Bagaimana Memahami Konteks Hukuman Bagi Para Penista Nabi?

1
54

BincangSyariah.Com – Penulis akan memulainya dengan dua cerita yang bersumber dari riwayat hadis. Kisah pertama tentang seorang pembesar Bani Umayyah yang bernama al-Hakam bin Abi al-Ash, yang juga salah satu pimpinan Quraisy tertinggi, meniru gaya berjalan Nabi Muhammad SAW dari belakang. Saat aksinya ini ketahuan oleh Nabi Muhammad SAW, Nabi langsung mendoakan agar cara berjalannya yang mengejek. merendahkan pribadi dan penghina nabi terus-menerus ia lakukan sampai mati.

Akhirnya al-Hakam bin Abi al-Ash yang merupakan ayah seorang Tabi’in besar sekaligus Khalifah keempat dari Bani Umayyah, Marwan bin al-Hakam, menerima akibat dari doa Nabi Muhammad SAW untuknya.

Konon dalam berbagai riwayat, ayah Marwan bin al-Hakam ini dijuluki juga sebagai La’in dan Tarid Rasul, artinya orang yang dilaknat dan diusir oleh Nabi Muhammad SAW. Konon al-Hakam bin al-Ash ini pernah diusir karena perlakuannya yang tidak hormat kepada Nabi dari Madinah ke daerah Thaif.

Kisah berikutnya diriwayatkan al-Imam Muslim dalam al-Jami’ as-Sahih-nya dan beberapa kitab hadis lainnya, ada seorang budak yang sedang hamil. Kerjaan si budak ini selalu mencaci maki Nabi Muhammad SAW. Akhirnya karena merasa kesal dengan kelakuan si budak perempuan ini, seorang sahabat Nabi yang buta, yang merupakan suaminya, membunuh istrinya yang bekas budak tersebut. Ketika peristiwa pembunuhan ini dilaporkan kepada Nabi, sang pembunuh tidak dihukum qishash. Dalam hadis tersebut, darahnya hadar atau sia-sia dan pembunuhnya tidak dijatuhi hukuman qishash.

Masih dalam sumber yang sama juga disebutkan bahwa ada seorang yahudi wanita yang tabiat buruknya membuatnya untuk terus-menerus menghina Nabi Muhammad SAW. Akhirnya ada seorang sahabat Nabi yang membunuhnya karena geram terhadap wanita Yahudi tersebut.

Berdasarkan kepada dua riwayat terakhir, para ulama sepenuhnya sepakat dibenarkannya hukuman mati bagi seorang muslim yang menghina dan mengejek Nabi Muhammad SAW. Bahkan ejekan dan hinaan terhadap Nabi ini telah membuatnya murtad dari Islam dan karenanya harus dibunuh. Demikian seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Taymiyyah dalam as-Saif al-Maslul dan al-Qadhi Iyadh dalam as-Saif as-Sharim.

Sementara itu, di kalangan ulama masih terjadi perbedaan pendapat jika yang melakukan penghinaan dan penistaan terhadap Nabi berasal dari kalangan non-muslim. Sebagian berpandangan tidak perlu dibunuh namun harus didakwahi agar hatinya tersentuh ajaran Islam. Sebagian ulama lainnya memandang hukumannya sama antara muslim dan non-muslim, yaitu dijatuhi hukuman mati.

Baca Juga :  Dari Perang Uhud, Kita Belajar Menyikapi Kekalahan

Hukuman yang diberikan kepada al-Hakam bin Abi al-Ash dan dua perempuan dalam cerita yang telah disebut di atas menunjukkan adanya keragaman “hukuman” yang dijatuhkan kepada yang melakukan penghinaan atau tindakan apapun yang bernilai menjatuhkan martabat Nabi. al-Hakam bin Abi al-Ash karena hanya meniru cara berjalannya Nabi dengan gaya mengejek cukup dihukum dengan pengusiran dari Mekkah ke at-Thaif. Sementara dua wanita terlibat dalam pelanggaran yang lebih berat, tidak hanya mengejek tapi juga berulang-ulang menghina Nabi sehingga menjadi keseharian.

Kasus diusirnya al-Hakam bin Abi al-Ash dan tidak dibunuh seperti dua wanita tadi menjadi diperhatikan dicermati lebih dalam. Sangat besar kemungkinan konteksnya adalah karena al-Hakam berasal dari Bani Umayyah, sebuah suku yang memiliki kedudukan tinggi di mata suku-suku Quraish lainnya. Di masa itu, membunuh orang yang berasal dari suku yang memiliki kedudukan tinggi, apalagi pembesarnya, sama dengan memantik perang antar suku. Artinya, implikasinya adalah yang berarti mempertajam pertikaian Bani Umayyah dan Bani Hasyim, perang saudara yang sebenarnya sudah terjadi sejak zaman Jahiliyyah. Maka, maka dalam pertimbangan Nabi saat itu, al-Hakam cukup diusir saja dari Mekkah ke Thaif dan ditambah dengan cap laknat dari Nabi.

Sementara status dua wanita yang berakhir dengan dihabisi nyawanya, statusnya adalah budak. Jamak diketahui di masa itu, budak, apalagi perempuan di masyarakat yang masih dekat dengan era Jahiliyyah tidak ada harganya sama sekali. Mereka dengan sangat mudah dibunuh tanpa ada permintaan pertanggungjawaban. Dan mungkin juga hal demikian juga berlaku bagi wanita Yahudi, meski ini perlu diteliti lebih lanjut.

Sekilas semua narasi kisah ini mengesankan akan kekejian sanksi yang dijatuhkan Nabi kepada para penistanya. Kita lihat juga secara kronologi waktu, semua sanksi tersebut terjadi ketika posisi Nabi sudah kuat, yakni ketika Nabi menjadi kepala negara di Madinah. Sementara itu, ketika posisi beliau masih lemah di Mekah, hinaan dan cercaan apapun tidak ditanggapi Nabi dengan serius. Ini dapat kita lihat dalam catatan sejarah ketika Nabi berdakwah di Mekkah dan Thaif. Sebagian penduduk dua kota ini mencaci, mencerca dan disertai dengan melempari batu terhadap Nabi.

Namun sikap Nabi Saw. tidak lagi sama ketika berada di Madinah. Nabi tidak menampilkan satu sikap bagi para penistanya, baik dari kalangan umatnya sendiri maupun di luar kalangan umatnya: pertama, membiarkannya dan kedua, membenarkan sanksi bunuh.

Baca Juga :  Riwayat-Riwayat Tentang Makanan di Masa Rasulullah

Bagaimana kita memahami semua peristiwa yang terekam dalam kitab-kitab hadis otoritatif ini? Haruskah penghina Nabi dibunuh? Tentu jika kita melihat sekilas dan tidak mau menelaah lebih dalam, apalagi cara memahami agama di masa para ulama ini lebih banyak didominasi oleh pendekatan kebahasaan dan banyak mengabaikan aspek historisitas, kita akan berkesimpulan bahwa pembunuh Nabi wajib dibunuh. Kesimpulan ini sebenarnya terlalu tergesa-gesa. Sayangnya, cukup banyak ulama di masa klasik yang berpandangan seperti itu

Hadis-hadis yang menceritakan pembunuhan terhadap penista Nabi ini hadir dalam berbagai literatur dalam bentuk percikan-percikan peristiwa yang tidak utuh. Ini artinya, jika sanksi bunuh langsung diberikan kepada penistanya terlihat bahwa kesimpulan ini terlalu terburu-buru.

Karena itu, satu-satunya cara untuk melihat secara lengkap peristiwa ini ialah dengan melihat semangat zaman di masa Nabi. Zaman di masa Nabi dan beberapa abad setelahnya adalah zaman perang, zaman ketiadaan stabilitas politik. Karena itu, hukum apapun yang diproduk di masa ini harus dipahami dalam kerangka instabilitas politik termasuk hukuman mati yang dijatuhkan kepada para penista Nabi.

Ini juga penting sebagai perspektif kita dalam memahami kasus pembunuhan guru sejarah di Prancis yang ramai sampai saat ini yang sejak kemarin dibingkai sebagai sesuatu yang dibenarkan agama karena Samuel Paty, guru yang bernasib nahas itu “melecehkan” Nabi dengan membahas karikatur Charlie Hebdo di kelas. Padahal, seperti digambarkan Mahmoud Syaltout, pakar politik internasional khususnya Prancis, Charlie Hebdo hanyalah majalah yang terus mencari sensasi, tidak pernah mendapatkan tanggapan dari masyarakat Prancis sendiri karena tidak pernah memberikan berita yang benar, dan merendahkan semua agama yang ada di dunia.

Kembali ke persoalan menghina Nabi yang disebutkan menjerumuskan seorang muslim menjadi murtad. Hukum murtad di masa itu, menurut ar-Raysuni, ulama dari Maroko dalam al-Kulliyat al-Asasiyyah, harus mempertimbangkan dua hal: pertama, jika sekedar keluar dari Islam dan pindah ke agama lain, hukumnya tidak dibunuh; kedua, jika masuk Islam hanya menjadi mata-mata atau musuh dalam selimut, lalu keluar dari Islam dan melaporkan rahasia negara ke pihak musuh, orang yang bersangkutan wajib dibunuh.

Aspek yang terakhir ini dilakukan sebenarnya bukan karena pertimbangan agama tapi lebih karena pertimbangan politik di masa itu. Fenomena keluar masuk Islam adalah fenomena biasa di masa Nabi. Namun yang tidak biasa ialah soal bagaimana mengidentifikasi politik di balik baju keimanan. Suatu kelompok Yahudi yang berada di bawah kendali Ka’ab bin al-Asyraf memiliki banyak mata-mata yang disebar di kalangan umat Islam dengan pura-pura masuk Islam. Beberapa pengikutnya ada yang ketahuan berpura-pura lalu keluar Islam. Nabi saat itu memerintahkannya untuk dibunuh. Kebijakan ini wajar karena jika dibiarkan, negara Madinah secara politik akan mengalami kerugian besar.

Baca Juga :  Ini Logika Ulama Fikih yang Membolehkan Shalat Jumat 2 Gelombang

Jika kita balik lagi ke persoalan diskursus hukuman mati bagi penista Nabi ini, tentu harus dilihat aspek politiknya. Selama ini hadis-hadis yang dihadirkan tidak memotret secara utuh peristiwa pembunuhan terhadap penista Nabi tersebut. Dalam memahami hadis-hadis tersebut kita tidak cukup dengan melihat apa yang terkatakan namun juga harus mampu mengungkap yang tak terkatakan secara jelas. Aspek yang terkatakan ialah ada orang yang menghina dan mencaci Nabi lalu dihukum bunuh. Sedangkan yang tak terkatakan ialah soal keberpihakan politik sang penista, pro-negara Madinah dengan simbolnya Nabi Muhammad SAW atau pro-musuh dengan simbolnya Ka’ab bin al-Asyraf dan kawan-kawan.

Dalam kondisi perang, tentu sikap politik yang rasional ialah berhati-hati. Jadi dua wanita penghina Nabi bisa jadi adalah yang pro-musuh. Ini jelas berbahaya bagi negara. Hal ini berbeda dengan al-Hakam bin Abi al-Ash. Nabi tidak membunuhnya namun hanya sekedar mengusirnya dari Madinah ke Thaif.

Ini artinya al-Hakam bin Abi al-Ash melakukan penistaan murni terhadap Nabi tanpa disertai embel-embel politik, yakni penghianatan terhadap negara Madinah. Karena itu hukumannya cukup dengan diusir dari Madinah ke Thaif. Menariknya, di Thaif banyak sekali aliansi-aliansi Bani Umayyah, terutama dari Bani Tsaqif. Jadi diusirnya al-Hakam ke Thaif bisa dikatakan hukuman yang amat ringan.

Kendati al-Hakam yang merupakan leluhur raja-raja Bani Umayyah ini dilaknat Nabi, namun menariknya keturunan al-Hakam bin Abi al-Ash sendiri kelak di masa negara Bani Umayyah banyak yang berjasa terhadap Islam. Marwan bin al-Hakam dan anaknya yang bernama Abdul Malik bin Marwan merupakan deretan khalifah yang secara kredibilitas keagamaan diakui di kalangan Sunni. Imam Malik dalam al-Muwattha’ tidak jarang banyak menimba inspirasi ijtihadnya dari Abdul Malik bin Marwan ini.

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Rabiul Awal menjadi salah satu perayaan terbesar umat Islam seluruh dunia. Dipenghujung bulan maulid ini umat muslim masih sibuk berlomba-lomba merayakan hari kelahiran baginda Nabi Muhammad saw. Sayangnya, baru-baru ini umat Islam sedang dilanda krisis rohani, ihwal karikatur Nabi Muhammad saw dan pemenggalan seorang murid terhadap gurunya. Dua kasus ini lah yang kemudian menyulut api dikalangan mayoritas umat islam seluruh dunia hingga mengkampanyekan boikot besar-besaran. (Baca: Bagaimana Memahami Konteks Hukuman Bagi Para Penista Nabi?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here