Bagaimana Islam Memandang Kesenian? Kesenian sebagai Hiburan (1)

2
221

BincangSyariah.Com – Sebenarnya bagaimana Islam memandang kesenian? Kita tahu bahwa dalam perjalanan panjang peradaban manusia, termasuk peradaban dimana Islam menjadi agama mayoritas, di dalamnya terdabat perkembangan kesenian yang menakjubkan. Mulai dari kesenian di bidang arsitektur, sastra, musik, sampai seni lukis juga ikut berkembang. Di sisi lain, sebagian dari muslimin ada juga yang menyimpulkan bahwa kesenian, dalam pendapatnya bahwa kesenian itu melalaikan, menyimpulkan bahwa seni itu perkara yang tidak bermanfaat bahkan diharamkan. Salah satu seni yang sering dijadikan sasaran adalah seni music karena berdasarkan ayat Al-Qur’an, ia tergolong Lahwu al-Hadits (ucapan main-main). Tapi, adakah yang tidak berpendapat demikian?

Syaikh Ahmad ar-Raysuni, pakar hukum Islam asal Maroko dalam bukunya al-Ummatu Hiya al-Ashlu, menulis satu ulasan berjudul at-Takyif al-Fiqhi li Mas’alati al-Fann (Pandangan Fikih terhadap Persoalan Seni) (h. 77-94) mencoba mengkonstruksi pandangan fikih mengenai seni ini.

Menurutnya, dalam Al-Qur’an, jika kita sepakat menggolongkan kesenian ke dalam persoalan al-Lahwu (permainan), maka bagaimana kita melihat permainan itu? Atau kita melihat seni sebagai sebuah kenikmatan hidup, layaknya manusia umumnya menikmati kelezatan dan ada keinginan (syahwat) untuk mencapainya? Atau kita melihat seni sebagai kebutuhan tambahan (at-tahsiniyyat) yaitu kebutuhan untuk menikmati keindahan? Atau kita melihat seni sebagai sarana mencapai tujuan tertentu? Jika melihatnya demikian, ada banyak para ahli fikih yang menjelaskan bahwa hukum suatu sarana itu tergantung tujuan pemakaiannya. Menurut Ar-Raysuni, keempat unsur tersebut sebenarnya tersedia dalam sebuah kesenian.

Kesenian Sebagai Hiburan

Dalam surah at-Thariq ayat 13-14, Allah Swt. berfirman bahwa,

إنه لقول فصل (١٣) وما هو بالهزل

sesungguhnya Al-Qur’an itu pernyataan yang tegas (13) Ia bukanlah pernyataan yang main-main.

 Firman ini, tegas ar-Raysuni, menunjukkan bahwa apa yang diajarkan oleh agama bagi manusia dalam kehidupannya ini adalah sesuatu yang serius, tegas arah dan tujuan, serta bukan sebuah permainan.

Baca Juga :  Pesan Rasulullah saw. kepada Khalid bin Sa'id yang Hendak Masuk Islam

Namun, pertanyaannya adalah – lanjut ar-Raysuni – apakah semua yang kita sebut permainan (al-hazl) termasuk di dalamnya hiburan atau yang dalam bahasa kita hari ini disebut refreshing itu terlarang sama sekali? Memang dalam kehidupan ini sebenarnya kita dituntut untuk serius, tapi bukan berarti Islam melarang kita untuk menikmati sebuah hiburan, termasuk di dalamnya kesenian.

Untuk menegaskan penjelasan ini, dalam sebuah hadis riwayat at-Tirmidzi dan Ahmad, dari ‘Uqbah bin ‘Amir, Rasulullah Saw. bersabda,

كل ما يلهو به الرجل المسلم باطلٌ إلا رميه بقوسه، وتأديبه فرسه، وملاعبته أهله فإنهن من الحق

Semua yang menjadi hiburan seorang muslim (laki-laki juga perempuan) itu tidak ada pahalanya, kecuali ia memanah dengan busur, ia melatih dirinya berkuda, atau ia bersenang-senang dengan pasangannya. Itu semua tergolong al-haqq (yang mendapatkan pahala).

lakum dinukum

Kata bathil dalam penafsiran para ulama terhadap hadis itu tidak menjelaskan bahwa hiburan itu sifatnya jelek. Hanya saja, ia bukan sesuatu yang mendapatkan pahala namun boleh-boleh saja dilakukan dengan batas yang wajar. Yang berpendapat demikian misalnya Ibn Taymiyyah dan as-Syaukani dalam Naylu al-Awthar.

Lanjut ar-Raysuni, menurut Abu Bakar ibn al-‘Arabi, sebenarnya yang disebut tergolong al-Haqq dalam hadis diatas tidak menunjukkan bahwa yang mendapatkan pahala hanya tiga hal (dalam hadis lain ada empat, ditambah dengan belajar berenang) itu saja. Itu hanya menunjukkan kepada hal-hal yang di masa Nabi menjadi perkara-perkara yang jelas manfaatnya di masyarakat.

Contoh lain, pernah suatu ketika kerabat perempuan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menikah. Diriwayatkan kalau itu adalah anak saudarinya. Dalam riwayat al-Bukhari, wanita itu dalam pengurusan ‘Aisyah Ra. dan beliau menikahkannya dengan seorang pemuda Madinah. Rasulullah Saw. lalu bersabda,

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Zikir pada Allah Lebih Baik Dari Dunia dan Seisinya

يا عائشة، ما كان معكم لهو، فإنّ الأنصار يعجبهم اللهو

Wahai ‘Aisyah, hiburannya di (pernikahan) kalian ini tidak ada? Padahal orang Anshar itu senang dengan hiburan

Hadis ini menjadi dasar – menurut Ar-Raysuni – bahwa Nabi Saw. mengapresiasi adanya hiburan untuk acara-acara tertentu. Hiburan yang sudah ada bahkan sebelum masa Nabi Saw. Nabi mengapresiasi adanya hiburan di acara-acara tertentu karena hikmahnya adalah itu menjadi simbol acara, misalnya acara pernikahan. Al-Lahwu yang dalam penjelasannya disbeut sebagai wanita-wanita yang menabuh rebana, membuat acara menjadi semarak dan membahagiakan mereka yang sedang dirayakan pernikahannya. Dengan demikian, hiburan itu menjadi pendukung agar acara pernikahan menjadi semakin membahagiakan pasangan.

Beberapa hadis diatas menjadi basis dalil bahwa di dalam Islam kesenian sebagai sebuah hiburan itu diperbolehkan jika diarahkan untuk hal-hal yang bermanfaat selama ia tidak bertentangan dengan hal-hal yang tegas hukumnya atau bertentangan dengan hal-hal yang memuliakan manusia.

Wallahu A’lam

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here