Bagaimana Islam Memandang Kesenian? Kesenian sebagai Hasrat Kemanusiaan (2)

0
137

BincangSyariah.Com – Setelah kemarin dibahas bagaimana Islam Memandang Kesenian dengan kesimpulan bahwa sejatinya Nabi Saw. sendiri tidak mencoba menghalangi keberadaan kesenian sebagai sebuah hiburan selama diarahkan untuk hal-hal yang memiliki faidah dan manfaat. Bahkan ketika dalam pelaksanaan hiburan itu tidak ada unsur berzikir kepada Allah, sebagian ulama menyimpulkan kalau itu tidak berarti dilarang meskipun tidak ada nilai pahalanya.

Kesenian jika dilihat dari bagaimana ia memberikan efek kepada pelaku serta penikmatnya, dapat dilihat sebagai sebuah kebutuhan memenuhi hasrat kemanusiaan. Dalam bahasa Ar-Raysuni, ia mengistilahkan dengan kata as-Syahwat dan al-Maladdzah, yang intinya adalah sesuatu yang bisa diperoleh menjadi merasa nikmat dan mengenakkan. Secara sederhana contohnya adalah hasrat untuk memakan makanan yang enak; minum minuman segar; bahkan ketertarikan kepada lawan jenis. Lalu sebelum berlanjut ke berbicara kesenian sebagai bentuk hasrat kemanusiaan, bagaimana Islam melihat syahwat?

Biasanya kata syahwat sering diasosiakan maknanya kepada hal-hal yang negatif. Mulai dari syahwat seksual, syahwat politik, dan masih banyak lagi. Rupanya, Al-Qur’an tepatnya dalam surah Ali ‘Imran [2] ayat 14 menjelaskan bahwa manusia memang diberikan sifat merasa puas jika bisa memenuhi hasrat (keinginan),

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ

“Dibuat indah bagi manusia, mencintai aneka hasrat …”

Dalam ayat tersebut, disebutkan beberapa contoh hasrat, misalnya hasrat kepada lawan jenis, hasrat memiliki keturunan, hasrat memiliki kekayaan seperti emas dan perak, lahan, sampai hewan-hewan ternak.

Selanjutnya pentingnya juga dijelaskan bahwa berjalannya kehidupan muka bumi ini, semuanya sebenarnya bersumber dari hasrat manusia. Manusia berhasrat makan, minum, berkembanglah aneka jenis makanan dan minuman dan terus dijaga agar hasrat itu terus terpenuhi. Manusia berhasrat biologis kepada lawan jenisnya, maka manusia dan semua makhluk hidup lainnya juga demikian, terus memiliki keturunan. Bahkan hasrat untuk memimpin pun juga ikut berkontribusi dalam keberlangsungan kehidupan. Jika tidak ada yang berhasrat memimpin, manusia akan terus tidak ada yang mau memimpin dan dipimpin, sehingga tidak bisa ada keseimbangan.

Baca Juga :  Bagaimana Al-Qur'an Menggambarkan Kesombongan ?

Seperti dijelaskan dalam melihat hiburan, Islam hadir menegaskan semua hasrat itu boleh, namun sesuai batasan. Tidak bisa dipungkiri kalau semua yang disebutkan di paragraf sebelumya ini tergolongan kebutuhan yang harus dipenuhi (dharuriyyah). Namun, jika sudah terpenuhi maka kita tidak boleh melampaui batas.

Secara konkrit misalnya, jika seseorang berhasrat untuk makan dan minum, agama mengajarkan nilai-nilai agar tidak rakus dan berlebihan. Jika berhasrat kepada lawan jenis, buatlah komitmen yang kuat dalam bentuk pernikahan dimana ada jaminan hak dan kewajiban yang jelas dan mengangkat martabat kemanusiaan. Bahkan hasrat untuk memimpin harus dikendalikan lewat mewujudkan rasa keadilan dan tidak semena-mena atau lalim. Di satu sisi Al-Qur’an menyebut syahwat sebagai fitrah keindahan bagi manusia, di lain waktu Al-Qur’an menyuruhnya untuk mengendalikan. Ini seperti disebut dalam surah an-Nazi’at [79] ayat 40,

 وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ  

Dan adapun orang-orang yang takut terhadap keberadaan Tuhannya dan mencegah dirinya dari menuruti hawa (nafsu)

Lewat ayat ini, Allah memuji orang yang mengendalikan syahwatnya agar tidak melampaui batas. Karena itulah, syahwat itu tidak buruk secara mutlak tapi tetap harus dijaga batas-batasnya. Al-Qadhi Abu Bakar Ibn al-‘Arabi pernah menyatakan,

إنّ الباري سبحانه ببديع حكمته لما خلق لنا ما في الأرض جميعا، قسّم الحال فيه، فمنه ما أباحه على الإطلاق، ومنه ما أباحه في حال دون حال، ومنه ما أباحه على وجه من دون وجه. فأمّا أن يكون في الأرض ممنوع لا تتطرّق إليه إباحة في حال ولا على وجهٍ، فلا أعلمه الآن

Sesungguhnya Allah Swt. dengan agungnya kebijaksanaan-Nya, ketika Dia menciptakan untuk kita semua yang ada di bumi ini, Dia membagi kondisi-kondisi pada masing ciptaan itu. Ada yang dibolehkan secara mutlak pada kita. Ada yang dibolehkan pada satu kondisi, tidak dalam kondisi yang lain. Ada juga yang Dia bolehkan dengan satu cara saja tidak dengan cara yang lain. Maka adapun apakah ada di bumi ini yang dilarang semutlak-mutlaknya, tidak ada kondisi atau cara yang membuatnya boleh dimanfaatkan, maka (sampai) sekarang saya tidak tahu.

Dari penjelasan ini semua, kesenian sebagai bagian dari ingkup besar hasrat manusia harus juga dilihat demikian. Ia tidak mutlak haram selama batas-batas yang dibenarkan, seperti digambarkan oleh pendapat Ibn al-‘Arabi diatas. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here