Bagaimana Islam Memandang Menjaga Privasi?

0
215

BincangSyariah.Com – Sebelum kita membahas lebih dalam tentang judul diatas, baiknya lebih dahulu kita mengetahui devinisi dari kata akhlaq itu sendiri. Sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari bahwasannya kata akhlaq adalah bentuk jama’ dari kata khuluqun yang berarti ‘kelakuan yang terjadi tanpa adanya pertimbangan’. Maksud dari definisi akhlak tersebut adalah kelakuan yang timbul dari hati manusia yang muncul tanpa dibuat-buat, yang sering kita sebut dengan tabiat. Kalau sudah menjadi tabiat maka susah untuk dirubah, meskipun terdapat beberapa orang yang akhlaqnya berubah karena terbawa oleh teman-teman, ataupun lingkungan. Kita bisa saja mengetahui karakter seseorang dari kelakuanerbuatannya, bisa juga dengan menanyakan kepada teman-temannya, seperti yang diutarakan dalam kitab ta’limul muta’alim yang berbunyi:

 عن المرء لا تسئل وأبصر قرينه # فإن القرين بالمقارن يقتدى

jika kalian ingin mengetahui sifat seseorang maka lihatlah dengan siapa mereka berteman, karena sesungguhnya pertemanan itu saling mengikuti”

Hal ini sesuai dengan kenyataan di lapangan, bahwa pertemanan memang sangat berpengaruh terhadap akhlak seseorang. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa manusia sebagai makhluq sosial memang membutuhkan teman untuk mewarnai hidupnya, tetapi sebagai teman yang baik sebaiknya saling menjaga privasi satu sama lain, janganlah menyebarkan hal-hal yang dianggap sebagai privasi, sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Imam Muslim yang berbunyi:

وعن أَبي سعيد الخدري – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( إنَّ مِنْ أشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ القِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى الْمَرْأةِ وتُفْضِي إِلَيْهِ ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا )) رواه مسلم

Dari Abu Said al-Khudri r.a., dia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya termasuk manusia terjelek kedukannya di sisi Allah pada hari kiyamat adalah seorang laki-laki yang mendatangi perempuannya dan bersetubuh, kemudian dia menyebarkan rahasianya (H.R. Muslim)

Baca Juga :  Mengajar tapi Tidak Mengamalkan Ilmu? Ini pesan Nabi

Kemudian pada pembahasan yang sama juga terdapat hadis yang berbunyi:

وعن ثابت عن أنس رضي الله عنه قال: أتى علي رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا ألعب مع الغلمان فسلم علينا فبعثني في حاجة فأبطأت على أمي فلما جئت قالت ما حبسك فقلت بعثني رسول الله صلى الله عليه وسلم لحاجة قالت ما حاجته؟ قلت إنها سر قالت لا تخبرن بسر رسول الله صلى الله عليه وسلم أحدا قال أنس: والله لو حدثت به أحدا لحدثتك به يا ثابت. رواه مسلم وروى البخاري بعضه مختصرا.

Hadits diatas menceritakan bahwasannya ketika sahabat Anas bermain dengan dua laki-laki, Rasulullah datang dan mengucap salam kepada mereka, lalu Rasulullah mengutus Anas untuk sebuah kebutuhan, maka dari itu Anas terlambat menghampiri ibunya. Setelah sampai, ibunya bertanya: apakah yang menahanmu? Anas menjawab: Rasulullah mengutusku untuk sebuah kebutuhan, sang ibu pun bertanya: apakah kebutuhannya? Anas menjawab: hal itu adalah rahasia, ibunya pun berkata: janganlah kau memberitakan rahasia Rasulullah kepada seorangpun! (H.R. Muslim)

Kedua hadis diatas menunjukkan bahwa tidak diperbolehkannya menyebarkan rahasia apapun kepada orang lain, meskipun kepada orangtuanya sendiri, karena hal itu adalah rahasia manusia. Didalam kitab Dalil al-Falihin menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan menyebarkan rahasia itu tidak hanya menyebarkan rahasianya saja, tetapi juga menjelaskan secara rinci terhadap apa yang terjadi pada waktu berhubungan biologis, mulai dari muqaddimahnya, dan seterusnya. Kemudian didalam kitab Umdatul Qari,

Imam Badruddin al-‘Aini juga menjelaskan bahwa maksud dari kalimat menjaga rahasia adalah tidak menyebarkan rahasia dan menampakkannya karena hal itu adalah amanah, dan menjaga amanah adalah wajib dan termasuk akhlaq dari orang mukmin. Imam al-Muhlab berkata “ahli ilmu menyatakan bahwasannya rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika rahasia itu merupakan bahaya bagi yang mempunyai rahasia tersebut”, dan kebanyakan ahli ilmu berkata “ketika yang memiliki rahasia itu meninggal maka tidak wajib untuk menyembunyikannya sebagaimana ketika ia hidup, kecuali ketika hal itu merendahkan agamanya”.

Baca Juga :  Tahukah Apa Keluh Kesah yang Disukai Allah? Kenali Dua Macam Keluhan Menurut Ibnu Qayyim Ini

Imam ad-Dawidi berkata: “pembahasan disini adalah tidak seharusnya menyebarkan rahasia setelah kematiannya, berbeda dengan Fathimah r.a karena rahasia beliau adalah rahasia yang dibawa mati. Selain menjaga rahasia orang lain, kita sebagai makhluq sosial yang mengetahui sopan santun terhadap sesama haruslah saling menjaga perasaan, karena selain hak, manusia juga mempunyai kewajiban. Berbicara tentang hak dan kewajiban, manusia tidak hanya harus patuh terhadap hukum saja, tetapi juga harus patuh terhadap etika. Salah satu praktek kepatuhan terhadap etika adalah dengan tidak menyebarkan rahasia seseorang kepada orang lain.

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan hadis yang diriwayatkan dari Imam Abu Hurairah r.a., yang berbunyi:

وعن أَبي هريرة رضي الله عنه : أنَّ النبيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : (( كَفَى بالمَرْءِ كَذِباً أنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ )) . رواه مسلم

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwasannya Nabi saw bersabda: “Cukuplah seseorang disebut pendusta jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar (H.R. Muslim)

Hadis diatas memakai redaksi kata segala yang berarti bahwasannya seseorang tersebut tidak memandang hal itu termasuk hal yang pantas untuk dipublikasikan atau tidak. Hadis ini berkaitan dengan dua hadis diatas yang menjelaskan tentang tidak diperbolehkannya menyebarkan rahasia kepada siapapun.

Dari ketiga hadis diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwasannya kita harus berhati-hati dalam menjaga sikap terhadap sesama, saling percaya, menjaga apapun yang diketahui sesamanya, dan tidak menyebarkannya, apalagi menjelek-jelekkannya. Contohnya adalah tidak menyebarkan rahasia sesama teman, karena menjaga rahasia orang lain sama halnya dengan menjaga rahasia diri sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here