Bagaimana Islam Memandang Kesenian? Kesenian sebagai Keindahan Hidup (3)

0
283

BincangSyariah.Com – Istilah keindahan hidup ini saya terjemahkan langsung dari istilah at-tahsiiniyyat. Istilah ini sebenarnya merujuk kepada hirarki prioritas yang dikenal dalam kajian ilmu Maqashid as-Syari’ah, ilmu yang mengulas tentang hakikat dan tujuan syariat Islam itu. Dalam kajian maqashid as-syari’ah, semua aktivitas yang dilakukan manusia itu, selama ia tergolong kemaslahatan, dikelompokkan menjadi tiga jenjang. Pertama adalah dhoruriyyat (kemaslahatan primer); haajiyyat (kebutuhan yang sifatnya sekunder); dan tahsiniyyat (kebutuhan yang sifatnya memperindah). Hal-hal primer itu dalam khazanah Islam dikenal sebagai dhoruriyyatu al-khams (lima kebutuhan primer). Lalu bagaimana Islam memandang kesenian? Sebagai sebuah aktivitas, dimasukkan ke dalam kelompok apa kesenian itu?

Ar-Raysuni dalam bukunya al-Ummatu hiya al-Ashlu mencatat bahwa jika ingin menilai kesenian dalam kerangka hirarki kemaslahatan, tanpa menyelam lebih jauh kepada detail-detail serta kondisi-kondisi yang meliputanya, maka prinsipnya kesenian itu dikategorikan sebagai kemaslahatan yang sifatnya tahsini. Saya memilih istilanya, memperindah hidup. Dan, apa yang menjadi keindahan hidup itu adalah sesuatu yang direstu oleh agama. Alasannya adalah, Islam tidak hanya membenarkan yang masuk ke dalam kategori dhoruri saja, hal-hal yang sifatnya partikular namun memperindah kehidupan itu juga dibenarkan.

Lanjut Ar-Raysuni, dalam ayat Al-Qur’an ada banyak sekali yang menjelaskan bahwa Allah membenarkan, merestui, bahkan melarang untuk menghalangi adanya keindahan. Misalnya, Allah Swt. menegaskan bahwa langit dan bintang-bintang itu adalah telah Allah ciptakan sebagai hiasan. Atau dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa keindahan bumi beserta yang tumbuh subur dari tanahnya adalah keindahan dan sarana Allah menjadikan manusia selalu tersingkap pandangannya mengenai keberadaan Allah.

Meski, di sisi lain memang Allah Swt. juga menyebut-nyebut bagaimana kesenian itu diberikan catatan yang mengarah pada pelarangan. Pesannya adalah, jangan sampai yang kategorinya sebagai keindahan atau yang memperindah justru yang paling utamakan hingga larut di dalamnya. Dan, orang jadi tidak lagi melakukan yang masuk ke dalam kategori hajiyat bahkan dhoruri tadi. Karena itu mengapa Allah sering menyebut lalu membandingkan antara zinatu al-hayat ad-dunya (hiasan kehidupan dunia) dan zinatu al-aakhirah (hiasan akhirat).

Baca Juga :  Mengapa Kita Harus Beribadah pada Allah?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here