayakannya. Begitu juga dengan manusia yang sudah memperbaiki dirinya. Ia baru dikatakan berjalan umurnya (hidup) ketika sudah mulai mengenal Allah, bukan dihitung disaat kelahiran,

والله ما عمرك من أول يومٍ ولدت، بل عمرك من أول يومٍ عرفت الله

Demi Allah, umurmu bukan dimulai sejak engkau lahir, namun umurmu dimulai di hari ketika engkau mengenal Allah.

Karena yang disebut dengan umur kehidupan ini sedikit, maka ketika manusia sedang melakukan kesalahan kembali di umurnya, maka kita seyogyanya menjadi apa yang disebut oleh Ibn ‘Athaillah sebagai Ahl As-Sa’adah, orang yang berbahagia, bukan Ahl as-Syaqaawah, orang yang nestapa.

Keduanya sangat berbeda ketika melihat kesalahan yang dilakukan manusia di kehidupannya. Ketika seseorang melakukan kesalahan, orang yang berbahagia akan meresponnya dengan mengingkarinya memang secara zahir, menyatakan ketidaksetujuanya, tapi dalam hatinya ia mendoakan agar orang yang itu diberikan kesadaran untuk kembali.

Sementara kategori yang nestapa, ia akan mengingkari namun tujuannya adalah ingin agar kesalahan orang tersebut tersebar kemana-mana, malah mungkin hingga kehormatannya jauh.

Baca Juga :  Kenapa Santri Harus Menulis? Ini Alasannya

Ibn ‘Athaillah menambahkan, orang yang berbahagia akan menasihati orang yang sedang dalam kesalahan, ketika kondisi tidak terlihat orang lain, dan ia berusaha menutupinya ketika di khalayak ramai. Sementara orang yang nestapa, ketika melihat orang yang berbuat kekeliruan, ia justru menutup pintu-pintu pertemuannya dengan orang tersebut agar berubah. Ia malah menjelek-jelekkannya. Ahl as-Syaqawah adalah orang-orang yang nuraninya sudah runtuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here